
Suster jaga datang, langsung memeriksa tekanan darah Bu Rahmi serta mengecek alat bantu pernafasan. Suster itu menjelaskan karena posisi Bu Rahmi agak miring hingga mendengkur. Sha mengangguk saja, karena memang posisi miring sepertinya lebih nyaman, terbukti ibu tidur dengan nyenyak.
Sha dan Arsyad kembali memejamkan mata, kali ini keduanya berjauhan. Badan keduanya pegal karena tidur miring dan tak bisa gerak bebas.
Tepat pukul 5 pagi, Sha bangun lebih dulu. Membersihkan diri lalu membangunkan Arsyad.
"Bentar 5 menit lagi sayang," ucap Arsyad sembari memejamkan mata.
"Mas ayo jamaah shubuh. Ibadah pertama kita loh," lirih Sha di dekat Arsyad sembari memakai mukenahnya.
Arsyad mengerjapkan mata, masih belum fokus benar tapi bisa melihat betapa teduhnya wajah cantik Sha dengan mukenah.
"Sini, peluk aku dulu!"
"Aku udah punya wudhu, cepetan ah. Atau kita sholat sendiri."
"Eits....tunggu dulu," ujar Arsyad sembari beranjak menuju kamar mandi. Keduanya pun sholat berjamaah dengan khusyuk.
Setelah salam, Sha mencium tangan Arsyad dan dibalas dengan ciuman di kening. "Bi, kok aku jadi curiga sama ibu ya, belum bangun sampai sekarang."
"Beliau tidur nyenyak karena beban pikiran beliau sudah terjawab."
"Apa?" tanya Sha dengan mengerutkan dahi.
"Suami buat putri satu-satunya. Sadar gak sih, ibu tuh khawatir dengan kamu. Beliau lagi sakit siapa yang jaga kamu, siapa yang menemani kamu menjaga beliau, dan datanglah suami gantengmu ini!"
Sha mencebik kesal namun tertawa juga, "Bisa aja sih," jawab Sha sembari menarik hidung mancung Arsyad. Tak lama setelah mereka sholat, Sha rebahan diri di sofa di samping Arsyar yang fokus dengan ponsel. Mereka menunggu mbak Marni. Karena memang Mbak Marni diminta datang setiap pagi, ikut menjaga ibu siapa tahu Sha ada kepentingan lain.
"Hari ini ngantor?" tanya Sha yang juga ikutan bermain ponsel.
"Iya, tapi agak siangan. Kenapa?"
"Siapa yang bantu kamu, Bi? Pak Danu?"
Arsyad mengangguk, memang Sha meminta cuti seminggu untuk menemani sang ibu, tak mungkin ia bisa meninggalkan ibu meski ada Mbak Marni.
"Gak cuti nikah?" tanya Sha asal.
Arsyad menoleh pada Sha, dan tertawa, tak lupa mencubit pipi istri kesayangannya. "Kan gak ada yang tahu kalau kita nikah, lupa kemarin siapa yang minta disembunyikan?"
__ADS_1
Sha meringis malu, "Bukannya gak mau kasih tahu, nanti saja setelah kondisi sudah oke, baru kasih tahu."
Arsyad mengangguk saja, tak lama kemudian Mbak Marni datang.
"Mbak mau sarapan apa?" tanya Sha yang sudah bersiap mengambil dompet dan hp, ia mau mengajak sarapan dengan Arsyad.
"Udah Mbak Sha, tadi saya sempat beli sebelum berangkat," ucap Marni sembari membuka korden kamar Bu Rahmi.
"Oke...Kalau gitu saya sarapan sama Mas Arsyad dulu ya, Mbak. Nitip ibu, beliau dari tadi malam gak bangun sama sekali loh, tapi kalau dipanggil cuma nyahut hem...saya sarapan di kantin rumah sakit aja!"
Mbak Marni mengangguk, Sha dan Arsyad kemudian keluar kamar. Mereka beriringan, tak ada rangkulan pundak atau pinggang. Sha sadar mungkin Arsyad bukan tipe cowok yang bucin di tempat umum.
Ting
Di saat keduanya menunggu teh hangat dan soto ayam, Sha menerima pesan dari Mita. Ia pun membukanya.
Sebuah foto yang ia tahu siapa sosok yang dipotret sang sahabat. "Siapa?" tanya Arsyad yang melihat Sha mengerutkan dahi ketika melihat ponsel.
"Irsyad!" ucap Sha sembari menunjukkan layar ponselnya pada sang suami.
"Kenapa lagi?" tanya Arsyad malas. Langsung cemberut, Sha mencolek lengan Arsyad.
"Kenapa kirim pesan ke kamu juga, captionnya juga bikin keki."
Sha tertawa, ia ingat ada caption yang menyertai gambar sang mantan yang patah hati.
"Biarin dah! Makasih Mbak," ucap Sha saat pelayan mengantarkan soto dan teh hangat.
Keduanya makan dengan tenang, setelah menghabiskan sarapan pasangan pengantin baru itu kembali ke kamar rawat ibu. Sha bersyukur Alhamdulillah karena sang ibu sudah bangun, bahkan sudah diseka oleh Mbak Marni.
"Alhamdulillah, ibu akhirnya bangun juga. Nyenyak banget tidurnya," ucap Sha sembari memeluk ibu.
"Malu ah ada suamimu," ujar beliau mengurai pelukan sang putri. Sha pun cemberut. Lebih tepatnya malu-malu kucing.
"Ibu mau sarapan sekarang?"
"Urus suamimu saja, Sha. Ibu ada Mbak Marni."
Sha kembali terdiam, ia tahu posisinya sekarang. Tapi Arsyad agak siang ke kantor, dia pun masih bermain ponsel, diurus apalagi, batin Sha.
__ADS_1
"Apa ibu mau saya suami?" tanya Arsyad mendekati bankar.
"Tidak perlu, Nak Arsyad ada Mbak Marni. Kamu gak ke kantor?" tanya ibu perhatian. Mereka menikah mendadak, pasti orang kantor banyak yang gak tau, jadi Arsyad tidak mungkin ambil cuti.
"Nanti agak siangan, Bu ke kantor!" jawab Arsyad sembari memegang pundak Sha.
Bu Rahmi tersenyum, ia yakin pengantin baru itu belum melakukan ritual pengantin. Beliau melirik jam dinding, masih setengah 7 lebih, biarlah mereka menikmati waktu berduanya dulu, pikir beliau.
"Pulanglah, Sha. Siapkan baju kantor suamimu dulu," ucap ibu dengan wajah berseri. Mungkin karena tidurnya nyenyak, wajah beliau lebih cerah meski masih pucat. Anehnya, Sha tidak mendengar nafas berat ibu lagi saat ini.
"Gimana, Bi?" tanya Sha galau. Sejak masuk rumah sakit, tak pernah meninggalkan sang ibu sendiri, tapi kini tugasnya juga bertambah menjadi istri.
"Udah, sana pulang. Ibu gak pa-pa, kamu lihatkan ibu sehat sekali. Kasihan kalian masa' malam pertama di rumah sakit," ucap ibu terkekeh. Mbak Marni yang berdiri di samping bankar majikannya ikut terkekeh. Kasihan sekali nasib pengantin baru ini.
"Ya udah, Sha pulang dulu sama Arsyad. Kalau ada apa-apa langsung telpon Sha," ucap Sha akhirnya mengalah, dan dijawab acungan jempol oleh Mbak Marni.
Arsyad hanya diam saja, ngikut apa kata istrinya. Ia juga sadar, untuk saat ini prioritas Sha biarlah merawat sang ibu, yang penting udah bisa nikah dengan Sha, bagi Arsyad sudah anugerah yang patut ia syukuri.
Setelah memastikan kebutuhan ibu oke, Sha pun pamit. Saat salim ibu pun berpesan, fokus melayani suamimu dulu. Ibu ada Mbak Marni, kalau dokter nanti periksa Mbak Marni bakal merekam biar kamu bisa dengar apa kata dokter nanti.
Sedangkan saat Arsyad pamit pesan ibu membuat dirinya terdiam, Malam pertamanya diganti pagi pertama, gak pa-pa kan?
Bahkan sampai di mobil Arsyad diam, masih terngiang ucapan ibu mertuanya. "Bi kenapa?" tanya Sha heran, gak biasanya sang suami diam.
"Masih bingung dengan pesan ibu, padahal aku gak kepikiran sampai situ loh."
"Emang apa yang ibu katakan?"
"Malam pertama diganti pagi pertama gak pa-pa kan?" ucap Arsyad menirukan pesan ibu mertua. Sha yang awalnya penasaran, tak berkomentar sama sekali. Ia pun sempat berpikir apa iya sang ibu menyuruh dirinya dan Arsyad segera melakukan ritual pengantin baru. Duh.....
"Aku sebenarnya ada beberapa kemeja dan celana kerja di mobil, ini mau ke rumah mama apa rumah kamu?"
"Hem?" Sha pun bingung diberi pilihan itu, kalau ke rumah sang mertua ia belum siap. Tapi kalau di rumahnya bisa jadi ritual pagi pertama terjadi. Bingung.
"Gimana Sayang kok malah melamun?" tanya Arsyad sembari memegang pipi sang istri.
"Ke rumah ibu aja deh, sekalian aku mandi."
"Oke!" jawab Arsyad. Saat mobil berjalan keduanya diam dengan pikiran masing-masing dengan bayangan pagi pertama nanti.
__ADS_1