
Heh....perempuan gak tahu diri. Kemarin merusak hubunganku dengan Irsyad sekarang merusak hubungan papa dan mamaku. Itu pasti serah terima harta.
Farah langsung menghampiri Sha saat di parkiran. Arsyad mengambil mobil lebih dulu dan Sha diminta menunggu di teras parkiran saja. "Kamu pinter banget ya? Sok alim sok baik ternyata gila harta!"
Sha menoleh, karena ia juga tidak sadar kapan Farah berdiri di sampingnya. "Ngomong sama gue?" tanya Sha dengan santai. Farah hanya melirik sinis.
"Irsyad buta banget, gak bisa bedakan perempuan tulus atau perempuan matre," lanjut Farah masih mengungkit Irsyad. Sha hanya bersedekap, mobil Arsyad sudah di depannya. Tak lupa senyum tipis nan manis ia berikan pada 'adiknya'.
"Sebelum ngejudge gue matre atau apapun, silahkan temui bapak kamu di dalam, tanyakan detail siapa saya. Hingga otak cerdas kamu bisa mikir kenapa Irsyad begitu cinta mati sama gue," balas Sha pedas. Ia langsung pergi, masuk ke mobil Arsyad dengan wajah cemberut. Arsyad bingung, siapa perempuan yang mengajak istrinya bicara barusan.
"Teman?" tanya Arsyad.
"Bukan."
"Terus?"
"Adik, perebut pacar orang, otw mantan istri Irsyad!"
Arsyad tertawa, "Detail banget, dendam juga kayaknya."
"Habis dia tuh selalu mikir aku yang bikin Irsyad cinta mati, padahal aku gak pernah menanggapi Irsyad setelah mereka menikah. Dia cinta bertepuk sebelah tangan, makanya nyalahin orang. Punya adik kok senewen begitu. Terlalu bodoh mengemis cinta, gak mandiri banget. Emang cowok hanya Irsyad. Kalau gak dicintai ya lepas aja."
__ADS_1
Arsyad menahan salivanya kasar, perasaan aku cuma tebak ada dendam, tapi kok balasannya sepanjang itu.
"Ya kan cewek prinsipnya beda-beda, Yang!" balas Arsyad menanggapi.
"Iya sih. Dia mau bodoh karena cinta atau mencari bahagia dengan cinta baru, pilihan dan memang dibutuhkan hati yang lapang untuk menerima cinta. Bisa jadi perjalanan cinta tak sesuai harapan."
"Ih...pintar banget sih," goda Arsyad sembari mengelus rambut sang istri. Keduanya sekarang mau menuju hotel. Di rumah sepi. Keluarga sang kakak sudah balik ke rumahnya sendiri. Mama dan papa lagi mengunjungi pabrik di Batam. Lebih baik staycation aja.
"Gimana perasaan kamu?" tanya Arsyad saat Sha fokus dengan ponselnya.
"Perasaan pada siapa? Kamu? Makin cinta," jawabnya dengan tatapan penuh pada Arsyad. Tangan bebas Arsyad menoel pipi mulus Sha.
"Apaan sih. Ingat, Bi. Jangan terlalu banyak nanti, besok kita kerja khawatir telat."
"Gak pa-pa, sesekali telat no problem!"
"Iya kamu, aku?"
Arsyad menoleh pada sang istri yang saat ini masih status istri tersenyembunyi. Hanya anak devisi keuangan yang tahu status pernikahan mereka, dan mungkin saja setelah pelukan di depan loby kemarin muncul gosip murahan.
"Biarin aja mereka tahu, kalau kamu istriku."
__ADS_1
"Marah, kecewa, nangis kejer bahkan mewek sambil guling-guling juga bisa," lanjut Sha sambil tertawa membayangkan ekspresi para fans fanatik Arsyad bila dia adalah pria beristri.
"Udah ah. Biarin, mereka suka sama aku kan wajar. Yang penting aku gak menanggapi," ucap Arsyad yang diangguki oleh Sha.
Sha juga tidak akan marah kalau hanya sekedar nge-fans dan mengagumi kegantengan sang suami, asalkan tidak melebihi batas hingga bercita-cita menjadi pelakor.
"Kembali ke topik, gimana perasaan kamu setelah kejadian ini?" tanya Arsyad menatap mata Sha dalam. Mobil sudah di basement hotel, tapi Arsyad tak berniat keluar. Selagi masih di mobil ia akan membicarakan hal yang menyakitkan hati, karena kalau sudah di dalam kamar hotel Arsyad hanya mau Sha tanpa ada beban yang mengganjal.
"Lega, dan ya sudah. Aku bisa bernafas lega. Udah gak mau berhubungan dengan keluarga mereka lagi, dan tak berniat berhubungan juga."
"Usahakan memaafkan juga sayang, kalau hati kamu gak baik nanti aku juga kena dosa karena gak bisa membimbing kamu."
"Untuk itu, buat aku lupa dengannya hingga akhirnya hatiku bisa berdamai dengan masa lalu."
Arsyad mengangguk, "Pasti!"
"Caranya?"
"Bikin anak, ayo!" bisik Arsyad sambil menyempatkan menyesap bibir manis Sha lalu keluar dari mobil. Mengambil tas ransel, lalu merangkul pundak Sha. Keduanya berjalan dengan tawa yang tak pernah lepas di wajahnya.
Menuju resepsionis, Arsyad menunjukkan kode booking kamarnya. Mereka kemudian masuk lift dengan posisi tetap, Arsyad merangkul mesra pundak sang istri. Bahagianya mereka tak sejalan dengan sepasang mata yang berhasil mengabadikan moment mesra Sha dan Arsyad masuk hotel.
__ADS_1