JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
SIDANG


__ADS_3

Marsa tertawa sinis, Sha menikah dengan Arsyad? Kok lucu sekali. "Gak usah halu napa! Kamu kalau mau bohong pinteran dikit napa Sha, kamu bohong sama perempuan polos mungkin mereka percaya. Tapi enggak sama aku. Aku tahu lah bagaimana belangnya perempuan kayak kamu," cecar Marsa dengan judesnya.


Sha hanya menaikkan alis, tak perlu membahas, langsung saja mendial nomor ponsel Arsyad. Meski ia tahu Arsyad sedang meeting dengan papa dan Danu.


"Iya Sayang, aku lagi meeting sama papa. Kamu butuh apa?" tanya Arsyad lantang, dan Marsa dengar jelas dengan sedikit melotot. Bos ganteng menjawab panggilan secara cepat, saat rapat lagi. Hubungan mereka spesial lagi.


"Enggak, aku mau tanya nih. Kita dulu nikah tanggal berapa ya? Mita tuh tanya," jelas Sha memancing agar Arsyad menjawab.


Arsyad langsung saja menjawab, dengan tegas lagi. Ditambahi selingan pertanyaan Kenapa Mita tanya, dia emang udah mengurusi berkas di KUA?"


Sha menjawab asal dan menyuruh Arsyad kembali meeting. "Gimana?"


Marsa kincep.


"Kalau Mbak Marsa memang perempuan murahan, jangan mejudge perempuan lain seperti Mbak. Karena aku sama Mbak Marsa beda. Aku tahu dosa, kalau Mbak Marsa suka berdosa," jawab Sha tegas. Puas rasanya menampar Marsa dengan kenyataan. Sha bukan mau julid atau apa, gak usah ngomong fitnah lebih baik tanya langsung. Menyebar fitnah boleh kan dilaporkan ke pihak berwajib atas pasal perbuatan yang tidak menyenangkan.


Marsa terduduk lemas sepeninggal Sha, sungguh ia tak menyangka Sha adalah istri dari bosnya. Tapi kenapa harus disembunyikan. Salah mereka tak kasih resepsi atau pengumuman hingga pikiran kotor tertuju pada Sha dan Arsyad.


"Mati gue!" ucap Marsa gelagapan, keinginan minum kopi menguar sudah. Kini ia ingin mengabarkan pada orang yang menyebarkan foto itu dengan caption yang tak patut.


"Grup apa ya kemarin?" saking gugupnya Marza bingung foto Sha dan Arsyad di loby tersebar dari grup mana. Pikiran wanita itu sudah tidak fokus. Takut kena pecat lebih mendominasi.


Guys hapus foto Sha dan Pak Arsyad. Bahaya. Mereka suami istri.


Lama tak ada komentar, tak seperti biasanya ketika ada gosip yang beredar. Ini sepi dan tak ada satu orang pun yang statusnya online atau sedang mengetik.


"Kemana sih!" gerutu Marsa yang akhirnya menuliskan chat pada semua orang yang ikut berkomentar tentang hubungan bos dan sekertaris.


*Hapus Fotonya.


Jangan judge lagi.


Kita yang salah.

__ADS_1


Mereka udah nikah*.


Begitu chat Marsa pada oknum yang terlibat pergunjingan. Apalagi yang komennya pedas pada Sha segera dihapus daripada menjadi masalah di kemudian hari. Gak ada yang tahu Sha akan keep silent atau berkoar pada Pak Arsyad. "Duh!" gemas sudah Marsa karena tak kunjung mendapat balasan. Apalagi ia sampai lupa kalau ada kunjungan ke beberapa distributor toko.


"Mampus!" ucapnya sadar kalau sudah terlambat hampir 10 menit, ia pun segera turun. Pantas saja, Mas Kholiq, sopir kantor bagian lapangan sudah missed call beberapa kali.


"Dari mana?" tanya Mas Kholiq sedikit ketus. Keterlamabatan Marsa juga akan berdampak pada dirinya kalau ketahuan.


"Dari pantry. Mau minum kopi dulu, eh lupa kalau mau ada kunjungan. Gak jadi menikmati deh!" omel Marsa sembari mengecek chat yang tak kunjung dibalas.


"Ouh..aku pikir kamu juga dipanggil bos!" ucap Kholiq. Sontak saja Marsa menoleh.


"Maksud kamu?"


"Ada beberapa yang dipanggil bos kok, kebanyakan anak marketing. Aku pikir kamu lama karena dipanggil juga."


"Hah? Dipanggil kenapa?" tanya Marsa mendadak gemetar.


*


*


*


"Jadi siapa yang berhasil menguntit saya?" tanya Arsyad santai. Belum menunjukkan sosoknya yang tegas kelewat tega. Ia ingin karyawannya berbicara jujur saja. Toh dirinya juga salah hingga muncul spekulasi berlebihan pada Sha.


"Sa..Saya!" ucap Norma, yang memang ada di lokasi kejadian di hotel. Apes. Kalau saja ia diam dan tak julid mungkin dirinya tak berada di sini. Disidang.


"Selain menguntit, ngapain saja?" Arsyad tak mau bertele-tele, ia ingin mereka jujur dengan apa yang mereka lakukan. Tidak akan ada sanksi berlebih karena ini hanya salah paham. Arsyad juga bukan tipe main pecat. Hanya ingin kejujuran.


"Memotret, dan menyebarkan foto itu!" lanjut Norma agak tergagap sembari menunduk, takut.


"Apa saja yang kalian bicarakan tentang istri saya?" tanya Arsyad masih belum puas dengan pengakuan mereka, gak mungkin sekali hanya memotret dan menyebarkan saja pasti ditambahi kalimat pemantik fitnah.

__ADS_1


"Hanya....hanya mengira Bapak dan Bu Sha kencan saja?" jawab Norma menutupi. Ia tidak bisa membayangkan kalau bilang jujur.


"Yakin?"


Norma mengangguk. "Kalau kamu?" tanya Arsyad pada salah seorang rekan Norma yang sedari tadi menunduk.


"Saya...saya gak bilang apa-apa!"


"Yakin? Kalian bicara soal istri saya gak kasar? Gak mungkin sekali. Sejak istri saya menjadi sekertaris banyak karyawan yang punya pemikiran buruk pada Sha. Apalagi kalau sampai kita berada di hotel sesuai pengamatan kalian."


"Kami... Kami hanya beranggapan kalau Sha kekasih Pak Arsyad, itu saja!"


"Ouh iya? Lalu siapa yang bilang Sha munafik? Perempuan murahan? Simpanan saya? Siapa? Bukti fisik berupa chat WA grup sudah saya kantongi loh, jujur lah!"


Norma dkk hanya saling lirik tak berani menjawab, karena chat grup sudah bocor sampai ke Pak Arsyad.


"Maaf!" ucap mereka lirih.


Arsyad menghela nafas kasar, "Ya sudahlah, kali ini saya maafkan kalian. Bukan tipe saya juga mencampurkan masalah pribadi dengan urusan kantor, hanya saja kalau sudah menyangkut fitnah pada istri saya. Saya gak terima."


Mereka menunduk takut. "Asal kalian tahu, saya yang cinta pada Sha. Sejak SMA. Saya memang manfaatkan jabatan sekertaris agar saya bisa dekat dengan Sha. Tiap hari saya menembaknya, perlu dicatat ya saya yang menembak Sha agar dia mau menerima perasaan saya. Bukan dia. Dia sama sekali gak cinta, dia menganggap saya hanya bos dan teman SMA. Jadi pemikiran kalian yang bilang Sha menggoda saya salah total. Dia sama sekali tidak menggoda dan tergoda. Catat ya. Dan satu lagi, kami belum melaksanakan resepsi bukan karena kita mau menyembunyikan pernikahan tidak, tapi karena Sha masih berduka, kalian tahu kan bahwa ibu Sha belum genap sebulan meninggal. Makanya kita belum terpikir resepsi."


"Baik, Pak!"


"Saya harap ini terakhir fitnah yang terjadi di kantor. Bukan karena Sha istri saya, tapi ini berlaku untuk semua karyawan. Kalian di sini sama-sama kerja. Jangan sampai saling menjatuhkan satu sama lain. Kalau kalian mengganggu atau bahkan mematikan rizeki teman, apa kalian tidak takut dibayar karma?" Arsyad mulai ceramah. Memang ia tidak mau tempat kerja yang ia pimpin rusuh hanya karena gosip yang tak bermutu. Jadi sebisa mungkin mulai sekarang memberikan ultimatum keras pada pihak yang terlibat, apalagi ini menyangkut istri tercintanya tentu tidak dibiarkan.


"Tidak, Pak."


"Oke, saya pegang omongan kalian. Silahkan sebar apa yang saya sampaikan tanpa ditambahi ataupun dikurangi, bisa?"


"Bisa!"


"Oke, silahkan keluar dari ruangan saya!" ucap Arsyad.

__ADS_1


__ADS_2