
Sha disambut dengan hangat oleh keluarga Arsyad. Sang mama mertua bahkan sudah berdiri dan merentangkan tangan menyambut menantu kesayangan. "Selamat datang sayang," ucap mama sembari memeluk Sha erat. Mengelus punggung sang menantu yang lebih kurus dibandingkan saat diajak belanja dulu.
"Ayo duduk," ajak sang mertua. Sha tertegun, di meja sudah tersedia aneka jenis kue baik kering maupun jenis roti beserta minuman squash lemon yang menggiurkan. Sengaja sekali memberikan penyambutan istimewa untuk menantu. Ah...Sha dibuat meleleh nih.
"Mama kok repot sekali menyiapkan kue-kue ini," ucap Sha tak enak hati.
"Hei....mama gak repot. Ini loh cuma kue dan minuman aja sayang. Repot tuh kalau sampai mama nyewa tenda undang tetangga," ujar mama mertua dengan terus menggandeng lengan sang putri sembari duduk di sofa.
"Mama..gantian dong pegang tangan Sha," celetuk Arsyad yang sejak tadi iri melihat kedekatan mereka. Sejak datang, sang mama tak melihatnya malah langsung fokus pada Sha. Sebagai anak bungsu posisi dimanja tergeser.
Sang mama langsung melirik Arsyad, "Mama cuma pinjam Sha berapa menit sih, Tot. Tiap malam juga kamu kelonin," ceplos mama yang langsung membuat Sha menunduk, malu.
Arsyad hanya menyengir, tak bisa diprediksi memang jawaban absurd sang mama. Sha dikenalkan juga beberapa ART di rumah ini, koper Sha pun sudah diantar ke kamar. Arsyad langsung fokus di laptopnya. Memang Arsyad sudah bolos kantor hampir seminggu, tapi tiap hari juga kerja di rumah. Sha pun mulai menyusun baju dan barang di tempat yang sudah ditunjukkan.
"Bi, kamu masih kerja?" tanya Sha yang menata pakaiannya di lemari.
"Iya, kenapa? Mau menciptakan sejarah di kamar ini?" tawarnya dengan seringa lucu, dan menatap laptop. Sha langsung melengos kesal, ya kali dia ngajak begituan dulu.
"Apaan, sih!" ucap Sha diiringi decakan sebal. Arsyad terkekeh dibuatnya. Ia pun mendekati sang istri lalu memeluk Sha dari belakang.
__ADS_1
"Tapi aku mau, gimana dong!"
"Gak enak tahu sama mama," ucap Sha sambil menggerakkan pundaknya, mengusir Arsyad yang menempel di pundaknya.
"Mama paham lah, apalagi anak bontot lepas perjaka loh," bela Arsyad dengan mengendus leher putih Sha.
"Ck...," Sha berdecak sebal lalu membalikkan badan. Sekarang keduanya berhadapan, kening mereka pun bersatu.
"I love you," ucap Arsyad. Hati mana seorang istri diperlakukan manis begini. Sha pun tak perlu dikomando langsung mengalungkan tangannya di leher Arsyad, sembari tersenyum manis ia pun menjawab. "I love you too."
Adegan mesra selanjutnya berlanjut ke ranjang. Sepasang pengantin baru itu mewujudkan sejarah di kamar Arsyad. Keduanya memadu kasih penuh ungkapan cinta, sungguh Sha dibuat bahagia terus dengan perlakuan Arsyad.
"Udah ya?" ucap Sha dengan nafas ngos-ngosan.
Hanya keluarga Arsyad yang sekarang ia miliki, ah kalau berbicara keluarga, Sha begitu miris. Di dunia ini ditinggalkan sang ibu tapi diberi kenikmatan luar biasa dengan mendapat keluarga baru yang insyaAllah menyayanginya.
"Lagi apa, Ma?" tanya Sha yang mendengar suara mama mertuanya sedang di dapur. Ternyata lagi bicara sama Mbak Sumi, salah satu ART bagian dapur. Beliau memilih beberapa sayuran dalam lemari es.
"Udah istirahatnya?" tanya mama dengan sentum sejuta makna. Sha mengangguk malu. Pasti sang mama paham dengan kegiatan anak bontotnya di kamar, apalagi Arsyad tak menyuruh ART membantu Sha menata barang.
__ADS_1
"Mama mau masak, nanti kakak-kakakmu datang sama bawa bocil-bocil," jawab mama.
"Wah...ramai dong, Sha boleh bantu?" tawar Sha dengan riang. Mama pun mengangguk.
"Boleh. Mama tuh seneng masak Sha sebenarnya, wah makin seneng nih kalau ada yang bantuin!"
Keduanya pun saling bercerita tentang makanan kesukaan. Hingga sang mama mertua menangkap sesuatu yang janggal di leher menantu.
"Sha!" ucap mama sembari berbisik.
"Iya, Ma?" tanya Sha bingung, sang mertua kok mendadak berbisik.
"Anak mama kebangetan ya?" tanya beliau lalu cekikikan. Sha hanya mengerutkan dahi. Bingung.
"Leher kamu," ujar beliau lirih. Spontan Sha melotot, keasyikan bergulat lupa kalau Arsyad mencetak tanda di leher.
"Mamaaaa," rengek Sha yang malu sekali kepergok dianuin sama anak bungsunya. Wanita cantik paruh baya itu tak kuasa menahan tawa. Ternyata sang anak normal menyukai perempuan.
"Eh..gak pa-pa, mama juga pernah jadi pengantin baru, Sha. Cuma mama heran, ternyata..."
__ADS_1
Sha yang sebenarnya masih malu, tetap saja menoleh ke arah mertua yang menggantung ucapan beliau. "Ternyata?" tanya Sha penasaran.
"Bontot laki normal ya, tuh bisa bercinta sama kamu," mama semakin nyaring tawanya. Sha sudah tak bisa berkutik, malu setengah mati.