JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
MENOLAK AHLI WARIS


__ADS_3

Sepasang suami istri dengan pakaian santai pergi ke restoran sesuai permintaan Tuan Arya, beliau akan segera kembali ke Ausi. Otomatis Arsyad mengajak pertemuan selepas isya malam itu. Sha tetap ikut, karena Arsyad mempersilahkan sang istri berbicara langsung pada ayahnya. Biar tuntas dan tidak ada paksaan apapun.


"Kamu harus tenang, bicaranya gak boleh ketus dan dingin, mau bagaimana pun beliau adalah ayah kamu."


"Baik Tuan Arsyad!" ucap Sha patuh. Memang ia sudah memikirkan apa saja yang akan diucapkan kepada sang ayah. Memaafkan? Lihat nanti, karena sejujurnya dalam hati Sha gak mau tahu lagi urusan dengan Tuan Arya.


Sesampainya di restoran, Arsyad menggandeng sang istri dan tangan sebelahnya memegang erat tas tenteng berisi berkas warisan Sha. Tuan Arya sudah terlihat, wajah beliau tampak sangat bahagia menyambut kedatangan anak menantu. Arsyad menyadarinya, ia pun melirik sang istri ternyata berwajah datar.


Arsyad semakin menyadari, bila wanita sudah tersakiti ia adalah makhluk yang paling tega. Setahu Arsyad Sha didik menjadi wanita baik yang enak diajak berteman dan tak pernah menyakiti orang. Tapi Arsyad sendiri mengakui betapa Sha tega tak memberi maaf pada ayah dan Irsyad, hingga kedua lelaki itu melakukan segala upaya untuk mendapatkan maaf Sha.


"Maaf kami terlambat," ucap Arsyad menyapa sang ayah mertua, Sha hanya diam saja. Sengaja tak mau berbasa basi karena tujuan utamanya adalah mengembalikan harta yang tak pernah ia harapkan.


"Tak apa, Nak Arsyad. Silahkan duduk," ucap beliau ramah sembari melirik Sha yang tak menyapanya. Kecewa tapi Tuan Arya harus sadar kesalahannya terlalu besar, hanya menunggu keajaiban datang untuk dimaafkan.

__ADS_1


"Kalian mau makan apa, silahkan pesan sesuai selera!" tawar Tuan Arya yang memang masih memesan kopi hitam saja. Mungkin beliau tak pesan dulu karena menunggu anak dan menantunya.


"Tidak perlu, kami tidak lama!" ucap Sha. Arsyad sampai menoleh karena ketegasan sang istri. Kalau sudah begini, Arsyad bisa apa selain diam. Daripada istrinya mengamuk, bisa gawat. Batal rencana staycation ke hotel.


"Sebelumnya saya berterima kasih atas perhatian Anda yang sudah memberikan hibah kepada saya berupa tanah dan ruko, begitu juga perhiasan. Tap saya tidak bisa menerima itu semua. Saya merasa tidak pantas mendapatkan harta ini karena berbagai alasan," Sha mengatakan sangat formal dan tata bahasanya diatur agar tetap sopan.


"Alasan yang pertama, saya anak yang lahir dan besar dengan ibu. Tidak punya ayah. Alasan kedua saya tidak memiliki andil dalam hidup Anda, saya tidak pernah membahagiakan hidup Anda, merawat tubuh Anda bila sakit sehingga menurut saya di antara kita tak ada yang namanya take and give."


"Mohon diperiksa kembali, berkas yang Anda berikan pada ibu. Insya Allah beliau tidak mengambilnya begitupun suami dan saya, masih sama dengan saat Anda menyerahkan."


"Sha," bisik Arsyad yang mencoba menenangkan sang istri. Meski Sha tegas dan tertata, Arsyad yakin Sha sedang menahan tangis. Sempat terdengar suara bergetarnya namun dinetralkan kembali. Arsyad yakin sang istri pun ada sisi tak tega.


"Aku baik-baik saja," balas Sha dengan senyum dan Arsyad mengangguk.

__ADS_1


"Ayah tak tahu harus memberikan kamu apa, ayah hanya punya harta, Nak. Ayah memang salah, tidak merawatmu saat kecil tapi izinkan ayah menjamin kehidupan kamu di masa depan."


Sha menggeleng dan memaksakan tersenyum. "Ibu, ibuku sudah menjamin kehidupanku nanti dengan sangat layak. Beliau sudah meninggalkan ilmu yang insya Allah saya bisa berdiri dengan peninggalan beliau. Dan insya Allah juga suami saya akan menjamin kehidupan saya nantinya. Bukan begitu Bi?"


Arsyad mengangguk.


"Saya juga tidak mau dianggap memanfaatkan Anda, saya tidak mau ada pihak yang mengatakan saya dan ibu adalah perempuan kampungan yang menginginkan harta Anda. Sungguh kami tak ada niat sedikit pun untuk itu. Dan kami pun sempat akan mengembalikan rumah.."


"Jangan pernah mengembalikan rumah itu. Rumah itu memang untuk ibumu, tolong!"


Sha diam, lalu mengangguk saja. Anggap saja rumah itu memang disedekahkan pada Mbak Marni, Sha akan membangun keluarga bersama Arsyad tanpa melibatkan sang ayah. Sudah cukup ia bersedih saatnya ia menjemput kebahagiaan dengan menjauhi orang di masa lalu.


Biarlah dianggap kejam, tapi Sha sangat berhak untuk menentukan kebahagiaannya. Dia juga tidak sanggup bila dicela terus menerus oleh Nyonya Maheswari. Inilah jalan terbaik..menolah menjadi ahli waris.

__ADS_1


__ADS_2