JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
NENEK


__ADS_3

"Siapa?" kini giliran Sha yang bertanya.


"Tante-tante yang masuk lift yang lain," jawab Rafly. Arsyad tak peduli pikiran bocil ini, ia sudah banyak schedule yang harus dilakoni. Selama ada bocil biarlah Sha yang menghandle. Urusan kantor dirinya dan Danu, insyaAllah teratasi.


"Emang kenapa tante-tante itu?" tanya Sha penasaran.


"Tante-tante itu kayaknya gak suka sama Tante Sha. Judes gitu melihat kedatangan Tante Sha. Apalagi gandeng aku, mungkin mereka iri kali ya bisa menggandeng bocah cilik ganteng seperti aku," ucapan polos nan percaya diri tingkat dewa membuat Sha tertawa sampai memegang perutnya. Arsyad hidungnya membesar karena menahan tawa, tak disangka Rafly bisa berkata seperti itu.


"Kamu lucu banget sih, Raf!" puji Sha sekaligus menoel pipi anak kecil ganteng itu.


"Sayaaang," ultimatum Arsyad saat Sha memegang pipi sang ponakan. Cemburu tak beralasan, ini anak kecil loh, masa' Arsyad cemburu banget. "Nyamuk gigit kamu aja aku jealous!"


"Gombal,"


"Beneran, cup!" Arsyad tak tahu tempat. Gak sadar atau gimana ada anak kecil di tengah-tengah mereka yang hanya bisa toleh kanan toleh kiri saat keduanya bercakap. Rafly pun mengerjap polos, saat sang Om mengecup bibir sang istri.


"Manis Om?" eh Arsyad justru kaget ditanyain seperti itu, ia menatap curiga pada sang ponakan.


"Manis apanya?"


"Kamu, Bi!" protes Sha yang tidak bisa mencegah serangan mendadak itu.


"Rafly, coba Om tanya manisnya apa? Kamu pernah juga nyium kayak Om ke Tante Sha?" Arsyad tanya bertubi. Salahnya juga main kecup tak tahu tempat, tapi berkat itulah Arsyad tahu pemikiran Rafly tentang ciuman.


"Aku pernah dengar papa bilang gitu ke mama," ujar Rafly terlampau jujur. Sha mendelik dan saling tatap dengan Arsyad. Menunggu Rafly bercerita kok apesnya lift sudah sampai. Oke Arsyad belum mau bekerja dulu sebelum introgasi sang ponakan.


Arsyad bahkan sampai menggendong Rafly, menyuruh Sha ikut ke ruangannya. "Jadi?"


"Om Arsyad kepo ya, tapi kan Om sudah bisa merasakan ke tante Sha."


"Iya Om emang udah tahu rasanya, cuma om penasaran kenapa kamu bisa bilang gitu!"


"Ouh itu," masih santai tuh bocil tak merasa bersalah membuat sepasang suami istri itu penasaran.

__ADS_1


"Aku dengar dari papa. Kalau papa habis pulang dinas, katanya gini Mumu (panggilan sayang Akbar pada Mutia) setelah isya ya, aku kangen bibir manismu."


Rasanya Arsyad langsung lemas, Rafly begitu lancar bercerita, menandakan kalau moment itu terekam jelas dalam otak pintarnya. Tangan Arsyad mengepal erat, ingin menabok wajah sang abang yang telah mencemari otak Rafly.


"Abaaaang," geram Arsyad tertahan.


*


*


*


Makan siang tiba, Arsyad via chat mengabarkan bahwa meeting masih lama, mungkin lewat jam istirahat baru selesai, istirahat hanya sholat saja. Ia pun menyuruh istrinya dan Rafly makan terlebih dulu, apalagi Nenek datang meski tak diantar mama.


Sha langsung salim dan memeluk erat nenek mertuanya. Kebetulan memang nenek baru diberi kabar tadi malam usai makan malam, moment sakral Sha dan Arsyad memang mendadak, hingga keputusan tidak memberi tahu nenek saat itu. Ditambah kabar duka tentang Bu Rahmi, makin melupakan nenek pula. Beliau sempat marah, ngomel tapi setelah diberi penjelasan Wira, nenek langsung terima dan memaklumi.


Karena ingin merestui langsung, selepas shubuh beliau sudah bersiap ke rumah Wira. Ingin bertemy Sha dan cicit beliau juga, anak Akbar. Namun sayang, karena terjebak macet beliau datang siang dan langsung meluncur ke kantor Arsyad.


"Makan siang di mana Nek?" tanya Sha dengan menggandeng Rafly di kiri, Nenek di kanan. Ia tak peduli beberapa karyawan yang menatapnya. Diberi keluarga baru yang menyanyanginya adalah sebuah anugerah yang patut disyukuri.


"Bolehkan, Titi (sebutan Rafly untuk nenek)?"


"Boleh, nenek yang traktir kalian makan sepuasnya!"


"Yeayyyyy!!


Ketiganya menuju mall terdekat yang ada restoran jepang. Rafly sangat suka sushi, sayangnya sang adik tadi tidak jadi ikut ke kantor karena sakit perut. Rasanya Rafly seperti bocah kasta tertinggi karena begitu diperhatikan tante dan neneknya.


Saat asyik makan, Nenek disapa oleh perempuan sepuh lainnya. Beliau lupa-lupa ingat, tapi begitu disebutkan nama perempuan itu, nenek barulah ingat, perempuan sepuh itu adalah teman kecilnya dulu. Sudah sangat lama tak bertemu, karena setahu nenek, temannya itu ikut suaminya di luar negeri.


"Apa kabar?" ucap nenek ramah.


"Baik, tidak menyangka bisa bertemu di sini. Sudah lama sekali kita tidak bertemu ya?" ucap Nyonya Maheswari tak kalah senang. "Makan sama siapa?"

__ADS_1


"Ouh ini kenalkan. Ini Rafly, cicitku. Kalau yang ini cucu menantuku, Lethisa!" ucap nenek mengenalkan. Nyonya Maheswari termenung seketika. Melihat perempuan muda di hadapannya ini, wajahnya sangat familiar tapi beliau yakin tidak pernah bertemu dengan Sha sebelumnya.


"Jeng Maheswari sama siapa?" tanya nenek yang melihat Nyonya Maheswari sendiri.


"Bersama...A!" belum sempat melanjutkan ucapannya. Tuan Arya ikut bergabung, beliau lewat di sisi Sha.


Sha terpaku dengan suaranya, harap-harap cemas bila lelaki itu menoleh padanya. "Ya Allah, Arya sudah tua ternyata ya," sahut nenek yang mengenang Arya saat bertemu dulu.


"Nyonya!" sapa Arya yang berbalik dan tak sengaja melihat Sha. Terpaku, speechless, senyum menyambut nenek Arsyad pudar. Mendadak pias.


"Lethisa!" ucap beliau menyapa sang putri, sedangkan Lethisa duduk dengan tenang. Memaksakan tersenyum dan mengangguk saja. Ia sudah meminta apabila bertemu, anggap saja Sha orang lain.


"Ka..kamu kenal dia, Ar?" tanya Nyonya Maheswari gugup. Tuan Arya hanya mengangguk, tanpa berniat menjelaskan. Ia tak mau berurusan panjang melibatkan sang mama. Mungkin inilah cara beliau melindungi Sha dari gangguan keluarganya.


"Kenal, Ma."


Untung saja, Nenek tidak berlanjut menanggapi di mana Sha dan Tuan Arya kenal. Beliau justru mengajak Maheswari makan bersama, namun ditolak dengan halus. Keduanya sudah makan, dan hendak pulang.


Sha hanya mengangguk dan bersalaman seolah baru pertama bertemu, sungguh hati Sha sudah beku berurusan dengan ayahnya.


Nenek, Sha dan Rafly melanjutkan makan dengan tenang. Bercanda kembali dengan terus mengunyah. Keadaan yang berbeda dengan Tuan Arya beserta sang mama. Meski sudah sepuh, tapi Nyonya Maheswari tidak salah duga, bahwa perempuan itu mirip seseorang yang sangat dekat dengannya.


Lama beliau berpikir, barulah setelah mobil berjalan beliau menepok jidat. "Sekilas mirip Farah!" ceplos beliau.


"Siapa?"


"Cucu menantu keluarga Wira!"


"Lalu?"


"Ya manusia memang terlihat ada beberapa yang mirip," sahut Nyonya Maheswari mencoba mengelak praduga dalam hati.


"Yakin karena itu? Bukan karena ikatan darah?" pancing Tuan Arya.

__ADS_1


"Maksud kamu?"


__ADS_2