JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
BAIKAN


__ADS_3

Mbak ibu habis didatangi istri ayah Mbak Sha.


Pesan Mbak Marni yang baru dibuka Sha saat makan siang. Baru saja selesai sholat cukup kaget dengan pesan itu. Tanpa pikir panjang, ia langsung menghubungi Mbak Marni.


"Assalamualaikum, iya mbak?" tanya Mbak Marni saat menerima panggilan, ia baru saja selesai setrika baju.


"Waalaikumsalam, gimana ibu Mbak?" tanya Sha penuh kekhawatiran. Meski masih perang dingin tetap saja tak akan melepas perhatian.


"Sedang sholat, Mbak. Tapi gak jadi keluar katanya," Mbak Marni pro dengan Sha, makanya apapun gerak-gerik Bu Rahmi dilaporkan apalagi menyangkut urusan dengan mantan suami. Mbak Marni juga gak suka kalau orang di masa lalu harus terlibat di kehidupan sekarang.


"Emang mau ke luar ke mana? Diajak tamu tadi?" tanya Sha ingin cerita detailnya.


Marni celingak-celinguk khawatir Bu Rahmi sudah selesai sholat. "Tamu itu perempuan, gak lama palingan 10 menit ngobrol sama ibu, tapi saya gak tahu Mbak apa yang diobrolin terus ibu gak jadi keluar."


"Emang ibu mau ke luar ke mana, Mbak?" tanya Sha kembali.


"Ketemu ayahnya Mbak, bawa berkas."


Sha berdecak sebal, ternyata sang ibu mau melanjutkan pertemuan ketiga kali. "Tapi gak jadi kok, Mbak!"


"Syukur deh, lagian apa untungnya menemui pria itu. Bikin sakit hati aja," masih sewot kalau urusan dengan ayah.


"Iya, Mbak. Tenang aja, Marni jagain ibu kok," ucap Marni sembari menutup panggilan dari Sha.


Ehem...Ehem...


Bu Rahmi sudah berdiri dan bersedekap di belakang Mbak Marni, langsung saja deheman sang majikan membuat Marni berjingkat kaget.


"Kamu ya, main lapor Sha aja," celetuk Bu Rahmi gemas sampai memukul lengan Marni. Namun sang ART hanya nyengir kuda.


"Saya pro sama Mbak Sha, Bu. Gak suka kalau ibu berhubungan dengan mantan suami ibu."

__ADS_1


"Iya saya tahu, saya juga gak mau bertemu beliau lagi."


"Alhamdulillah. Keputusan yang benar, Bu. Insya Allah ibu dan Mbak Sha hidup bahagia meski tanpa harta tuan mantan."


"Aamiin. Makasih."


Marni melihat gurat sedih sang majikan. "Ibu kenapa?" tanya Marni pelan, ia menyentuh lengan Bu Rahmi untuk memberikan sentuhan bahwa masih ada Marni yang bisa diajak curhat.


"Saya masih kaget saja dengan kehadiran tamu tadi."


"Kenapa?"


"Omongan istrinya Arya, sarat menuduh saya sebagai pelakor coba. Bahkan memberikan pilihan harta atau suaminya. Ya Allah," Bu Rahmi menangis, perasaannya sangat sensitif bila dituduh seperti itu. Memang perempuan tadi tidak secara langsung menyebutnya pelakor, tapi Bu Rahmi sadar diri bahwa dirinya dianggap seperti itu.


"Sabar, Bu. Insya Allah ibu dan Mbak Sha akan naik level makanya diberi cobaan seperti ini."


Bu Rahmi mengusap air matanya sembari mengangguk. "Padahal saya bertemu dengan dia demi masa depan Sha, bukan ada maksud mau kembali bersama dia."


"Ibu...udah, Alhamdulillah, sudah dilihatkan oleh Allah, bahwa sikap Mbak Sha memang benar."


"Iya, Mar. Saya bakal menuruti nasehat Sha, karena yakin sekali Sha tidak akan membuat saya sengsara.


*


*


*


"Makan, Nak!" ucap ibu ketika Sha sudah memakai baju rumahan, sepulang kerja.


"Ibu gak pa-pa?" tanya Sha sembari mengamati raut sedih ibunya.

__ADS_1


"Gak pa-pa, emang ibu kenapa?"


"Gak jadi kencan," ledek Sha dengan sedikit sewot. Lalu mulai menyendokkan nasi dan lauk.


"Kamu apaan sih, kencan-kencan!" ucap ibu sembari menyolek lengan Sha.


"Sha tahu kali kalau ibu mau kencan sama pria itu!"


Ibu tertawa, "Iya, ibu gak lagi deh. Ibu bakal menuruti saran kamu!"


Sha menghentikan makan malamnya, menghambur pelukan pada sang ibu. "Sha gak pernah larang ibu untuk melakukan apapun asalkan itu baik, tapi Sha bakal larang dan marah banget."


"Iya, ibu tahu. Pertemuan kedua kemarin adalah kesalahan ibu. Apalagi pria itu menawarkan harta untuk masa depan kamu."


Sha berdecak sebal, "Modus...ibu itu mau dimodusin aja sih."


"Ya ..ibu mau aja karena tawarannya menyangkut kepentingan kamu. Kan ibu sayang banget sama kamu."


Sha tertawa ngakak, "Yakin nih sayang sama Sha?"


Plug...beliau menepuk lengan Sha. "Gak percaya banget sih."


"Oke ...karena Sha disayang sama ibu. Besok Sha ajak ibu jalan-jalan deh," ajak Sha yang memang berniat refreshing dengan sang ibu. Tentu masalah yang terjadi ini adalah pengalaman pertama dalam hidup ibu dan anak ini. Ekonomi sulit masih bisa ia terima, tapi kalau berurusan dengan orang lain, dituduh melakukan hal yang tidak dilakukan membuat hati susah.


"Jadi kamu juga udah gak marah nih?" ledek ibu sembari menarik hidung mungil Sha.


"Mana bisa Sha marah sama ibu."


"Masa'?"


"Gak percaya ya sudah!" sahut Sha menirukan sang ibu tadi. Keduanya pun tertawa, beginilah bahagianya mereka, hanya berdua saja.

__ADS_1


__ADS_2