JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
EMAK NGOMEL


__ADS_3

"Kamu belanja sebanyak ini, Sha? Adtaghfirullah, buat apa? Mana mahal semua?" omel Ibu sembari melihat tag baju dari beberapa paper bag. Sha tak menimpali, hanya memijat pelipisnya sembari menyandarkan tubuh di sofa ruang tamu. "Sha, tumben kamu belanja kayak gini. Jangan bilang kamu punya pacar ya?" selidik ibu dengan ketus. Ia sudah mewanti Sha untuk tidak pacaran, beliau sangat rela mencarikan jodoh saja lalu ta'aruf ketimbang pacaran.


"Sha...!" tegur ibu yang masih diabaikan oleh Sha.


"Sha juga bingung, Bu!"


Ibu menatap Sha curiga, "Lah emang kamu gak mikir saat ambil belanjaan?"


"Bukan Sha yang belanja, Sha cuma milih yang ini!" ujar Sha sembari berdiri dan mengambil paper bag sepatu.


"Trus yang lain?"


Sha terdiam, ikut duduk di lantai bersama ibu sembari menatap paper bag tersebut. "Sha mau cerita, tapi ibu gak boleh marah atau mengomeli Sha."


"Apaan!" ujar beliau sembari menepuk lengan sang putri.


"Tadi aku diajak jalan sama istri dan ibu pemilik konveksi!"


"Terus?" sepertinya ibu sudah tak sabar, hingga Sha menjeda kalimat sebentar saja.


"Sha tadi hampir setengah hari di luar kantor bersama Nyonya. Beliau mengajak Sha makan dan belanja. Bilangnya untuk keponakan beliau tapi nyatanya dikirim ke Sha. Sumpah Bu Sha gak minta," jelas Sha sedikit frustasi. Pasalnya didikan sang ibu jangan sampai anaknya punya mental meminta meski berasal dari keluarga tidak mampu. Pun demikian saat berhubungan dengan Irsyad, Sha tak mau diberi barang mewah, hanya sekedar boneka, baju sepatu tapi masih harga wajar tidak sampai jutaan.


"Kamu kembalikan gimana?" ide sang ibu sakin tak enaknya.


"Iya aku kembalikan, niatnya yang sepatu aja aku mau nyicil potong gaji."


Ibu terdiam sebentar lalu menatap curiga pada sang putri.


"Kenapa?" tanya Sha, ia tak bisa mengartikan tatapan sang ibu.

__ADS_1


"Kamu bukan simpanan bos kamu kan?" todong ibu tiba-tiba. Sha hanya bisa melongo.


"Maksudnya, Bu?"


"Jangan bilang istri pemilik konveksi memergoki kamu jadi simpanan dia. Akhirnya kamu diberi fasilitas sedemikian rupa. Sha...benaran ibu gak suka. Ibu gak mau kamu jadi perempuan yang menjual harga diri demi kemewahan semata."


Sha menghela nafas berat, ibunya sudah salah paham. Mungkin berpikiran bos konveksi sudah tua begitu. "Sha gak gitu, Bu. Sha gak punya hubungan apa-apa, hanya saja..."


"Hanya saja apa?" tanya ibu tak sabaran.


"Hanya saja Sha mau dilamar,"


"Tuh kan, pasti kamu dijadikan istri kedua. Ya Allah Sha, jadi benar apa kata ibu-ibu perumahan kalau kamu beberapa kali di antar mobil mewah, dan kamu gak pernah cerita ke ibu."


Waduh, ternyata dirinya yang sering di antar Arsyad malah jadi topik ghibah orang perumahan. Dikira tidak ada yang tahu, ternyata banyak cctv rupanya.


"Dengerin Sha ya, Bu. Bos Sha itu teman SMA Sha, namanya Arsyad."


Sha mendengus kesal, belum juga cerita berlanjut udah salah nama pula. "Ibu dengerin Sha jelasin dulu," gemasnya yang kemudian diangguki ibu.


"Jadi bos Sha itu, Arsyad. Arsyad, teman sebangku Sha waktu SMA. Nah dia ternyata naksir Sha Bu, sejak SMA malah. Dia anak bungsu dari Pak Wira, pemilik konveksi. Ibu dan Istri Pak Wira tahu kalau Arsyad naksir Sha, alhasil PDKTnya lewat ibu dan nenek Arsyad itu. Sha diajak makan dan belanja, tapi sumpah Bu. Sha gak minta."


"Trus kamu sama si Arsyad gimana, duh calon mantu kok namanya sama kayak mantan."


"Apaan sih ikutan calon mantu," Sha pun tak suka kalau ibu menyebut Arsyad calon mantu. Masih jauh dalam benak Sha untuk membina rumah tangga. Hatinya masih luka karena ditinggal nikah. Trauma terhadap lelaki kaya juga belum pudar. Tau ah. "Yang jelas Sha sudah menolak Arsyad. Sha bilang dalam waktu dekat ini Sha belum mau membuka hati. Sha masih sakit hati, trauma dan tidak mau menjadikan Arsyad pelarian."


Ibu menepuk pundak Shaz ia tahu betul bagaimana perjalan cinta Sha. Memang tak muda, ditinggal nikah lalu diminta membuka hati untuk pria lain, tentu sulit. "Ibu tahu, tapi saran ibu cuma satu. Kamu boleh sedih, kamu boleh sakit hati, kamu boleh trauma, ibu tidak melarang tapi ingat sayang selamanya tentu ibu tidak bisa menemani kamu. Ibu harap sebelum ibu dipanggil yang kuasa ibu melihat kamu menikah."


Sha langsung memeluk sang ibu, "Kok ibu bilang gitu. Ibu sehat, ibu akan melihat Sha menikah."

__ADS_1


"Sakit hati, trauma itu berasal dari hati. Belajar lah ikhlas menerima takdirNya karena kita harus meyakini bahwa apa yang menurut kita baik, belum tentu baik di mata Allah. Mungkin saja ini jalan dari Allah kamu menemukan cinta sejati, lewat Arsyad. Dia udah naksir kamu lama berarti ya. Memangnya kamu gak naksir dia? Gak ganteng gitu?"


"Entahlah, Bu. Yang Sha rasakan apa. Kadang jengkel, kadang sayang sama Arsyad, karena memang dia sahabat Sha sebelum jadian sama Irsyad. Jadi tahu lah kebiasaan jelek dan baiknya seperti apa."


"Yang membuat kamu menolak Arsyad?"


"Anak orang kaya, ganteng, seperti suami ibu dan Irsyad. Masa' Sha harus terluka lagi dengan kriteria pria yang sama."


"Hush ..gak boleh ngomong gitu ah. Tidak semua anak orang kaya seperti ayah dan Irsyad. Apalagi kamu mengenal Arsyad sebagai sahabat, tentu berbeda dengan ketika kamu kenal Irsyad."


Sha mengangguk paham, saat bersama Irsyad dulu ada waktu dia merasa jaga image, dan memang berusaha perfect, tidak mau terlihat punya kekurangan. Tapi dengan Arsyad, Sha akan menjadi diri sendiri. Entah terlihat cantik atau jelek, tak masalah di hadapan Arsyad.


"Kalau ibu bagaimana?" tanya Sha mencoba meminta nasehat.


"Yang penting dia bisa membuat kamu bahagia, ibu mah gak cari mantu kaya. Tapi sepertinya rizeki kamu terlahir menjadi istri orang kaya. Dua pria, nama hampir sama, background keluarga juga hampir sama. Bahkan sambutan keluarga mereka juga baik, tidak mempermasalahkan kamu yang diasuh orang tua tunggal."


Sha mengangguk, benar apa yang diucapkan sang ibu. Irsyad Arsyad dan keluarga mereka sangat baik memperlakukan Sha. "Coba sekali aja ibu pengen ketemu, boleh kan?"


"Bu, tapi jangan langsung bilang dia anak mantu ya."


"Janji, kalau gak keceplosan."


"Ibu....," rengek Sha karena sang ibu tak bisa diajak kerja sama. Oke penjelasan kedatangan barang belanjaan clear. Kini Sha saatnya mengomel pada Arsyad. Ia pun mengirim pesan pada bosnya itu.


*Kalau udah longgar gue mau video call.


Oke*.


"Busyet, cepat banget balasnya. Jangan-jangan ia gak pernah video call sama cewek," ledek Sha sembari menatap roomchat Arsyad. Sha hanya menunggu 30 menit, Arsyad sudah memulai panggilan video.

__ADS_1


"Assalaamualaikum Sayang..." ucap Arsyad dengan percaya diri dan senyum lebar. Sesaat Sha tertegun, melihat Arsyad yang hanya mengenakan kaos oblong dan rambutnya yang basah acak-acakan, ganteng. Sangat berbeda dengan Arsyad temannya saat SMA dulu.


"Sha......,"


__ADS_2