
Sha yang sudah berganti baju pun turun, niatnya mau membantu ART menyiapkan makan malam atau sekedar membuat teh untuk menyambut senja, namun apa daya si bos rese' sudah menunggu di samping rumah. Sudah ad meja bundar kecil dan ponsel si bos.
"Kerja?" tanya Sha memastikan. Sekilas saja Sha melihat email di ponsel Arsyad dan bisa memastikan ia akan diminta kerja.
"Ya plus-plus lah, anggap aja kerja outdoor," ujar Arsyad tak mau rugi juga, mau bagaimana pun ia tak mau menggaji buta karyawannya.
Sha pun mencibir, tapi akhirnya duduk juga. "Kenapa gak pakai tablet aja, kan aku bawa?" tanya Sha mode kalem. Tidak ada panggilan lo gue untuk sementara.
"Ini bukan urusan kantor. Ini urusan perusahaanku. Aku minta kamu kasih masukan, terkait peluncuran produk baru."
"Double salary ya? Beda perusahaan loh!" ucap Sha tak mau rugi. Otak dan hatinya yang sudah diiming-imingi healing ke Bandung tak terim kalau dibuat kerja. PHP banget jadi bos.
"Eh...gue rela kali semua harta gue buat lo, asal mau jadi istri gue gimana?" tawar Arsyad dengan tengilnya. Sontak Sha melotot sembari menepuk lengan Arsyad. Untuk kesekian kalinya tabokan menghampiri tubuh Arsyad.
"KDRT....kasihan banget gue kalau jadi suami lo!"
"Ya kalau lo jadi suami gue, ya gak bakal gue pukul. Gue sayang-sayang lah!"
"Yuk!"
"Kemana?" tanya Sha sembari mengerutkan dahi.
"KUA!"
Sha langsung melotot, dan semakin khawatir di dengar orang lain. Apalagi suara intrupsi menghampiri mereka.
"Kalian?" suara nenek mengintrupsi. Sontak keduanya menoleh. Arsyad menatap sebal, sedangkan Sha beranjak berdiri lalu menganggukkan kepala sopan.
"Hem...gak bakal bisa berduaan ini," lirih Arsyad kesal. Lalu menarik ponsel yang tadi sempat dilihat Sha. Pura-pura sibuk adalah jalan terbaik untuk menghindari perbincangan kepo dengan nenek.
__ADS_1
Pug, giliran sang nenek yang menabok pundak Arsyad, apalagi mendengar gerutuannya, sang nenek menatapnya horor. Sha melihat interaksi nenek dan cucu itu cukup menggemaskan. "Bener-bener nih cucu. Udah jomblo lama, gak laku emang!" si nenek mulai memancing perkara. Urusan perasaan Sha pun terdiam, menatap intens Arsyad, awas saja kalau sampai ngomong aneh-aneh.
"Bentar lagi juga gak jomblo, nenek doain cucunya dong!" ujarnya masih fokus dengan ponsel. Sang nenek sumringah, beliau langsung duduk mendekati Arsyad. "Eh ....yang bener? Siapa cu?" ujar beliau sembari melirik Sha. Gadis itu hanya tersenyum canggung.
"Yang pasti sudah diajak Arsyad bertemu anggota keluarga kita lah!"
Sang nenek tampak berpikir, "Gak ada. Kamu gak pernah mengenalkan seorang perempuan ke keluarga kita?" pancing beliau, "Eh tapi mama kamu bilang sih, namanya Indah bukan."
Arsyad spontan menatap Sha, gadis itu hanya diam dengan wajah datar. "Bukan dia?"
"Trus siapa? Nak Sha tahu gak perempuan yang dekat sama cucu saya ini?" Sha menggeleng, urusan hati bukan urusan Sha juga, ngapain kepo.
Arsyad berdecak sebal, "Selalu gak sadar," lirih Arsyad kecewa. Ia pun lebih baik mengurus pekerjaan, pindah ke ruang tengah dan membiarkan nenek dan Sha berbincang.
"Nak Sha, gak mau bilang sesuatu tentang Arsyad?" tanya nenek lemah lembut, kini kedua perempuan beda usia duduk saling berhadapan.
"Tentang apa ya, Nek?" ujar Sha memastikan, ia diminta memanggil Nenek juga, dilarang keras memanggil nyonya.
"Ouh itu, sedikit Nek. Hanya saja, itu ranah pribadi Pak Arsyad, jadi saya tidak berani terlibat lebih jauh."
Nenek pun mengangguk, satu poin kelebihan unfuk Sha, dia memang kerja secara profesional.
"Nak Sha bukannya gak mau terlibat, karena mungkin kalian pemeran utamanya!"
"Maksudnya?"
"Nenek merestui kalian."
"Nek..."
__ADS_1
"Eh....jangan kaget gitu. Arsyad memang belum cerita jelas tentang kamu kepada nenek. Hanya saja, sejak tadi nenek perhatikan dia terlalu terpikat sama kamu. Baru kamu yang diajak sendiri oleh dia, itu pertanda kalau dia sangat menginginkan mu."
"Hem...nenek terlalu jauh pengamatannya!"
"Hei.....jangan salah, nenek dulu ahlinya mak comblang, jadi sudah profesional lah urusan tatapan cinta atai benci itu."
Sha tertawa, kini ia tahu somplaknya Arsyad diturunkan dari siapa. "Kenapa kamu menolaknya?"
Sha menoleh pada nenek, kemudian hanya tersenyum tipis. "Apa karena kamu hanya sekertarisnya Arsyad?"
"Lebih tepatnya strata sosial kita yang berbeda jauh!" jawab Sha sembari mengangguk pelan.
"Arsyad memang sudah beberapa kali menyatakan perasaannya ke saya, Nek. Hanya saja saya tolak karena perbedaan strata sosial kita. Saya ingin sekali memiliki pasangan yang jarak perbedaannya tidak terlalu jauh."
"Memang, dalam rumah tangga angan sampai ada perbedaan yang timpang. Tapi apa salahnya anak biasa dinikahi konglomerat. Tidak salah bukan?"
Sha kembali menganggukkan kepala, "Iya, Nek. Hanya saja saya yang benar-benar membatasinya."
"Jadi cucuku ditolak nih?"
Sha hanya tersenyum mengangguk, "Saya sadar diri saya siapa, Nek. Gak pantas kalau menjadi nyonya Arsyad."
"Jangan merendah begitu, Nak. Kamu cantik, kamu baik, kamu sopan dan ramah, sikap itulah yang membuat anak konglomerat menyukaimu."
Sha tersenyum, "Nenek bikin mewek aja nih, kadang saya merasa bersalah sekali dengan Arsyad. Begitu menunjukkan rasa sukanya pada saya. Saya juga bukan main tarik ulur, karena kalau saya bilang enggak ya enggak. Saya juga tidak mau memberikan harapan palsu pada Arayad. Dia laki-laki baik, tentu akan memiliki pasangan yang baik pula."
"Yaitu kamu," ucap Arsyad menyambung ucapan Sha. Nenek dan Sha pun menoleh ke arah Arsyad.
"Udah jadian aja, nenek udah lampu ijo loh!"
__ADS_1
"Jangan pacaran ah nek, gak zamannya sekarang. Langsung nikah, gimana?" goda Arsyad yang langsung mendapat cibiran ketus dari sang nenek.