JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
TEMAN CURHAT


__ADS_3

"Kamu pernah bilang kan kalau siap membantuku mencari ayahku?" tanya Sha dalam panggilan video dengan Arsyad. Selepas maghrib ia di rumah sendiri, ibunya pergi entah ke mana, karena beliau hanya mengirim pesan saat jam 4 sore tadi ibu pergi dan ketika ditanya ke mana, beliau tak membalas sampai sekarang.


Khawatir jelas, apalagi Sha mengirim pesan kepada Mbak Marni menanyakan ibu pergi ke mana, dan mbak Marni gak tahu hanya pamitan mau pergi menggunakan motor dan helm. Sha tentu berpikiran buruk. Jangan-jangan sang ibu bertemu dengan ayahnya lagi. Padahal beliau bilang urusan dengan sang mantan sudah selesai kecuali menjadi wali nikah Sha.


"Siap, Sha!" jawab Arsyad menanti penjelasan Sha. Ia akan melakukan apapun agar Sha bertemu dengan sang ayah sebagai wali nikahnya.


"Sebenarnya tak perlu dicari, karena beliau beberapa hari yang lalu sudah menemui ibu, bahkan sekarang mungkin juga lagi kencan. Mengenang masa lalu." Sha pun terpaksa menuduh sang ibu karena beliau tidak ada di rumah hingga petang ini. Beliau jarang sekali keluar lama, keluar pun karena pengajian dan selalu bilang pengajian di mana.


"Benarkah, berarti kita nikah setelah aku pulang dari dinas ya?" lah Arsyad malah bahagia dengan cerita Sha. Bukan begitu kali, tolong dong dimengerti nada Sha bicara, terlalu ketus bila menyangkut sang ayah.


"Ah....lo Syad, sadar gak sih kalau gue tuh masih gak terima kedatangannya."


Arsyad diam lalu menghela nafas berat. Wajar respon Sha seperti itu, meski Sha tidak pernah cerita detail tapi Arsyad pernah melihat tanyangan Bu Rahmi di ytb Sha dalam cerita. Ia memahami bagaimana perasaan sedih Sha kala ditinggal sang ayah sejak kecil, dan datang di saat dirinya sudah mandiri. Mungkin Sha berpikir ngapain datang, gue udah bisa hidup sampai usia 24 tahun tanpa lo.


Reaksi spontan Arsyad tadi hanyalah sebuah harapan untuk segera menikahi Sha, just it. Setelah Sha menikah tentu tak ada lagi kepentingan yang melibatkan sang ayah. Jahat memang, tapi sebagai laki-laki, Arsyad punya keegoisan tinggi untuk melindungi Sha.


"Ya maaf, kalau kita nikah cepat tentu urusan kamu dan ayah kamu segera beres. Kan kamu bilang hanya butuh menjadi wali nikah doang."


"Jahat ya gue, Syad. Hanya membutuhkan beliau untuk kepentingan pribadi gue."


Arsyad mengangguk, "Gue emang gak pernah punya pengalaman seperti itu. Gue paham pasti hati lo sedih, hanya satu pesan gue maafkan dan lupakan.


Sha terdiam, "Emang apa yang kamu rasakan ketika beliau datang?"


Sha mengedikkan bahu.

__ADS_1


"Hanya benci aja, gak suka. Kenapa harus datang, kemarin-kemarin sampai 20 tahun lebih ke mana."


"Ya tapi gak selamanya lo bersikap seperti itu. Kalau ibu sudah bertemu tentu beliau juga sudah mendengar penjelasan ayahmu."


"Sudah, makanya emak gue oleng. Bilangnya gak mau ketemu tapi kenyataannya sekarang mereka bertemu."


Arsyad tertawa melihat Sha cemberut. "Ya udah sih, biarin aja. Mungkin mereka lagi nostalgia."


"Gue juga benci sama lo," sewot Sha karena Arsyad pro dengan sikap ibu.


"Idih...benci. Aslinya kangen kan," goda Arsyad.


"Gue matiin nih panggilan," ancam Sha dengan ketus, tapi Arsyad malah tertawa.


"Gue telpon lagi lah."


"Apa sayang," lanjutnya menyebalkan. Kemudian Sha menghela nafas pendek. "Menurut lo gue harus bertemu gak sama beliau."


Arsyad mengangguk, "Harus!"


"Tapi gue belum siap, Syad. Gue masih belum siap bertemu, khawatir kalau ketemu gue langsung tonjok."


Arsyad kembali tertawa, "Gak mungkin. Lo bakal diam dan tak bisa berkata-kata. Minta antar sama ibu atau mau gue temani, gue juga siap."


Sha merenung, sebenarnya dalam hidup Sha sih gak butuh kehadiran sang ayah. Menurutnya apa peran sang ayah saat ini. Kedekatan juga gak bakal bisa dipaksakan karena Sha sendiri membentengi diri untuk tidak menerima sang ayah dalam hidupnya.

__ADS_1


"Calon istriku yang cantik dan baik hati, jangan egois ya. Kita gak tahu ke depannya butuh beliau atau tidak. Intinya kita hanya perlu memaafkan dan melupakan masa lalu, gak usah menjauhi atau membenci berlebihan. Okey."


"Ya tapi gue masih berat Syad, buat ketemu tuh. Ngerti gak sih."


"Iya gue paham, lagian bertemu juga gak mungkin besok. Lo tahu gak Sha gimana gue bisa mempertahankan perasaan suka sama lo bertahun-tahun?"


"Gimana emang?"


"Ikhlasin aja. Kalau memang lo jodoh gue, apapun caranya gue bakal nikahin lo. Tapi kalau enggak ya sudah gue bakal belajar melepas lo, cuma bisa doain agar kamu hidup bahagia."


Sha tertawa segitu dalamnya Arsyad menyukainya. "Menunggu sampai kapan?"


"Umur 28 tahun."


"Kurang 4 tahun lagi dong batas menyukai gue?"


"Gak bakal ada batasnya karena minggu depan palingan lo udah jadi istri gue!"


Tawa Sha kemudian terhenti, ia berpikir sejenak. "Syad, gue kemarib berangkat ngantor kan mewek ya. Gue sempat mikir sebenarnya mau ada kejadian apa sih ini kok gue dibuat sedih mulu."


"Ya mungkin lo bakal gue nikahin makanya dibuat sedih dulu, baru ketawa bahagia sama gue."


"Amiin, jadi lo mau nikah sama gue ya."


"Iyaaaaaaa, gue mau nikah sama lo kalau ibu gur juga oke."

__ADS_1


"Gue pastikan ibu merestui."


Sha hanya tersenyum tipis, kenapa akhirnya dia mau menerima Arsyad karena sang ibu pun sudah merestuinya.


__ADS_2