JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
TEGA


__ADS_3

Sha hari ini terlambat berangkat kerja, sampai lobi kantor ia berlari mengejar check lock. Baru saja mau mengantri lift, tangannya ditarik Arman.


"Ikut Pak Danu!" ujar Arman masih memegang tangan Sha. Ia menatap tangannya lalu ke Pak Danu, tampak beliau mengangguk saja. Mempersilahkan Sha dan Arman di lift khusus. Danu hari ini akan audit keuangan bersama Arman karena Bu Retno berhalangan, sang putra sakit.


"Tumben telat?" tanya Arman saat Sha mulai mengatur nafasnya.


"Kesiangan, tadi malam bikin konten!" Arman dab Sha bercengkrama tanpa melibatkan Danu, hingga membuat orang kepercayaan Pak Wira itu mengerutkan dahi. Beliau merasa heran, sejak kapan Sha jadi konten creator. Apalagi sejak jadi sekertaris Arsyad Sha selalu sibuk dan dikuntit Arsyad.


"Lah emang kamu bikin konten apa Sha?" Pak Danu gak mau jadi patung, ia pun tak sungkan nimbrung dalam obrolan mereka.


Sha meringis, "Hanya konten iseng, Pak!"


"Konten iseng apaan, kontennya bikin mewek dan membuat kaum adam bersalah!" sahut Arman cerewet. Sha pun mencubit lengan Arman, tak suka.


"Konten apaan tuh?" Danu pun penasaran. Satu hal informasi yang tidak diketahui Arsyad.


"Lihat aja channel ytb Sha dalam Cerita!" lanjut Arman, pria yang dikenal pendiam berwajah datar ternyata cerewet minta ampun.


Danu hanya mengangguk, lantai devisi keuangan sudah sampai, Arman keluar dulu untuk mengambil berkas audit. Sedangkan Danu dan Sha melanjutkan ke lantai selanjutnya, di mana ruangannya berada.


"Kenapa jadi ytber, Sha?" tanya Danu ketika di lift hanya mereka berdua. Gak mungkin dong, diem-dieman, apalagi mereka sering bekerja sama untuk membantu Arsyad menganalisis dokumen.


"Pengen cari projek baru aja, Pak. Bisa nambah uang jajan!" jawab Sha diplomatis, ia gak mungkin dong menjabarkan alasan utama pada Danu dalam membuat konten.


Danu hanya mengangguk, "Ini ya?" tanya Danu memastikan sembari memperlihatkan layar ponsel yang sudah menampakkan channel Sha.


"Iya, Pak! Tapi bapak hanya sekedar tahu aja ya, jangan ikutan minta shoot?"


"Maksudnya?"


"Saya kan belum digaji sama ytb, gak bisa bayar Pak Danu kalau mau jadi bintang tamu," jawab Sha polos, yang membuat Danu tertawa lebar. Tepat saat itu pintu lift terbuka dan menampilkan sosok Arsyad sudah berdiri di depan meja kerja Sha. Bersedekap, dengan tatapan lurus pada Sha dan Danu.


"Pawang kamu marah kayaknya," lirih Danu sambil berjalan mendahului, menyempatkan menyapa Arsyad namun tidak dijawab. Danu tak ambil pusing, dia langsung ngacir begitu saja.

__ADS_1


"Jam berapa baru datang? Jangan samakan posisi kamu dengan Danu, lagian kenapa bisa berangkat bersama? Janjian? Mana sarapan saya!"


Sha hanya menelan ludah dengan kasar, tak tahu mana yang harus dijawab lebih dulu. Hanya kata maaf yang diucapkan Sha sembari menunduk.


"Mana sarapan saya?"


Sha melirik meja kerjanya, sudah ada kotak bekal. Kayla benar-benar memenuhi janjinya. "Sebentar saya ambilkan, Pak!" Sha pun meletakkan tasnya sebentar lalu meraih kotak bekal itu, akan membawanya ke ruangan Arsyad. Namun sebelum masuk, Sha sudah dintrogasi bos ganteng itu, " Kotak makan siapa itu?"


"Kotak makan untuk sarapan, Pak Arsyad," jawab Sha santai. Ia tak mau menjelaskan detail yang jelas di atas kotak bekal sudah tertera pesan untuk Pak Arsyad.


"Dari?"


"Penggemar Pak Arsyad mungkin, karena di sini sudah ada pesannya."


"Bukan dari kamu?"


Sha menggeleng, "Saya tidak membawa bekal untuk Pak Arsyad pagi ini."


"Lah mubadzir dong, Pak. Dia sudah susah-susah bikin sarapan untuk Pak Arsyad loh, kasihan kalau gak dimakan!"


Arsyad diam dan menatap tajam pada Sha, ia sedang menelisik gelagat sekertarisnya itu. Katanya tadi tak tahu siapa pengirimnya, tapi sekarang ia bilang pengirim bekal itu susah bikin sarapan. Aneh.


"Katakan siapa pengirim bekal itu!"


"Ya mana saya tahu, Pak. Kan kotaknya sudah ada sebelum saya datang!" masih menyembunyikan identitas rupanya, dan mengabaikan raut tak suka Arsyad.


"Kalau mubadzir, makan saja!" Arsyad malas untuk berdebat dengan Sha. Ia pun mulai membuka macbooknya, dan fokus pada pekerjaan. Bahkan Sha meletakkan kotak bekal itu di meja begitu saja, ia juga tak mau memaksa Arsyad untuk memakannya, palingan kalau lapar pasti dimakan, gitu sok-sok an menolak.


Sampai menjelang siang, Sha masuk ke ruangan Arsyad dan melirik sebentar pada kotak bekal itu. Utuh dan tak bergeser tempat, ia menatap Arsyad yang masih mengabaikan keberadaannya.


"Bapak dari tadi belum sarapan?" tanya Sha mulai khawatir.


"Belum."

__ADS_1


"Kenapa sih masalah sarapan aja ribet!" spontan Sha bernada jutek. "Sekali-kali Bapak tuh menghargai usaha orang lain, tentu orang yang memberi Pak Arsyad sarapan itu punya tujuan tertentu. Beda dengan saya, karena saya disuruh oleh Bapak. Bukan atas inisiatif saya sendiri, ogah juga!"


"Yang bikin ribet tuh kamu, tinggal jawab saja susah!" Arsyad tak mau kalah.


"Yakin kalau saya kasih tahu, Bapak mau makan juga?"


"Enggak!"


"Ya terus buat apa Bapak tahu, heran deh. Terserah deh, Bapak bukan anak kecil yang harus saya ingatkan untuk makan. Ini berkas yang harus Pak Arsyad tanda tangani," Sha pun menyodorkan berkas yang harus ditanda tangani Arsyad, tanpa peduli sang bos lapar atau tidak.


"Sha bisa gak sih kamu perhatian dikit sama bos kamu?" tanya Arsyad sembari membubuhkan tanda tangan pada tempat yang ditunjukkan Sha.


"Tidak bisa," jawab Sha tegas.


"Saya bukannya gak mau makan dari orang lain selain kamu, tapi saya khawatir saja diracun atau kena pelet. Siapa yang akan tanggung jawab," jelas Arsyad membeberkan alasannya.


"Begini ya, Pak. Di luar sana banyak yang mengincar posisi saya, dengan berkata yang tidak benar. Termasuk menerka saya menggoda Pak Arsyad, sampai-sampai mereka mengira saya memakai pelet dari makanan yang tiap hari saya tenteng. Untuk membuat citra saya baik, saya pun memberitahu pada salah satu fans Bapak untuk membawakan bekal sarapan, so makanan itu gak mungkin diberi racun tapi kalau guna-guna mungkin."


"Jadi kamu lebih mementingkan omongan orang, ketimbang permintaan aku?"


"Iya, karena saya di sini ingin bekerja dengan tenang tanpa ada gangguan apapun termasuk rumor pencitraan dengan Bapak."


"Meski itu permintaan bos kamu? Ingat....mereka hanya bisa ngomong di belakang kamu tapi tidak bisa memecat kamu. Harusnya kamu berani dong, mengancam mereka agar tidak menggunjing kamu. Caranya laporkan kepada saya siapa oknum itu, kan bisa saya pecat tanpa alasan."


Bos sinting! Umpat Sha dalam hati. Bagaimana tidak hanya karena sekertarisnya tidak disukai oleh orang lain, bosnya yang bertindak menggunakan kekuasaannya.


"Bapak bisa gak sih profesional, tak perlu lah memecat orang dengan alasan pribadi!"


"Perlu kamu ingat, Sha. Siapapun yang mengusik kebahagianmu akan berhadapan langsung dengan aku."


Sha terdiam, untuk kesekian kalinya Arsyad menunjukkan perasaannya. Namun, Sha hanya diam, dan tak berapa lama berpamitan untuk makan siang, tanpa mengajak pak bosnya.


Tega!!!!! Balas Arsyad frustasi.

__ADS_1


__ADS_2