JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
PERTEMUAN KEDUA


__ADS_3

"Boleh?" tanya Sha. Dia berniat makan siang bersama Mita, katanya mau ada yang diomongin. Heran juga di hari aktif kerja dia bisa hang out.


"Emang dia mau bicara tentang apa? Irsyad?" tebak Arsyad yang enggan membiarkan Sha sendiri.


"Lah kok bahas Irsyad?"


Arsyad menutup dokumen, menarik tangan sang istri untuk duduk di pangkuannya. "Tentu saja, tiga hari yang lalu kita bertemu Irsyad dengan segala drama. Sesuai kebiasaan mantan kamu, dia selalu mengadu pada Mita."


Sha diam tampak berpikir, apa yang dipikirkan Arsyad benar juga. Tapi Sha yakin ada hal lain yang mau disampaikan, karena Mita tahu Sha sudah memilih Arsyad, dan tidak mungkin Mita mendukungnya kembali ke Irsyad. "Ngobrol di telpon atau video call kan bisa!"


"Beda lah rasanya!" rengek Sha, dia juga bosen kalau hanya rumah kantor rumah kantor tiap hari. Mana weekend Arsyad selalu ngurusin kantor lainnya. "Aku juga pengen hang out jalan-jalan ke mall. Udah lama."


Arsyad menghela nafas berat, memang Sha setelah berduka tidak pernah keluar, tapi kalau mengizinkan ya kalau Mita sendiri, kalau mengajak Irsyad bagaimana?


"Sama aku?"


"Bi..ayolah, sama Mita doang!"


"Khawatir."


"Kan ada body guard sih, aku insyaAllah aman. Kamu juga lagi sibuk."


Mau tak mau Arsyad mengangguk. Memberikan izin kepada sang istri yang makan siang di luar kantor bersama Mita.


"Kalau ada apa-apa, langsung telpon. Ponsel gak usah disilent." Mode cerewet Arsyad keluar, dan Sha pun mengangguk. Ia pun segera memberi kabar pada Mita untuk menjemput di loby kantor. Setelah sholat dhuhur, Sha bersama Mita menuju mall. Ia diberikan waktu hingga pukul 2 siang jalan tanpa Arsyad. Jadi mau gak mau Sha mencari mall terdekat saja, toh palingan makan siang doang di food court.


"Ceileh, istri bos sekarang pilih mall ini. Dulu aja kalau diajak ke sini pasti alasan harga kopinya mahal," ledek Mita yang sangat hafal dengan penolakan Sha dulu.


Sha tertawa, ingat betul sangat menolak kalau diajak mall dekat kantornya ini. Kebanyakan yang masuk mall sini orang berduit dan outlet barang brended menjamur. "Bukan karena itu, gue disuruh Arsyad di mall ini aja, dekat. Biar kalau ada apa-apa langsung bisa disamperin."


"Lah emang gue mau ngapain lo, dasar bucin parah suami lo tuh."


"Bukan bucin, tapi khawatir kalau lo bawa Irsyad!"


Giliran Mita yang tertawa ngakak, "Tebakannya benar juga sih," jawab Mita tak berdoa.


"Lo beneran bawa Irsyad? Gue gak mau ah, gue turun sini!"

__ADS_1


"Hei...hei. Bukan orangnya, tapi ceritannya!"


"Tentang?"


"Turun dulu, Neng. Baru cerita, yuk ah!" ujar Mita yang sudah memarkirkan mobil. Keduanya berjalan beriringan layaknya mahasiswi. Tujuan mereka adalah food court. Mita tahu kalau waktu bebas Sha dibatasi oleh sang suami.


"Jadi?" tanya Sha setelah mereka memesan makan siang.


"Dia bilang menyesal, gak rela kalau lo nikah sama Arsyad. Cuma herannya dia kayaknya udah menyerah, dan minta pendapat gue apakah jalan dia mundur itu sudah benar," ucap Mita menirukan Irsyad.


"Lalu lo jawab apa?"


"Ya gue jawab benar kalau dia mundur, gak pantas mencintai istri orang. Bahkan gue ejek dia bego, bodoh, duh...omongan gue kasar banget dah sore itu!"


"Lo ajak gue ke sini bukan karena mau bujuk gur balik sama dia kan?"


Mita yang sedang menyeruput orange jus seketika tersedak. "Sumpah enggak, Sha. Gue seneng lihat lo bahagia sama Arsyad."


"Bagus deh. Gue juga gak mau balik sama Irsyad kok. Gue udah merasakan bagaimana dicintai dengan tulus. Ya pada akhirnya gue pun membandingkan."


"Arsyad."


"Ya karena lo lagi jatuh cinta," ceplos Mita.


Sha menggeleng, "Bukan karena itu. Tapi karena cinta kita halal kali ya. Gue dulu suka dan cinta sama Irsyad tuh, rasanya gak ada yang menggebu. Merasa biasa aja ya meskipun kadang kala merasa bahagia tapi kalau sama Arsyad, gue tuh rasanya seneng terus tiap hari. Merasa bangga sudah diperistri dia, dan gue tuh gak mau kalau ada cewek yang mencintainya. Dalam hati gue selalu bilang, Arsyad punya gue. Gak boleh ada yang suka."


"Lah sama Irsyad dulu gak kayak gitu, ada hak paten?" sindir Mita.


Sha menggeleng, "Dulu prinsip gue kalau Irsyad suka sama cewek lain ya udah gak pa-pa, mungkin bukan jodoh gue!"


Mita menopang dagu, menatap mata sahabatnya yang tampak bersinar saat menceritakan tentang Arsyad. Dalam hati ia pun ingin mendapat lelaki yang bisa membuatnya jatuh cinta seperti Sha. Sampai mengeluarkan hak paten suaminya. So sweet tau!


"Lo bahagia banget ya, Sha?"


Sha mengangguk dengan mantap, "Alhamdulillah, mungkin karena direstui ibu, dan menikah pun karena permintaan ibu. Istilahnya gue tinggal petik hasilnya karena berbakti pada ibu," ucap Sha tiba-tiba sendu bila menyangkut sang ibu.


"Jangan sedih, Sha!" ucap Mita sembari mengelus lengan Sha, dan istri Arsyad itu hanya mengangguk.

__ADS_1


"Ya meski begitu gue juga harus menyiapkan mental, karena tidak semua rumah tangga akan berjalan mulus."


Mita mengangguk, meski dia belum menikah tapi ia sering mendengar nasehat bahwasannya pasti ada krikil atau bahkan batu besar dalam rumah tangga. "Ya apapun nanti masalahnya, lo dan Arsyad tetap cinta."


"Aamiin. Kalau lo kapan sih, Mit. Lama pacaran juga gak baik loh!"


Mita tersenyum kaku, tangannya tiba-tiba dimasukkan ke dalam tas dan mengeluarkan sebuah undangan berwarna putih gading pada Sha. Untung saja, Sha belum memulai makannya karena ia tahu maksud sikap Mita.


"Lo gak prank gue kan? Ini beneran undangan lo?" sewot Sha sembari membuka segel undangan itu.


"Raffy Ali Syahbana?" ucap Sha menyebutkan nama calon suami Mita. Sumpah Sha kaget karena ia tidak tahu kelanjutan kisah Mita. Maklum udah lama jomblo. "Kok lo gak pernah cerita sih, Mita?" protes Sha gemas, sembari melihat undangan dan foto prewedd Mita.


"Gue gak pernah bilang karena gue emang janji sama dia gak usah publish, kalau belum sah!"


"Ya tapi gak gini juga, Mita. Gue gak tahu apa-apa coba!"


Mita hanya nyengir, "Maaf deh, emang gak ada yang tahu kecuali keluarga gue!"


"Ya Allah, ini tiket juga? Jadi nikah lo di Bali?"


Mita mengangguk dengan tersenyum malu. "Keluarga dan lo yang gue kasih tiket gratis," ucap Mita.


"Yah kok enggak dua tiket, kan gue ke sana sama Arsyad!"


Mita langsung menonyor pelan kening Sha, istri Arsyad terkekeh, "Modal sendiri napa, suami lo kaya kali."


"Ya gak mungkin juga pisah tempat duduk, kan jadi mubadzir tiket ini!"


"Berdoa aja, Arsyad keluar kota dah!"


"Gak aamiin," balas Sha tapi berterima kasih juga. Saat ia memasukkan tiket itu ke dalam amplop undangan, tiba-tiba tangannya terdorong hingga tiket itu jatuh dan tertumpah es.


"Yah?" Sha melongo, begitu juga Mita.


"Maaf, Nak!" ucap wanita paruh baya yang mendelik saat tahu keberadaan Sha.


"Kamu?" ucap beliau dengan sorot mata tajam.

__ADS_1


__ADS_2