JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
EMOSI


__ADS_3

Sha memenuhi janjinya dengan ibu. Selepas maghrib ia sudah bersiap, mengenakan celana jeans dan kaos lengan panjang. Memakai flatshoes dan tas selempang. Ia sengaja memesan taksi online agar perjalanannya lebih nyaman.


Memasuki pelataran mall, Sha mengajak ibu ke outlet baju. Beliau bilang jalan-jalan saja dulu nanti lapar langsung makan malam. Sha pun menyetujui. Ia memilih beberapa kemeja untuk kerja, sepatu juga, lumayan honor yang ditransfer Arsyad tadi siang, buat belanja boleh kali.


"Ibu mau kaftan itu?" tunjuk Sha pada salah satu kaftan yang tergantung rapi. "Buat pengajian," lanjut Sha menarik ibu mendekati kaftan itu.


"Mahal Sha!" ujar Ibu ketika melihat tag harganya.


"Gak pa-pa, Sha lagi ada rizeki. Dapat honor di proyek Arsyad."


"Proyek apa nafkah calon istri?"


"Ibu...." kesal Sha dan ibu pun tertawa. Usai beli baju, ibu mau beli peralatan masak. Boleh lah, dua perempuan itu masuk ke outlet peralatan rumah tangga. Sha hanya tersenyum melihat ibu yang kelihatan berbinar, deretan alat masak berjejer rapi.


Drt...drt...


Ponsel Sha kebetulan bergetar, Arsyad memanggil. Sha berdecak sebal, jangan sampai bos sok sibuk itu memberikan pekerjaan sekarang.


"Halo!" jawabnya ketus.


"Eh...Assalamualaikum," sindir Arsyad sembari terkekeh mendengar nada ketus Sha.


"Iya, waalaikumsalam."


"Nah gitu dong, santun calon istrinya Arsyad."


"Apaan sih, lagi sibuk nih."


"Sibuk apaan, aku gak kasih kerjaan sama kamu."


"Ya emang sibuk gue karena kerjaan doang. Gue mah lagi ngedate."


"Eh ..ngedate apaan. Sama siapa?" tanya Arsyad gelagapan. Gak terima kalau Sha ngedate bersama cowok lain selain dirinya.


"Sewot amat," jawab Sha dengan tawa mengejek.

__ADS_1


"Aku sengaja kali kasih kamu kerjaan, biar gak bisa kencan sama orang lain. Tunggu aku nanti aku ajak kencan."


"Dih maunya,"


"Sha...ayo ke kasir," suara ibu terdengar dalam panggilan.


"Sama ibu?" tanya Arsyad memastikan.


"Iyalah, siapa lagi," jawab Sha sembari menuju kasir.


"Lagi belanja?"


"Tepat sekali, kan tadi dapat bayaran cuma-cuma, belanja dikit boleh lah. Self reward," jelas Sha, khawatir Arsyad berpikir dia perempuan boros. Eh kenapa jadi khawatir Arsyad berpikiran buruk dengannya.


"Aku transfer lagi ya," tawar Arsyad namun langsung ditolak Sha dengan ancaman gak bakal mau ditelpon atau di video call lagi. Akhirnya Arsyad mengalah dan membiarkan Sha berbelanja bersama ibunya. Malam ini pasti kangen karena biasanya selepas isya mereka bertelpon atau bervideo call dengan saling ledek dan membahas pekerjaan.


Ibu sudah mendapat barang kesukaannya mengajak Sha makan saja, sudah capek dan gak mau menghabiskan uang berlebihan. Mereka masuk ke food court mall. Memilih menu yang sama, bebek goreng sambal ijo dan es jeruk, keduanya makan dengan nikmatnya.


"Uangmu masih ada Sha?" tanya Ibu khawatir, meski Sha sudah bekerja beliau sangat tidak mau membebani putrinya. Anak bagi Bu Rahmi adalah investasi akhirat yang akan mendoakannya bila meninggal nanti, bukan investasi dunia menjadi penanggung hidupnya di masa tua.


"Arsyad baik banget ya," puji Ibu dan Sha mengangguk.


"Eh tapi kamu belum diapa-apain dia kan?"


Pertanyaan sang ibu membuat Sha langsung tersedak, ini apa maksudnya. "Eh...biasa aja kali Sha, gak usah langsung batuk begitu. Kan ibu hanya menebak, lagian ibu mikirnya kayak di sinetron, sekertaris tuh banyak yang jadi simpanan bos."


"Dih...ibu. Arsyad gak kayak gitu kali, sangat menghormati Sha, dan gak pernah macam-macam."


"Bagus deh, mantu idaman juga kayak gitu."


Sha mendengus sebal, mantu idaman, masih jauh Bu, ibu punya mantu, batin Sha protes.


Di saat menghabiskan suapan terakhir, tinggal menelan saja. Sha dikejutkan dengan siraman air dingin di wajahnya.


"Sha!"

__ADS_1


"Farah!


Kedua ibu memanggil anaknya masing-masing, keduanya pun tak lama saling pandang dan siap menghujat satu sama lain.


"Dia itu mantan Irsyad, Ma!" jelas Farah emosi, sambil menunjuk Sha yang sedang membersihkan wajahnya dengan tisu dan dibantu ibu. Sontak, mama Farah melepas genggaman di tangan Farah dan menutup mulutnya, kaget.


"Jadi, dia ...mantan yang masih dicintai Irsyad?" tanya mama memastikan. Farah mendengus sebal, tidak suka dengan kalimat sang mama. Apalagi beberapa orang sudah menatap ke meja ini, Farah gak mau kalau sampai ini gagal mempermalukan Sha.


"Bukan dicintai kali, Ma. Tapi perempuan ini yang belum move on," ucap Farah menggebu. Misinya hampir berhasil karena ada beberapa orang yang sudah merekamnya.


Sha marah dipermalukan seperti ini, disiram dan dibilang belum move on. Braaakkkk, Sha memukul meja dengan sorot mata tajam. Mengabaikan rengekan sang ibu untuk tidak memperpanjang.


"Gue belum move on. Lo punya kaca gak? Siapa yang memohon ke gue buat nasehatin suami lo agar cinta sama istrinya. Dan gue menolak, gak usah memutar balikkan fakta. Lo dinikahin mantan gue karena lo yang sudah tidur dengan pacar gue saat itu. Di sini siapa yang sebenarnya pelakor." Begini lah Sha dia tidak akan takut dengan siapa pun kalau dia tidak melakukan kesalahan.


"Kalau lo mau bukti siapa di antara gue atau Irsyad yang belum move on, gue bakal telpon Irsyad." Sha segera mengeluarkan ponselnya dan membuka blokir pada nomor Irsyad, mendialnya segera. Tanpa menunggu lama, Irsyad menjawab panggilan Sha.


Sayang ini benar kamu, Alhamdulillah akhirnya kamu membuka blokirnya. Sayang aku seneng banget. Aku mau cerai dengan Farah, kamu mau kan kembali sama aku."


Farah menunduk dengan gelisah, ia tak menyangka Sha bisa seberani itu, kini bisik-bisik yang tadi menyudutkan Sha berbalik menyudutkan Farah. Sang mama hanya menghela nafas berat. Ia tahu, situasi ini Farah kalah telak.


Sha mematikan panggilan tanpa menjawabnya, dan Irsyad menghubungi kembali. "Lihat, di sini siapa yang belum move on. Lo lihat, Irsyad suami lo yang ngejar-ngejar gue. Bukan gue yang pelakor, Bego!" teriak Sha sembari melempar kotak tisu.


"Sha sudah Sha!"


Sha mengucap istighfar dengan mengelus dada, sungguh emosinya mencapai puncak dan tak terkendali. Mama Farah tak tinggal diam, anaknya diperlakukan kasar seperti itu.


"Anak dan ibu sama saja, punya pelet. Sampai-sampai suami orang gagal move on!" ucapnya sinis. Sha mendengar, emosinya kembali tersulut.


"Apa maksud Anda?"


"Dia istri ayahmu," bisik ibu sembari memegang lengan Sha agar tak lepas kendali. Ouh..Sha paham akan siatuasi ini, Farah yang kalah telak sekarang akan menyerang ibu.


"Anda tahu, kami tidak punya pelet seperti yang Anda tuduhkan. Tapi kita punya harga diri sehingga lelaki Anda dan lelaki anak Anda mencintai kami terlalu dalam. Anda orang kaya, pasti punya kaca, tolong berkaca sebelum menuduh perempuan lain, kenapa kalian berdua tidak bisa membuat suami kalian jatuh cinta. Pikir pakai otak dan hati, jangan pakai dengkul. Permisi."


Sha langsung menarik sang ibu dan membawa serta belanjaannya ke kasir. Emosinya di puncak ubun-ubun, kalau saja bertemu ayah atau Irsyad ia siap memberikan bogeman mentah kepada dua laki-laki perusak kebahagian dirinya dan ibu.

__ADS_1


Lelaki Bangs*t!!!! Teriak Sha dalam hati, penuh emosi.


__ADS_2