
*Dokter Irsyad telah menggugat cerai!
Kata siapa?
Farah sendiri yang menuliskan di insta storynya, dibuat mode close friend aja.
Bilang gimana emang?
Berbahagialah dengan Mantan kamu, meski terus mengabaikan cinta tulus. Good bye, and thank you ......
Kasihan Farah.
Dokter Irsyad kok tega sih.
Farah, gadis yang baik*.
Begitulah komentar yang ditunjukkan oleh Mita di room chat yang ia dapat dari salah satu perawat.
Sha hanya menghela nafas panjang, rasanya sudah bosan berkutat dengan masalah Irsyad. "Kayaknya gue harus punya pasangan, biar Irsyad dan semua orang yang menuduh gue tuh melek kalau gue bisa hidup tanpa Irsyad."
"Sama gue!" ucap Arsyad sembari menatap layar laptop. Mita tertawa mendengar jawaban spontan bos Sha itu, tanpa pikir panjang lagi. Seakan wanita terbaik buat hidupnya adalah Sha.
Sedangkan Sha hanya mendengus kesal. "Heran deh sama bos ini, padahal udah gue tolak loh, Mit. Masih mengharap." Sha kesal, Arsyad bukanlah pria idaman dalam hidup Sha. Dia terlalu sempurna kalau dijadikan suami, jurang perbedaan Sha dan Arsyad kentara sekali.
"Jodoh kali," ceplos Mita yang langsung mendapat tabokan di lengannya.
"Aamiin," sahut Arsyad. Sha hanya melirik sebal.
"Udah jadian aja sama, Arsyad. Udah ngintil terus gitu," saran Mita dengan cekikikan. Sha hanya mencebik, apalagi Arsyad menatap Sha dengan tatapan kagum. Membuat salah tingkah saja.
"Cieleh, salting tuh Syad!" ledek Mita yang membuat Sha malu-malu, sangat menggemaskan. Gadis itu hanya menundukkan kepala, menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Aslinya udah naksir aku kan?" goda Arsyad sembari mencolek lengan Sha. Tapi Sha sebal akhirnya menepis colekan Arsyad, sedangkan Arsyad dan Mita tak kuasa menahan tawa.
"Emang kamu gak takut ya aku buat pelarian?" tanya Sha tiba-tiba dengan menatap Arsyad.
"Biasa aja, dibuat pelarian doang palingan di awal lama-lama juga cinta. Pesonaku luar biasa loh," sungguh narsis anak Pak Wira ini ya. Tanpa dikomando, Sha dan Mita berlagak muntah.
"Dah ah, silahkan dilanjutkan tembak menembaknya. Rayu merayunya, gue balik bosen jadi obat nyamuk percintaan Sha."
"Idih, kapan gue jadiin loh obat nyamuk," protes Sha tak terima. Perasaan Sha dan Irsyad dulu jalan sama Mita dan mantannya, double date juga. Gak setega itu menjadikan Mita hanya obat nyamuk.
Sepeninggal Mitaz keduanya terdiam, Arsyad masih fokus ke layar laptop, Sha kadang mencuri pandang ke Arsyad. "Ganteng ya?" ujar Arsyad sembari menutup laptopnya. Sha gelagapan, keciduk dan rasanya malu sekali. Sok sok an menolak terus, tapi diam-diam memperhatikan.
__ADS_1
"Bukan ganteng sih, cuma mau memastikan udah selesai apa belum. Ayo pulang."
"Minta antar?" goda Arsyad semakin senewen dan membuat Sha sebal.
"Enggak. Kalau masih lama aku mau pamit aja," jawab Sha ketus.
Arsyad hanya tersenyum tipis. Ia kemudian menyodorkan ponselnya, tertera nama kontak ❤❤❤. Tentu Sha mengerutkan dahi, maksudnya apa disodorin ponselnya. "Angkat aja, mama aku."
"Lah kenapa aku yang angkat sih," protes Sha.
"Aku lagi merapikan laptop juga, tanganku sibuk."
"Angkat sendiri. Ini bukan kantor, gak wajib buat nurut sama kamu."
Arsyad hanya mendengus sebal, berani menolak Sha nya ini. "Halo, Maa!" sapa Arsyad yang kemudian merubah sapaan dengan salam.
"Sama Sha di Cafe. Kenapa sih?" tanya Arsyad heran dengan sang mama yang menanyakan posisinya sekarang.
"Ouh calon istri," sahut mama diiringi cekikikan.
"Iya calon istri," jawab Arsyad sembari melirik gadisnya yang melotot.
"Nenek kamu pengen ketemu sama Sha, beliau baru datang dan menginap di rumah sampai tiga hari, bawa dia ke sini dong," jelas mama di seberang.
"Ngomong sendiri dah," Arsyad tak mau memutuskan. Sha bukan perempuan yang gampang diajak ke rumah cowok. Lebih baik sang mama bicara langsung.
"Sha...Sha...Lethisa," panggil mama Arsyad yang belum mendapat sahutan dari pemilik nama.
"I-Iya Nonya!" balas Sha sedikit gugup.
"Hei...kok panggil Nyonya sih, kan calon istri Arsyad. Panggil mama dong, ayo coba ulangi," Sha tertegun. Tak berani berucap, ia hanya bisa melotot pada Arsyad yang seenaknya saja kasih cap calon istri.
"Hem tidak sopan Nyonya," ucap Sha beralasan. Lidahnya terlalu keluh memanggil sebutan keramat itu.
"Ya udah deh, belajar dulu aja. Mama pasti kasih restu kok," lanjut beliau dengan cerewetnya. Sha hanya menjawab iya, pelan lagi.
"Mampir dulu ke rumah ya, ada nenek mau ketemu kamu Sha," pinta mama dengan tegas.
"Gimana ya Nyonya, sudah malam."
"Hem...masih sore ini. Janji deh gak malam, nanti diantar Arsyad juga. Plis.."
Sha bimbang, ia ingin menolak. Apalagi ini ke rumah laki-laki, tentu kalau pamit pada ibu akan diceramahi lama. "Maaf, Nyonya. Saya sudah janji sama ibu untuk pulang lebih cepat." Sha masih ingat betul saat berjanji tidak gampang diajak ke rumah seorang pria. Harus menjaga adat timur, gak baik kalau seorang perempuan keseringan di rumah laki-laki.
__ADS_1
Sha pun mengembalikan ponselnya. "Jadi?" tanya Arsyad menunggu keputusan Sha.
"Pulang. Nenek kamu datang, mending aku naik taksi online aja biar kamu cepat sampai rumah."
"Gak lah, mengantar calon istri dulu baru pulang."
Sha kembali memutar bola matanya malas, "Calon istri calon istri, aku belum punya wali loh."
"Wali hakim dong." Masih berusaha membujuk Sha agar mau menjadi calon istrinya.
"Gak afdhol kali kalau ayahku masih ada, trus menggunakan wali hakim," sedangkan Sha masih berusaha keras apapun caranya menolak lamaran Arsyad.
"Banyak alasan," cibir Arsyad tahu jalan pemikiran Sha. Salahnya juga yang terlalu pepet terus sampai Sha bosan dan tak menanggapi dengan serius. "Emang ayah kamu di mana?" sebuah pertanyaan yang mencairkan suasana dalam mobil itu.
Sha hanya mengedikkan bahu, "Tak tahu."
"Trus aku harus mencari di mana, kalau anaknya saja gak tahu."
"Iya...ya, Syad. Kalau aku nikah nanti bagaimana kalau keberadaan ayahku saja tidak tahu."
"Mau aku bantu?" tawar Arsyad.
"Maksudnya?"
"Aku sudah menonton video kamu dengan Bu Rahmi, dan aku yakin beliau adalah ibu kamu dan yang diceritakan adalah masa lalu dengan ayahmu, benarkan?"
Sha mengangguk saja, bersama Arsyad permasalahan dan bimbangnya selalu menemukan jalan keluar. Sha sampai berpikir kenapa Arsyad bisa sepeka itu. Dianya yang sangat perhatian begini mengingatkan pada sikap Irsyad juga. Ah....kenapa harus punya kepribadian yang hampir sama sih, gerutu Sha.
"Syad, kenapa lo semakin hari semakin mirip dengan Irsyad. Apa kamu berniat menjadi dirinya hingga aku mau sama kamu?" selidik Sha tak nyaman. Ia sangat berharap orang yang menyukainya memiliki sifat yang berbeda, sudah cukup ia dibelenggu oleh Irsyad.
"Berbeda Sayang. Aku sangat berbeda dengan Arsyad?"
"Oh ya?"
Arsyad mengangguk, "Kenali aku lebih dekat lagi, bukalah hati kamu buat aku, agar kamu tahu perbedaan sifat antara aku dan Irsyad."
"Harus? Kamu yakin gak merasa aku jadikan pelarian?"
Arsyad menggeleng, "Seandainya aku menjadi pelarianmu, mungkin kamu sudah menerimaku sejak kita bertemu. Dan aku tidak akan menjadi seperti laki-laki putus asa yang mengharapkan cinta kamu."
"Syad?"
"Gak usah baper, aku sayang sama kamu dengan caraku sendiri."
__ADS_1
Sha meneteskan air mata, "Kenapa lo baik banget sama gue sih, gue gak suka. Gue belum bisa balas kebaikan kamu, Syad. Hu..hu." Sha menangis dengan menangkup wajahnya.
Arsyad hanya mengamati, lalu menarik pelan tubuh gadis itu dalam dekapannya. Arsyad sangat sayang, meski ditolak ia yakin suatu saat Sha akan luluh. Sedangkan Sha sendiri tak tahu sampai kapan siap menerima cinta yang baru.