JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
PINDAH


__ADS_3

Lantunan kalimat tahlil terdengar menggema di rumah Sha, sudah seminggu sang ibu pergi untuk selamanya. Hari ini hari terakhir tahlil di rumah. Selama itu pula Sha ditemani Arsyad dan mama mertua, sedangkan papa mertua datang saat sore sepulang dari kantor.


"Sha, teman kantor datang!" ucap mama yang membuat Sha sedang minum tersedak seketika. Ia pikir di tahlil terakhir sudah tidak ada pelayat lagi, lah ini...pelayat terakhir malah pelayat paling berbahaya.


"Kok?" tanya Sha kaget. Kabar meninggalnya sang ibu teman kantornya tidak diberitahu. Sengaja. Karena ia yakin Arsyad selalu di sampingnya, Arsyad juga belum memberikan kabar apapun soal pernikahan kepada khalayak.


"Danu yang keceplosan sama Arman," ujar Arsyad santai. Ia mencium pipi sang istri, lalu mengajak Sha keluar menemui tamunya.


"Trus?"


"Jawab aja apa adanya palingan cuma anak keuangan," jawab Arsyad santai. Keduanya pun keluar dengan Arsyad merangkul pundak Sha.


Benar saja anak keuangan dibuat melongo, Arsyad langsung tersenyum puas, biarlah rekan kerja Sha yang tahu lebih dulu hubungan mereka sebelum resepsi.


"Biasa aja, ekspresinya Mbak Diva!" tegur Sha yang baru menyalami Bu Retno.


"Gue mimpi gak sih," ujar Mbak Diva belum percaya. Sha langsung mencubit lengan seniornya itu. "Gusti Pengeran sakit, Sha! Wah....kabar apa ini?" tanya Diva yang menuntut penjelasan lebih.


"Jadi Pak Arsyad udah jadian sama Sha?" tanya Heni heboh. Arsyad tak menimpalin ia hanya tersenyum tipis lalu bergabung dengan Arman dan Danu duduk di tikar depan rumah.


"Giman Sha?" desak Diva penasaran. "Lo tau gak, kabarnya kan kamu gak masuk sudah lebih dari 3 hari. Eh Pak Arsyad juga gitu kan, anak marketing heboh dengan spekulasi mereka."


"Biarin lah, Mbak. Mereka mah udah biasa mikir kayak gitu ke aku," lanjut Sha tak mau ambil pusing.


"Sampai beberapa orang wa gue tahu,"lanjut Heni sembari cemberut.


"Mereka kalau tahu hubunganku sama Arsyad beuh pasti langsung jungkir balik," ucap Sha mengompori. Diva dan Heni langsung mendekat, dengan wajah keponya. Menaik turunkan alis, agar Sha bercerita detail.


"Kalian ini mau takziyah apa jadi infotaiment?" sindir Bu Retno setelah dari kamar mandi. Diva, Heni dan Sha cekikikan bersama. Percayalah, Sha sangat terhibur dengan kedatangan rekan kerja satu devisinya dulu.


Mata sembapnya tak bisa bohong, kalau dia memang berduka. Tapi malam ini ia bisa tertawa lepas karena celetukan dari Bu Retno. "Plus-plus lah, Bu!" sahut Heni kemudian.


"Memangnya ibu kamu sakit apa?" tanya Bu Retno sepertinya mau tahu kronologi meninggalnya ibu Sha.


"Sakit jantung, Bu. Lebih tepatnya serangan jantung mendadak, cuma kata dokter kalau dioperasi juga tidak memberikan hasil yang memuaskan!"

__ADS_1


"Parah berarti ya?" tanya Heni.


"Katanya serangan jantung ringan, hanya saja kok menjadi drop. Mungkin ibu sudah punya riwayat penyakit, tapi gak pernah dirasa dan gak pernah medical check up, akhirnya begitulah!"


Heni dan Diva mengangguk saja mendengar cerita Sha. Takdir meninggal Bu Rahmi memang sudah tertulis lewat serangan jantung itu, tidak bisa dielak dan dipikirkan, meski dokter bilangnya ringan tapi kehendak Allah siapa yang tahu, yang jelas, sekarang Bu Rahmi sudah tidak sakit lagi.


"Lalu apa yang diucapkan Pak Danu benar?" tanya Bu Retno dengan senyum penuh arti, lebih tepatnya menggoda.


Diva dan Heni menatap Bu Retno lalu menoleh ke arah Sha, ada apa ini? "Ibu, dengar apa dari Pak Danu?"


"Katanya Pak Arsyad sudah menikah?" tanya Bu Retno diiringi tawa meledek.


"Apa?" teriak Diva dan Heni bareng, "Sama siapa? Lo tahu Sha?" tanya Heni penasaran.


Sha mengangguk, "Iya, Pak Arsyad sudah menikah. Ya tahu lah, secara gue sekertaris beliau."


"Dan istrinya juga," sambung Bu Retno yang membuat Heni dan Diva kembali berteriak. Sha memukul lengan rekan kerjanya itu, bisa-bisa teriak kenceng di rumah duka.


"Gue lagi berduka loh," cicit Sha kesal. Untung saja tahlilan sudah usai. Di rumah tinggal Mbak Marni, Mama Arsyad dan papanya saja.


"Udah gol berarti ya?" tanya Bu Retno menimpali, Heni dan Diva langsung fokus ke Sha. "Atau pending dulu karena masih berduka?"


"Auto gulung-gulung nih penggemar Pak Arsyad nanti. Kok masih dirahasiakan sih? Nikah siri?"


"Enggaklah, udah resmi agama dan negara lah!" ucap Sha tegas.


"Resepsinya?"


Sha menggeleng, "Belum dibicarakan. Malah aku pengennya gak usah resepsi sih, yang penting kan udah sah."


"Ya tapi keluarga Pak Arsyad gak mau kayaknya, Pak Arsyad kan bungsu di keluarga Pak Wira. Bisa jadi puncaknya beliau mantu."


*


*

__ADS_1


*


Sha menata baju-bajunya di dalam koper, ia sudah memutuskan untuk tinggal di rumah Arsyad. Ia sadar kalau Arsyad tentu kurang nyaman dengan rumahnya ini, meski dia tidak pernah bilang.


Lalu rumah ini? Sha meminta Mbak Marni yang menempati, karena Mbak Marni juga kontrak rumah, diizinkan juga meneruskan warung jualan ibu. Untuk baju-baju ibu, Sha menyerahkan pada Mbak Marni juga terserah mau dipakai atau disumbangkan tidak apa-apa.


"Yakin ya, kita tinggal di sana?" tanya Arsyad memastikan keputusan sang istri. Tempat tinggal diserahkan keputusannya pada Sha.


"Yakin. Di sini aku sedih terus, tiap pojokan rumah punya kenangan sama ibu. Aplagi ini juga pemberian tuan mantan suami, aku gak mau kalau tiba-tiba ia datang."


Arsyad tersenyum, istrinya sudah mulai cerewet. Sangat berbeda dengan beberapa hari lalu, hanya bisa menangis, mengangguk dan menggeleng. Makan saja harus dipaksa. Arsyad bersyukur Sha sudah kembali ke mode awal, meski ia tahu sang istri pasti berusaha untuk tidak sedih berlebihan.


"Gitu-gitu ayah kamu, Sayang!" ucap Arsyad sembari membantu Sha berkemas. Istrinya itu hanya mengangguk, malas berdebat lama dengan sang suami hanya karena pria itu.


"Bi, nanti mama tetap seperti mama selama ini kan?" tanya Sha memastikan dengan wajah sok polos. Arsyad gemas sekali, ia pun mengecup bibir Sha sekilas. "Kok dicium sih," protes Sha sembari memukul lengan Arsyad.


"Gemes. Emang kenapa kok tanya gitu?"


Sha meletakkan bajunya, menatap Arsyad dalam. "Aku takut beliau berubah jadi mertua di TV-TV gitu," lirih Sha menundukkan wajah. Ia hanya berusaha jujur, namun Arsyad malah tertawa ngakak. Memang istrinya ini sangat menggemaskan, dicubit pipinya boleh kali.


"Bi," tolak Sha menepis cubitan Arsyad. Suaminya itu spontan memeluk Sha, sembari menghirup aromah tubuh Sha yang menenangkan.


"Beliau itu ibu mertua terbaik di duni, beliau orangnya asyik. Tak mau ikut campur dengan kehidupan anak-anak mereka, yang penting masih dalam koridor yang benar. Kedua kakak iparku tak pernah terdengar ribut sama mamaku, jadi kamu jangan khawatir, beliau mertua yang baik."


Sha mengangguk, memang Sha bisa merasakan betapa sayangnya sang mama mertua pada Sha, meski bertemu sebentar dan nikah pun buru-buru.


"Lalu dengan ipar?"


Arsyad mencium kening Sha, "Mereka tidak tinggal di rumah itu. Semuanya sudah punya rumah sendiri-sendiri, mereka juga orang baik."


Sha kembali mengangguk, lalu melanjutkan acara berkemas. "Sayang," panggil Arsyad dengan tatapan penuh cinta pada Sha.


"Ap-" belum sempat Sha meneruskan kalimatnya, bibir Sha sudah dibungkam oleh Arsyad. Sha pun menyambut tautan Arsyad. Setelah ibu meninggal, keduanya memang tak pernah melanjutkan ritual indahnya pengantin baru. Fokua pada duka yang mendalam.


Tapi tidak untuk malam ini, keduanya masih merasakan duka tapi Arsyad sudah kangen melakukan ibadah nikmat dengan Sha. Apalagi sang istri menyambutnya, gas pol lanjut pada adegan halal berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2