
Arya marah. Arya kecewa dengan sang ibu. Begitu juga dengan Nyonya Maheswari, tak akan mau menerima Sha sebagai cucunya meski Arya terus membela istri Arsyad itu.
"Kamu gak tahu kapan hamil dan melahirkannya, tapi begitu sayang. Farah yang jelas-jelas lahir dan kamu adzani tak bisa mendapat kasih sayang seperti gadis itu," protes Nyonya Maheswari.
"Mama saja yang menganggap aku tidak sayang pada Farah. Namanya seorang bapak tentu menyanyangi putrinya dengan caranya sendiri. Bukan berarti aku tidak pernah mengantarkan dia sekolah lalu aku tidak sayang. Ouh tidak begitu, Ma!" bela Arya yang masih kekeh bahwa dirinya menyanyangi Farah seperti menyanyangi Sha.
"Orang bego pun tahu kamu lebih sayang sama siapa," makin emosi saja Nyonya Maheswari.
"Sebenarnya mama kenapa tidak mau menerima Iswa dan Sha?" tanya Arya memastikan kembali.
"Pertanyaan macam apa itu, tanpa dijawab pun harusnya kamu tahu bahwa derajat Iswa dan anaknya tak sebanding dengan derajat kita."
Arya mengangguk dan tersenyum miris, "Begitulah ma kalau mama memandang derajat seseorang. Saat ini gadis yang mama anggap tak sederajat dengan kita, mendapatkan keluarga yang sangat baik. Disayanngi mertua layaknya anak sendiri. Bandingkan dengan Farah, anak dari keluarga derajat tinggi dibuang begitu saja oleh keluarga suami. Miris."
"Sungguh kamu Bapak jahat, Arya. Anak kamu bersedih malah membandingkan dengan anak lain, tak pantas kamu bilang sayang sama Farah. Sangat tidak pantas."
"Tolong, Ma. Resapi ucapan Arya. Maksud Arya bukan membandingkan Farah dengan Sha. Bukan."
"Lalu apa?"
"Arya hanya ingin membuka hati dan pikiran mama bahwa manusia tak patut dibandingkan karena derajatnya. Iswa dan Sha dihinakan mama tapi dihargai oleh keluarga Pak Wira, keluarga yang lebih terpandang dari keluarga kita. Farah berasal dari keluarga terpandang, dihinakan oleh keluarga Irsyad. Arya mohon, Ma. Sudahi sifat mama yang melihat orang hanya karena derajatnya sebelum mama dihinakan oleh orang lain," ucap Arya. Langsung menusuk hati sang mama.
Wanita yang berasal dari keluarga kaya tak pernah merasakan hidup kekurangan, semua hal dipandang melalui harta. Sungguh beliau sakit hati saat Arya berkata tentang derajat keluarga. Sumpah serapah dalam hati akan membuat Sha hidup sengsara.
Nyonya Maheswari menganggap, kekacauan dalam keluarga anak dan cucunya karena andil Iswa dan Sha. Tak akan terima bila Sha hidup bahagia meski gadis itu. Beliau harus bertindak dan salah satunya adalah dengan menemui ibu Tuan Wira.
__ADS_1
Benar saja, Nyonya Maheswari selepas makan siang langsung meluncur ke rumah keluarga Wira. Nenek tua dan lincah jalan begitu angkuh ke dalam kediaman Tuan Wira. Satpam rumah langsung mengenali nama belakang Nyonya Maheswari keluarga terpandang yang berteman dengan keluarga Tuan Wira.
"Hai Jeng, ada apa nih? Udah lama ya kita tidak bertemu," sapa Nenek sembari cium pipi pada Nyonya Maheswari. "Silahkan duduk," lanjut beliau.
Nyonya Maheswari hanya tersenyum, duduk dan berbasa-basi sebentar. Nenek mencoba biasa karena dalam hati kecil beliau sepertinya Maheswari berkunjung karena mau membahas tentang Sha.
"Cucu menantu kamu di mana?" tanya Nyonya Maheswari mulai melancarkan aksinya.
"Cucu menantu? Yang mana? Kamu tahu kan Wira punya anak tiga, sudah pada nikah," jawab Nenek sembari memberikan secangkir teh hangat.
"Istrinya Arsyad!"
"Ouh, Lethisa!"
"Kok kamu gak tahu namanya, bukannya dia cucumu?" tanya Nenek dengan menyilangkan kaki, pandangannya mengintimidasi Nyonya Maheswari.
"Cucu? Cucuku hanya satu, Jeng. Namanya Farah."
"Ouh begitu. Ada apa mencari Lethisa?" tanya Nenek tanpa mau memperpanjang status Lethisa.
"Aku hanya bilang. Dia gadis gak bener loh, hati-hati saja dia punya niatan gak baik lalu masuk ke keluarga kamu," ujar Nyonya Maheswari, berbicara penuh ketidaksukaan layaknya emak-emak sedang bergosip.
"Hah? Masa'?" tanya Nenek pura-pura kaget. Ingin tertawa sebenarnya. Gak ada angin gak ada hujan datang ke rumah orang hanya ingin menjelekkan menantu di keluarga ini. Yang lebih parah, gadis yang ia hina adalah cucunya sendiri.
"Iya, Jeng. Dia itu perebut laki orang. Suka banget morotin pria kaya," ujar Nyonya Maheswari ngotot.
__ADS_1
Nenek hanya mengangguk. "Sebenarnya apa tujuan kamu ke mari?"
"Aku hanya ingin menyelamatkan keluarga ini dari liciknya Lethisa. Kamu adalah teman lamaku, tak sepatutnya mendapat menantu seperti dia."
"Menyelamatkan?" tanya Nenek memastikan diiringi tawa mengejek. "Aku rasa kamu salah orang deh, cucu menantuku anak baik. Berasal dari keluarga baik juga."
"Eh..kata siapa, Jeng. Videonya pernah viral, dia dan ibunya itu pelakor. Mau aja itu dikasih harta sama pria beristri."
Kok semakin nyolot, sejak tadi nenek menahan emsoi agar tak terpancing dan membalas Maheswari dengan omongan kasar, kini tak bisa. Nenek tak terima Sha dicap seperti itu.
"Cukup. Lethisa gadis yang baik, berasal dari keluarga yang tidak baik. Justru kamu dan suami mu orang yang tidak baik. Kamu tega memutuskan hubungan suami istri yang saling mencintai. Kamu tega memisahkan anak kamu dengan anak kandungnya. Kamu tega memfitnah cucu kamu, darah dagingmu dengan tuduhan yang sangat menjijikkan. Pikir pakai hati, kamu sudah tua, bau tanah sudah mulailah menjadi orang baik. Jangan sampai sakaratul mautmu terhalang karena maaf dari Sha."
Jleb.
Nyonya Maheswari kaget. Beliau tak menyangka ibu dari Tuan Wira begitu membela Sha. "Sekali lagi aku tekankan, kalau kamu gak mau mengakui Sha sebagai cucu kamu ya sudah. Tapi jangan sampai menjelekkan citra Sha. Bagi keluarga kami Sha gadis yang baik, dan tuduhan kamu sangat fatal. Salah besar. Sebelum kamu ke mari menuduh Sha, ada baiknya kamu tanya pada anak kamu, harta warisan yang diberikan pada Sha diambil atau dikembalikan. Kamu itu harusnya bersyukur punya cucu baik hati dan tidak kemaruk harta. Heran deh, nenek macam apa kamu itu!" semakin pedas aaja nenek menyudutkan Nyonya Maheswari.
"Jeng, jangan sampai kamu menyesal nanti!"
"Ouh jelas, justru saya akan menyesal mendengar hasutan kamu. Aku bukan kamu yang tega memutuskan hubungan kasih seseorang. Cucuku Arsyad begitu sayang dan cinta pada Sha, aku tidak mungkin memisahkan mereka. Aku tidak sejahat itu."
"Heran deh, keluarga Wira aku ingatkan akan peringai Sha, tapi kok gak percaya sekali. Udah kemakan mulut manis gadis itu rupanya," lanjut Nyonya Maheswari.
"Nenek sinting. Kamu irikan dengan kehidupan Sha. Anak keluarga tidak mampu dan sudah dibuang keluargamu malah mendapat kehidupan layak dan bahagia bersama keluargaku. Iri bilang saja, Maheswari. Gak usah menuduh tanpa ada bukti. Sudah-sudah, mendengar tuduhanmu kepalaku jadi pusing, pulang sana. Pintu di sana,' ujar Nenek berbalik dari ruang tamu, tak ada niatan untuk mengantar sang tamu keluar.
Lagian datang tak dijemput, wajarlah kalau pulang tak perlu diantar.
__ADS_1