JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
BOS KECIL


__ADS_3

"Iya tanya aja sama papa mama kalian, pasti nanti dijawab," bujuk Arsyad menyerah akhirnya dengan pertanyaan beruntun Mika dan Rafly tentang game. Sekarang dirinya menggandeng kedua ponakan menuju kamar sang abang.


"Wah pinter banget kamu bujuk mereka balik," ujar Akbar saat membuka pintu kamar mendekati kedua anaknya diantar.


Arsyad tertawa tertahan menyerahkan kedua bocah cilik itu pada bapak mereka. "Jangan lupa tanya ya. Kalau sudah dalat jawabannya, besok diajak Om Acad ke kantor Tante Sha."


"Oke siap, Om!" Ujar Rafly dengan mengacungkan jempol lalu berlari naik ke ranjang dan loncat-lancat khas anak kecil kalau bertemu kasur.


"Siapkan mental, Bang!" Ujar Arsyad lalu berbalik ke kamarnya dengan terbirit. Tak mau ada pengganggu lagi, Arsyad langsung mengunci kamarnya. Dilihatnya sang istri yang sudah berganti pakaian dinas malam. Arsyad langsung membuka kaos lalu menarik tubuh ramping sang istri.


"I love you, Bismillah...." ucap Arsyad memulai petualangan bercinta ke sekian kalinya. Sha tak bisa berkutik, ia hanya pasrah dan berusaha mengimbangi tenaga Arsyad yang luar biasa.


Sha hanya memejamkan mata ketika cairan hangat memasuki tubuhnya. Nafas tersengal sang suami terdengar jelas. "Udah ya, besok kita mulai masuk kerja loh!"


Arsyad hanya mengangguk, berguling ke samping ranjang. Sha merapatkan selimut untuk dirinya dan suami. "Bi..."


"Hem!" jawabnya dengan memejamkan mata.


"Jangan pernah bosen sama aku ya?" tanya Sha yang tiba-tiba melankolis. Arsyad yang sudah mau ke dunia mimpi terpaksa membuka mata kembali.


"Kok?" tanya Arsyad heran. Benar saja di pelupuk mata sang istri terdapat buliran air mata. "Tanya gitu banget, sih?"


Sha tak menjawab, ia mendekatkan tubuh polosnya pada sang suami, memeluknya erat. "Hei, kenapa?"


Sha hanya menggeleng, Arsyad tak tahu penyebabnya, ia hanya membalas pelukan erat sang istri. "Kamu tahu kan aku punya pengalaman dikhianati laki-laki, dan aku gak mau terjadi untuk ketiga kalinya. Apalagi di saat aku sudah tak punya ibu," Sha kembali menangis. Sebenarnya Arsyad masih heran kenapa Sha tiba-tiba merasa kayak gini, tapi ia tak mau bertanya detail. Hanya mendengarkan saja.


"Saat keluarga Abang Akbar datang, mereka menerima aku juga rasanya bahagia banget. Aku yang dulu punya hanya ibu, sekarang keluarga yang menyanyangiku banyak banget. Aku takut ini hanya sementara, gak bayangin gimana rasanya."


"Keluarga Wira akan terus menyanyangimu sayang."

__ADS_1


"Ya tapi kamu janji dulu, gak pernah ninggalin aku dan gak pernah duain aku."


"Iya!"


"Iya apa?"


"Iya...gak pernah ninggalin kamu, gak pernah selingkuhin kamu, gak pernah duain kamu."


"I love you," ucap Sha mengawali. Arsyad sampai bangun, karena selama ini dia yang selalu bilang i love you dulu. "Kok kamu kaget gitu?"


"Hah? Enggak...aneh,"


"Maksudnya aneh?"


"Gak biasanya kamu mau bilang i love you duluan, biasanya tinggal jawab aja."


"Eleeehhh marah nih, ye!" goda Arsyad dengan merengkuh pinggang Sha. Mengendus kembali pundak polos sang istri.


"Dengar ya sayang, aku menyukaimu sejak SMA. Kuliah di luar bertemu dan dekat dengan banyak perempuan cantik tapi aku juga tak kunjung punya pacar. Bagi lelaki sejati, mencintai seorang wanita cukup sekali. Setia itu selamanya. Cup," meleleh hati Sha. Tersenyum malu, lalu memeluk Arsyad.


"Makasih," ada rasa damai ketika suami mengatakan dengan jelas prinsip hidupnya. Sha percaya bahwa Arsyad tidak seperti ayah dan mantannya. Aamiin.


Pagi di keluarga Wira. Memang jarang terdengar suara riuh anak kecil karena cucu tuan Wira hanya sesekali ke rumah utama, seperti sekarang.


Bahkan Sha tak menyangka kalau Mutia yang dianggap kalem, bisa ngomel juga. Terdengar dengan jelas, Mutia meminta Mika dan Rafly bangun, oke masih terpantau suara aman. Begitu mau pakai baju, Mika malah lari-larian, mengejar Rafly yang merebut sisir kesayangannya. Belum lagi tangisan anak ketiga Akbar karena botolnya habis, dan Akbar masih otw membuatkan. Sungguh mendengarnya saja rempong setengah mati.


Sha menghela nafas berat, sembari membantu Arsyad berpakaian ia memikirkan sesuatu. "Kenapa?" tanya Arsyad dengan merangkul pinggang Sha. Menatapnya penuh cinta, ditambah melihat bekas percintaannya tadi malam di pundak Sha yang masih mengenakan tank top.


"Nanti kalau kita punya anak, jaraknya agak jauh ya."

__ADS_1


Arsyad spontan tertawa, setelah shubuh tadi Sha memang turun ke dapur, membantu menyiapkan sarapan bersama Mbak Mutia dan ART. Di situ Mbak Mutia menata sarapan sesuai kesukaan anak-anaknya. Ribet. Itu yang ditangkap Sha, karena menu kesukaan mereka berbeda. "Kenapa?"


"Mbak Mutia seribet ituloh," ucapnya lirih takut terdengar orang. Bukan berniat ghibah, tapi hanya mengungkapkan pendapat saja.


"Abang emang kebangetan, bikin anak 2 tahun sekali, jadilah serempong itu."


"Kalau kamu gimana?"


"Aku mah santai, punya anak sekarang oke. Agak entaran juga oke. Yang penting kita berusaha. Dan untuk anak kedua, aku juga maunya berjarak kok sayang. Tunggu anak pertama gedean dan bisa mandiri, biar kita gak capek mengurusnya."


Sha tersenyum mendengar ungkapan Arsyad soal anak, ternyata pemikiran Arsyad sesuai dengan keinginan Sha. "Tapi kalau gak kebobolan ya," ledek Arsyad yang langsung mendapat tabokan di lengannya.


Di meja makan, kehebohan terjadi karena Rafly dan Mika mau duduk di samping Sha. Mereka berebut, karena sisi satunya sudah duduk Arsyad yang pura-pura cuek, gak mau kalah. Kursinya ogah dikasihkan pada duo krucil sok cari perhatian pada Sha. Non Sense.


"Bi..." Sha minta tolong agar Arsyad mengalah, karena ia juga tak bisa sarapan.


Arsyad minum kopi susunya, berdehem sebentar lalu "Cepetan makan deh, katanya ikut Om ke kantor."


Tanpa dikomando, Mika dan Rafly duduk anteng, makan dengan lahap tanpa membantah. Sha sampai bengong, tahu gitu sejak tadi menyuruh sang suami turun tangan, mana dia gak peka lagi.


Hari ini kedua bocil bolos sekolah, mereka menikmati kencan bersama tante barunya, okelah tak masalah. Mereka benar-benar ikut ke kantor dan digandeng Sha. Rombongan bos dan sekertaris itu datang mepet jam masuk kantor. Beberapa karyawan sudah riwa-riwi menuju ruangan masing-masing. Rafly yang digandeng Arsyad menoleh kanan kiri melihat keadaan sekitar. Begitu masuk lift, bocah kecil itu langsung menghela nafas berat dan menggeleng.


"Kenapa?" tanya Arsyad menatap gelagat aneh ponakannya.


Rafly menatap intens sang om, dengan melipatkan tangan di dada, sok bossy gitu. Gemas. Sha pun tertawa.


"Cewek-cewek tadi jahat!"


Arsyad dan Sha melongo, cewek yang mana nih yang dimaksud. "Siapa?" tanya Arsyad dengan mengerutkan dahi.

__ADS_1


__ADS_2