
Gak usah nyari Sha nanti mama antar dia pulang. Sehari doang gak ketemu sekertaris gak masalah kan? 😝😝😝😝
Arsyad mendengus kesal membaca pesan yang dikirim sang mama. Apalagi ia banyak kerjaan lagi, baik di kantor konveksi maupun usahanya sendiri. Berbagai email masuk secara beruntun dari orang kepercayaannya, otomatis harus fokus.
Suka suka mama dan nenek deh.
Balas Arsyad. Beruntung juga sih gak ada Sha si pengganggu konsentrasi, dan ia yakin sang mama akan peduli pada gadis itu apalagi hanya urusan makan. Berharap juga Sha besok sudah mau membuka hati untuknya.
Di mall, Sha berjalan bersama nenek dan mama Arsyad, suasana sudah tidak secanggung di awal. Kini ia mulai bisa mengimbangi candaan mama atau nenek Arsyad yang ternyata jauh di bawah usia mereka.
"Kamu mau beli apa, Sha?" tanya mama Arsyad seraya menarik tangan Sha, sedangkan sang nenek sudah masuk ke toko baju tersebut. Tak menyangka beliau sudah sepuh tapi urusan jalan untuk belanja tak kenal lelah.
"Eh...enggak, Ma. Sha masih belum butuh baju kok," tolaknya halus. Bukan niat tarik ulur atau agar mama Arsyad memaksanya untuk mengambil baju, tapi memang ia belum butuh baju baru.
"Eh...dilarang menolak. Sudah kadung masuk sini, ambil yang kamu mau," tawar mama Arsyad sedangkan sang nenek sudah memilih beberapa kaftan yang cocok.
Sha terdiam, apa mungkin mama Arsyad mau menunjukkan bahwa derajat Sha sebatas apa dibanding keluarga Arsyad. Sikap sang mama memang ramah, tapi siapa tahu di balik sikap beliau menyimpan maksud tertentu.
"Kok bengong? Sha dengerin mama ya, mama gak punya niatan apapun, mama tulus mengajak kamu buat beli baju. Mama tidak langsung memilihkan kamu khawatir tidak sesuai dengan gaya fashion kamu."
Deg
Sha spontan menilai. Betapa berdosanya dia tadi, sudah suudzon sama keluarga Arsyad. Ternyata mama Arsyad tahu betul pikiran Sha.
"Anggap aja ini pemberian mama, tak ada tendensi apapun. Beneran."
Sha tersenyum sembari memegang lengan mama Arsyad, "Terimakasih, tapi beneran Ma, Sha belum membutuhkan baju baru. Tak mau memaksa, mama Arsyad akan melakukan plan B, tenang saja beliau cukup cerdas untuk membelikan baju, apalagi dia adalah gadis pujaan si bungsu. Beliau pun menghampiri salah seorang penjaga toko, menunjuk ke arah Sha yang sedang menemani nenek membawa keranjang baju. Beliau meminta bantuan untuk tahu size Sha.
"Size M Nyonya!" ucap pelayan outlet tersebut setelah menatap lekat postur Sha dari kejauhan.
"Sha, menurut kamu blazer ini bagus yang mana?" tanya mama Arsyad membentangkan dua jenis blazer warna cream dan warna soft blue. Sha tak berpikir panjang langsung memilih soft blue. Lanjut ke celana bahan, lagi-lagi Sha disuruh memilih. Tak lupa kaos lengan panjang, jeans maupun kaftan seukuran Sha. Semua diborong oleh Nyonya Wira untuk calon mantu.
"Sha sekali deh, mau ya dibeliin mama sepatu deh!" pinta beliau sembari memohon. Karena urusan baju katanya untuk sepupu Arsyad yang mau datang dari luar negeri.
"Tapi..Ma,"
"Please!"
"Udah ambil aja, Lethisa. Anggap aja sebagai ucapan terimakasih mama dan nenek udah ditemani belanja. Lihat nenek aja udah pilih banyak, masa' kamu satu pun gak ambil. Nanti Arsyad bisa ngomel ke kita," ucap nenek tanpa jeda layaknya nenek-nenek lincah.
__ADS_1
Tak enak hati, Sha pun akhirnya mengalah. Ia memilih sepatu kerja dengan heels 7 cm an warna nude, sangat cantik. Sang mama jeli sekali beliau sudah mencuri pandang sizenya. Segera memilih slip on, sneaker dan sandal serta wedges dicocokkan dengan baju yang tadi dibeli.
Ketika di kasir, mama pun meminta Sha menuliskan alamat rumah, meski cuma sepatu tetap saja lebih baik dikirim ke rumah. "Sebelum isya saya harap sudah dikirim ya Mbak," pesan mama pada sang kasir dan diiyakan. Setelah belanja lanjut keduanya ke outlet roti, sumpah Sha sebenarnya sudah capek banget, hanya saja gak enak kalau bilang. Wajahnya pun dipaksa tetap ceria, dan heran sekali kedua wanita kaya itu tetap on meski berjalan lama. Mungkin orang kaya kali ya, mau menghabiskan uang berapapun gak mikir, jadi happy aja meski gesek berkali-kali.
"Buat kamu, habis ini Arsyad jemput kita!" ucap mama menyodorkan paperbag outlet bakery terkenal itu. Sha hanya bisa mengangguk saja, badannya sudah capek. Dan tak berselang lama, Arsyad sudah sampai. Sha menatap pria itu dengan rasa nano-nano, pokoknya kalau ada kesempatan berdua bakal ia omelin deh.
"Tuh datang," ucap mama sembari menyeruput green tea hangat.
"Cuma makan roti?" tanya Arsyad yang tak suka kalau Sha hanya makan roti. Selama itu masa' iya diajak makan roti.
"Tuh kan Sha, baru juga datang sudah ngomel. Sabar ya Sha." Mama tak menjawab pertanyaan Arsyad, ya kali mengajak anak orang cuma dikasih makan roti. Haduh.....
"Udah mau roti apa, buruan pesan ah dari pada mengomel." Kali ini giliran nenek bersuara, Sha dibuat melongo beliau tidak takut sama sekali makan roti dengan selai durian yang meluber banget. Sha melihat beliau saja rasanya sudah kenyang.
"Cappucino aja!" ucap Arsyad. "Ponsel dan tas kamu," ucap Arsyad menyodorkan tas dan ponsel Sha yang dimasukkan ke dalam paper bag.
Nenek dan mama saling pandang dan bermain mata, " So sweetnya bontotnya mama."
"Ck...apaan sih," decak Arsyad tak suka dipanggil bontot. Sedangkan ketiga wanita beda generasi itu hanya tertawa.
"Makasih," ucap Sha ramah dan Arsyad hanya mengangguk. Tak lama berselang mereka terlibat obrolan ngalor ngidul yang tetap didominasi oleh mama dan nenek, Sha cerewet tapi tidak akan berkutik dengan orang yang belum dekat. Arsyad sampai beberapa kali menegur mama dan neneknya namun disambut tawa meledek.
"Gue takut, Syad," bisik Sha. Arsyad sadar akan ketakutan Sha, khawatir juga kalau Indah ngomong yang enggak-enggak pada mama dan nenek.
"Hai Jeng, Ndah. Lagi belanja juga?" balas mama ramah, seperti biasa, tapi nenek hanya tersenyum lalu melanjutkan makan roti.
"Iya, Tan. Apa kabar Syad, udah jadian nih sama Lethisa?" sindir Indah dengan tatapan sinis pada Sha.
Mama menyadari tatapan Indah yang tak suka dengan kehadiran Sha, "Doain saja ya Nda," jawab mama mengalihkan tatapan Indah. Gadis anggun itu hanya tersenyum, tak puas karena bukan Arsyad yang menjawab. Mama Indah pun segera pamit, tak enak kalau sampai Indah membuat masalah, ia sangat paham sikap anaknya kalau keinginan Indah tak terpenuhi.
Sepeninggal Indah dan mamanya, obrolan kembali berlanjut. Sha sampai bingung mau menanggapi apa dengan topik obrolan yang bervariasi. Berhubung sudah maghrib, akhirnya mama dan nenek pamit pulang dulu, Sha dan Arsyad memilih sholat di mall dulu, baru mengantar Sha pulang.
"Mau makan malam dulu?" tanya Arsyad sembari memasangkan sabuk pengaman Sha.
"Enggak usah, langsung pulang aja. Badan aku lengket banget," jawab Sha sembari menyenderkan punggungnya.
"Mama dan nenek memang begitu kalau sudah belanja, gak kenal waktu."
Sha hanya mengangguk, tak kuat sudah untuk menimpali omongan Arsyad. Cukup tadi saja dipaksa ngomong banyak sama mama dan nenek Arsyad.
__ADS_1
"Ponsel kamu banyak chat dari nomer baru, siapa?" tanya Arsyad mengintrogasi layaknya pacar Sha.
"Irsyad kali," jawab Sha asal sambil merem. Memang beberapa hari terakhir ada nomor baru yang tanya kabar Sha, awalnya diabaikan tapi mendadak bilang kangen dan membahas perceraian dengan Farah. Sudah bisa ditebakkan siapa pengirim pesan tersebut.
"Ouh!"
"Cemburu?" tebak Sha dengan mencolek pipi Arsyad.
"Ya iyalah, main bilang kangen aja!" ucap Arsyad yang sempat melihat pop up pesan itu.
"Kamu buka ponsel aku?"
"Enggak, aku tahu lewat pop up. Aku tahu kali privasi orang meski kamu calon istriku."
Sha memutar bola matanya malas, tadi mama dan nenek ngomongin calon istri eh sekarang anaknya juga, panas nih kuping dikejar jawaban.
"Kamu tadi beli apa?"
"Sepatu, eh ...aku bayar ke kamu aja ya. Khawatir dicap cewek matre nih. Belum jadi apa-apa udah minta bayarin."
"Yakin cuma sepatu?"
"Iya."
"Gratis deh, anggep aja nyicil barang seserahan."
Sha tertawa, ya kali barang seserahan nyicil. "Gak diajak mampir?" tanya Arsyad saat mobilnya sudah di dekat rumah Sha.
"Lain kali ya, nanti gempar kalau Sha bawa pulang laki."
"Janji ya?"
"Iya...iya."
"I love you..." ucap Arsyad sebelum Sha keluar.
"Makasih, selamat malam," jawab Sha dengan tawa meledek. Dan Arsyad pun tersenyum. Tingkah Sha sangat menggemaskan, sudah tak sabar menjadikannya kekasih atau bahkan istri.
Mobil Arsyad pun mulai meninggalkan area perumahan Sha. Sedangkan Sha baru membuka pintu rumah disambut bebrapa paper bag dan sorot tajam dari ibu.
__ADS_1
"Jelaskan!!" pinta Ibu layaknya ibu kos penagih uang sewa..