
"Jangan bersikap seperti itu dengan Sha!" ucap Arsyad sembari menyuapkan sarapannya. Tak melihat Indah tapi berhasil menohok ulu hati perempuan cantik itu.
Indah yang hendak menyuapkan sarapannya mendadak berhenti seketika, hati yang berbunga menghilang seketika. "Kenapa?" tanya Indah.
"Gak usah tanya lah, kamu tentu tahu jawabannya." Inilah Arsyad, judesnya cowok keluar. Tak peduli yang diajak omong perempuan atau laki, yang jelas nyelekit.
Indah sudah tak berselera sarapan, ia menghela nafas berat. Sungguh kecewa, ia pikir sudah menang satu langkah, ternyata menemui kemunduran tak terkira. "Mau kamu apa? Pacaran sama Sha?" tantang Indah yang tak mau kalah kalau harus bersaing dengan Sha.
"Bukan urusan kamu," jawab Arsyad sembari meneruskan sarapannya. Padahal tadi di rumah nenek sudah sempat sarapan roti hanya saja, perjalanan jauh ditambah bertemu Indah, butuh energi tambahan.
"Syad, apa sih yang kamu lihat dari Sha? Modal cantik doang. Strata sosial juga jauh dengan kamu. Gak sepadan!"
"Lalu yang sepadan siapa? Kamu? Memang seistimewa apa kamu di mata saya? Sadar diri dong, Nda."
"Syad...kamu..." Indah tak menyangka Arsyad bisa bilang setega itu. Kalemnya sirna kalau menyangkut Sha. Wah...gak beres ini, pengaruh Sha luar biasa.
"Kenapa? Baru tahu kalau aku julid, ingat Ndah, urusan hati gak bisa dipaksa, dan kamu tahu hatiku yang memilih Sha. Jadi tolong kamu gak perlu perhatian berlebihan padaku, kita profesional saja."
Indah menggeleng, " Aku gak percaya. Aku yakin kamu hanya termakan rayuannya. Atau bahkan dia sudah menawarkan tubuhnya?"
__ADS_1
Arsyad langsung menatap Indah tajam, nafasnya memburu, mencoba menahan amarah karena tuduhan tak jelas. "Pintu di sana!" ujarnya sambil menunjuk ke arah pintu. Tak sudi menatap wajah cantik Indah, sungguh kecewa paras cantik tapi tuduhan nyelekit.
Indah beranjak dengan amarah penuh, bahkan ia membuka dan menutup pintu ruangan Arsyad pun sangat keras. Di depan meja kerja Sha, Indah pun langsung menampar Sha yang kebetulan sedang berbicara dengan Vita, salah satu anak anak desain produk yang memang dipanggil Arsyad untuk produksi bulan depan.
"Lo tuh gak tahu malu, perebut pacar orang. Emang pantes lo gue tampar!"
Arsyad yang menyadari kemungkinan buruk terjadi ikutan keluar, bertepatan cemoohan Indah pada Sha. "Maksud Anda apa sih, Bu Indah?" tanya Sha dengan memegang pipinya, terasa panas dan kebas.
"Indah apa yang kamu lakukan!" bentak Arsyad dengan mata melotot.
Indah tak peduli, ia sudah di puncak amarah. Spontan berkata keras, terutama pada Vita, "Sebarin ke semua orang di kantor ini, bahwa perempuan ini gak bener. Dia sudah bermalam dengan Arsyad di Bandung."
"KELUAR!" bentak Arsyad dengan suara kerasnya bahkan Indah pun sampai jingkat. "Kontrak kita batal, aku akan membayar pinaltinya."
Vita hanya melongo, Arsyad pun langsung menarik Sha masuk ke ruangannya. Kalau saja ia terbawa kalut, mulut Indah sudah dirobek juga.
"Tuh lihat, Arsyad sangat melindungi sekertarisnya. Ingat saja, Syad. Dia gadis miskin yang hanya mengeruk hartamu saja."
Vita hanya menunduk, namun langsung mengirim video langka tersebut. Indah pergi begitu saja setelah Danu menyuruhnya pergi.
__ADS_1
"Kalau sampai hal ini tersebar, orang pertama saya panggil adalah kamu!" ancam Danu pada Vita. Apesnya sudah ada beberapa yang melihat, dan grup khusus itu langsung bersahutan mengirim komentar.
Mati aku, ujar Vita ketakutan.
Di dalam ruangan Arsyad, bos ganteng itu langsung menarik tubuh Sha. Memeluknya erat, merasa bersalah dengan segala tuduhan yang diucap Indah. Arsyad tahu, Indah emosi karenanya.
"Maafin aku, Sha. Karena aku, kamu jadi gini!" ucapnya sembari memeluk Sha. Lethisa hanya diam. Pikirannya melayang pada kejadian tersebut dan disaksikan oleh Vita. Sakitnya tamparan tidak seberapa ketimbang rumor yang akan ia hadapi. Meski ia berhubungan baik dengan Vita, tapi tak menutup kemungkinan dia akan menjadikan peristiwa pagi ini sebagai bahan obrolan.
"Udah, Syad. Aku gak papa," ujar Sha berusaha melepaskan diri.
"Sakit?" tanya Arsyad sembari mengelus pipi Sha yang tampak memerah. Sha hanya menggeleng. Ia pun memegang tangan Arsyad, "Aku harap kejadian ini terjadi sekali aja ya, Syad. Aku malu, aku ingin bekerja dengan tenang. Jadi aku mohon jaga batasan kita."
"Sha, bisa kamu bilang seperti itu. Please, Sha. Jangan berdiri sok kuat dihadapanku, aku tahu kamu cewek tangguh, hanya saja dituduh seperti itu hati kamu hancur, jangan sok kuat. Jadikan aku sandaran kamu."
Sha menggeleng, dengan tersenyum. "Seandainya aku tidak menjadi sekertarismu dan dekat denganmu, mungkin aku tidak dipermalukan seperti ini. Jadi aku mohon, sekali aja, kita sebatas profesionalisme saja ya Syad."
"Kenapa selalu memikirkan pandangan orang, aku kenal kamu Sha, kamu bukan cewek cengeng dan hidup dalam omongan orang."
"Itu Sha saat SMA. Bukan yang berdiri di hadapan lo, Syad. Sha yang di depan lo ini sudah rendah diri, trauma dengan anak orang kaya. Dan pagi ini semakin menambah trauma gue, masuk jebakan anak orang kaya, termasuk lo dan Indah."
__ADS_1
"Sha....."
"Tolong, Syad. Gue gak tahu lagi bagaimana menghadapi omongan orang kantor setelah keluar ruangan ini. Semoga gue kuat dan please jangan peduli padaku lagi." Sha berbalik, dan segera keluar ruangan. Sedangkan Arsyad hanya diam membeku, putusnya cinta mengubah karakter Sha. Arsyad pun kecewa, sangat.