
Sha tidak baik-baik saja, ia ingin menangis saja. Langkahnya menuju devisi keuangan, sengaja menggunakan lift petinggi perusahaan. Sha menekan tombol di mana devisi keuangan berada.
"Mbak!" sapanya pada Diva, sontak saja kawannya itu gelagapan. Heran, datang tak diundang eh malah nangis. "Kenapa Sha?"
Sha menangis sesenggukan. Tangisannya mirip ketika Irsyad pamit nikah. Heni melihatnya dengan raut penuh tanda tanya. Selama naik jabatan, Sha tidak ada masalah berat, hanya sindir menyindir dari karyawan yang memang iri dengannya. Hanya saja kalau nyinyiran dan bisik-bisik, mereka yakin Sha tahan banting.
"Arsyad jahat banget sama aku, Mbak! Hu...hu..." Diva terhenyak. Pikirannya mendadak negatif pada bosnya. Apakah Arsyad melakukan tindakan pelecehan hingga Sha menangis seperti ini.
"Kamu dilecehin Pak Arsyad?" tebak Heni dan mendapat gelengan kepala.
"Kamu diapaain Pak Arsyad, Sha? Bilang, kalau diberbuat tak baik, meski bos dia harus dikasih pelajaran," tutur Arman sok berani. Spontan Diva dan Heni mencibir, omong doang tapi kalau disuruh menghadapi bos Arsyad keder juga.
"Udah...udah, jangan ditanya dulu. Orang Sha lagi nangis gitu, biarkan dia meluapkan emosinya," ucap Bu Retno selalu bijak. Kemudian, tim keuangan membiarkan Sha selonjoran di sofa setelah berhasil tenang dan tak menangis lagi.
Sebenarnya lo apain si Arsyad! Jual diri lo? Tuduh Indah berlanjut ke chat. Sha ingin mengabaikan tapi chat itu masuk hingga beruntun. Ingin blokir tapi kelihatan gak dewasa sekali. JAWAB ******!!!
Oh Sha tidak bisa ditekan seperti ini. Seenaknya menyebut ****** sedangkan dirinya tak berbuat apa-apa.
Gak malu Mbak sama hijab besar hingga mencela saudara sesama muslim? Kayaknya yang harus Mbak tanya tuh si Arsyad. Kenapa bisa segitunya suka dengan saya. Dan soal jual tubuh, makanan apa itu. Tanpa menjual tubuh pun Arsyad udah jatuh cinta.
Emosi, Sha menulis chat itu dengan dada kembang kempis menahan amarah. Andai saja dia berhadapan empat, Sha akan meladeninya, tapi tidak di lingkungan kantor.
Berani kamu bilang seperti ini, perempuan gak tahu diri.
"Mbak, emangnya aku kelihatan dekat banget ya sama Arsyad?" tanya Sha mengganggu konsentrasi Diva mengerjakan tugasnya.
"Bukan dari sisi kamu, tapi dari Pak Arsyadnya!" jawab Diva yang diangguki Heni. Memang orang terdekat Sha yang tahu latar belakang hubungan mereka, orang lain hanya melihat satu sisi dari kenaikan jabatan Sha yang sebelumnya hanya karyawan biasa.
"Emang kamu kenapa?" tanya Diva sekali lagi. Mumpung Sha sudah lebih tenang dan ia terlebih dulu mengajak Diva bicara.
__ADS_1
"Mungkin habis ini ada video viral ketika aku dilabrak," ucap Sha sendu.
"Eh...maksudnya? Dilabrak siapa?" tanya Diva kaget. Heni pun ikut kaget juga, keduanya langsung mengerubungi Sha, sampai mengabaikan teguran dari Bu Retno agar tetap di meja kerja saja.
"Coba, Hen cari ke anak marketing!" suruh Diva, dia memang begitu sayang dengan juniornya. Baik Heni dan Sha, Diva sangat perhatian dan berusaha sebagai kakak yang baik untuk mereka.
"Emang anak marketing segitunya sama aku ya?" tanya Sha yang tidak tahu sedalam apa, tim marketing membenci Sha.
"Banget, Sha. Dia mah berusaha secantik mungkin dan seketat mungkin seragam lapangan buat menarik perhatian bos. Padahal nih ya, dia mah tugas lapangan kagak bakal ketemu sama bos juga," geram Heni ketika mengingat salah satu anak marketing menyindir Sha menjual tubuhnya kepada Arsyad.
Sha terdiam, tak menyangka saja dirinya banyak dimusuhi orang lain hanya karena dekat dengan Arsyad. Padahal, mereka belum tahu saja kalau Sha dan Arsyad pernah sebangku saat SMA. "Kamu dilabrak Bu Indah, Sha?" tanya Heni yang beberapa saat kemudian mendapat kiriman video dari Kayla. Heni bahkan ikut emosi lantaran caption yang mengiringi kiriman video ini.
Sekarang percaya kalau temen lu memang pelakor. Bukti nyata nih, pacar Pak Arsyad sampai ngamuk. Bela aja terus.
"Lo sampai ditampar?" Diva tak terima. Klien baru tapi sudah berani bersikap kasar pada karyawan.
"Naksir sama Pak Arsyad berarti," lanjut Heni setengah menebak. Sha pun mengangguk. Sha pun menceritakan bagaimana riwehnya Sha menuruti keinginan Indah saat diskusi dengan Arsyad. Banyak aturan dari Indah dalam proyek perdananya tapi sayang Arsyad tak mau menuruti hingga Indah meluapkan kecewanya pada Sha, dan puncaknya pada pagi ini.
"Mungkin Bu Indah mengira kalau aku melakukan segala cara agar Arsyad jatuh cinta sama aku. Padahal sumpah Mbak, aku gak pernah punya perasaan pada Arsyad. Aku hanya ingin kerja!"
"Ya kamu ngomong sama kita sampai 100 kali pun kita percaya, orang lainnya sih enggak. Apalagi video ini kalau tersebar, makin jelek saja pandangan orang terhadap kamu."
"Trus aku harus bagaimana, Mbak?" tanya Sha frustasi. Berbagai rencana agar bisa jauh dari Arsyad, dan yang paling ekstrem adalah resign.
"Jangan resign, Sha. Cari pekerjaan susah, apalagi proyekmu belum jalan kan?" nasehat Diva ada benarnya. Ngomong-ngomong soal proyek, Sha langsung teringat notif yang masuk sebelum Indah menamparnya. Belum sempat ia buka.
"Tuh, kan!" Sha lemas seketika setelah mendapat notif di ig nya.
"Kenapa?" tanya Diva dan Heni kompak.
__ADS_1
Dengan lemas, Sha menunjukkan ponselnya di mana ada akun yang menandainya dalam sebuah foto. Yah...foto saat dirinya bicara empat mata dengan Irsyad. Dan bisa dipastikan itu akun milik istri Irsyad. Apalagi captionnya sangat menohok.
Katanya membantu istri yang tersakiti, ternyata @Sha_Lethisa adalah pelakornya. Segera tobat Mbak.
"Sha...?" Diva pun ikutan mengintrogasi, karena secara jelas orang yang di dalam foto itu adalah Sha dan Irsyad.
"Kita gak sengaja bertemu, Mbak. Dia mengajak balikan dan akan menceraikan sang istri tapi aku menolak. Sungguh!"
Diva dan Heni menghela nafas berat, keduanya yakin Sha tidak akan mengganggu rumah tangga orang lain, termasuk rumah tangga Irsyad.
"Kenapa sih harus gini. Aku harus gimana, Mbak? Habis ini netizen bakal hujat aku. Podcastku bakal hancur sebelum beruang, hu...hu.."
Antara lucu dan kasihan, Diva dan Heni tahu perasaan Sha, tapi keduanya tak bisa berbuat banyak. Hanya bisa memberikan pelukan saja.
"Mau aku kasih saran?" tawar Diva pada Sha yang sekarang hanya menangis sesenggukan.
"Apa?" tanya Heni penasaran.
Sembari tersenyum jahil, Diva pun menyebutkan sebuah saran yang membuat Sha melotot tak percaya, "Pacaran saja sama Pak Arsyad. Double kill tuh musuh kamu, gimana?"
"Ekstrem banget!" gumam Heni dengan senyum jahil, tapi kasih jempol.
"Mbak kok gitu sih," Sha menolak dan tak ada niatan untuk berpacaran dengan Arsyad sama sekali.
"Kalau kamu pacaran sama Pak Arsyad, setidaknya kamu bisa bilang ke semua orang kantor, mau sejahat apapun penggunjing tetap saja Pak Arsyad memilih kamu, dan lagi biar mantan kamu gak gangguin kamu lagi, Sha. Gimana?"
"Setuju banget!" lanjut Heni memberi dukungan, namun Sha hanya diam. Menjalin hubungan dengan orang laki-laki kaya dan tampan sangat ia hindari, dan saran Diva pun lebih bahaya.
"Gimana?" desak Diva dengan menurunkan alisnya, namun Sha tetap memilih bungkam, hatinya sangat menolak, namun di detik berikutnya ia tetap memilih sendiri dulu.
__ADS_1