
Firasat Arsyad benar adanya, kondisi ibu drop setelah muntah. Badan beliau gemetar dan suhu tubuhnya berangsur naik tapi saat Sha memegang kakinya cukup dingin. Sha sudah kehilangan akal. Bagaimana ini bisa terjadi, tadi pagi hingga malam beliau masih fine-fine saja. Untuk makanan selalu dari jatah rumah sakit, bahkan Sha tak pernah memberi buah sekalipun.
"Bi," tangis Sha pecah, apalagi saat itu dokter langsung meminta Sha dan Arsyad keluar. Arsyad melihat sang istri kacau hanya bisa memeluknya dengan ponsel yang terus ia hubungkan pada mama, Danu serta Mita. Dirinya hanya bisa konsentrasi menenangkan Sha, jadi kalau ada apa-apa dengan ibu sangat membutuhkan bantuan orang lain.
"Tenang, Sayang. Kita banyakin berdoa ya," ucap Arsyad yang sebenarnya juga kacau. Cemas takut kalau ada apa-apa, sedangkan di sini mereka hanya berdua.
Dokter cukup lama memeriksa, keduanya duduk tak tenang dengan tangan yang saling bertaut. Mita datang yang pertama, kebetulan malam ini memang ia jaga di IGD. Bahkan dokter cantik itu masih mengenakan pakaian praktiknya. "Gimana?" tanya Mita dengan raut cemas.
Sha tidak bisa menjawab, ia hanya bisa menatap pintu kamar sang ibu. "Dokter belum keluar, Mit. Kita masih menunggu. Biasanya tindakan seperti itu butuh berapa lama?" tanya Arsyad.
Mita menggeleng, "Tak bisa diprediksi dengan pasti, Syad. Tergantung kondisi pasien."
Arsyad mengangguk paham, Sha masih belum bisa diajak bicara. Ia hanya bisa memeluk sang suami dengan tangisan yang tak berhenti. Mita mengelus rambut panjang Sha. Ia pun ikut menangis. Mita tahu perjalanan remaja Sha, ia tahu betapa Sha menyanyangi sang ibu. Mita sangat ingat bagaimana Sha mendapat rangking 1 dan diberi reward bebas SPP selama 1 semester.
Saat itu Sha begitu bahagia dengan mengucapkan buat ibuku, Mit. Dan sekarang...kondisi perempuan yang amat Sha sayangi tidak bisa diprediksi. Malangnya nasib Sha, baru juga sehari menikah, merasakan betapa bahagianya disayang Arsyad, harus mendapati kondisi ibu yang drop.
"Sabar, Sha!" ucap Mita ikut menenangkan. Hingga dokter keluar dengan menghela nafas berat, Arsyad dan Sha langsung menghampiri sang dokter.
"Bagaimana ibu saya, Dok?" tanya Arsyad.
Dokter itu menggeleng, "Kita tidak bisa memprediksi kondisi beliau. Sekarang beliau akan saya pindahkan ke HCU untuk mendapatkan perawatan lebih intensif."
__ADS_1
"Lakukan terbaik, Dokter!" pinta Arsyad sembari memeluk sang istri. Sha sudah tahu apa kelanjutan dari kondisi ini. Ia belum sanggup berpisah.
"Aku gak mau ditinggal Ibu, Bi!" ucap Sha dengan pilu. "Aku gak sanggup..."
"Sayang, dengar. Kita hanya bisa berdoa, dokter masih berusaha. Buang pikiran negatifmu ya?" pinta Arsyad berusaha tenang. Sungguh Sha sangat diluar kendali, ia menangis sejadinya dalam pelukan Arsyad. Sedangkan Mita ikut pemindahan Bu Rahmi ke HCU.
Tepat jam 12 teng, dokter memanggil Arsyad dan Sha. Keduanya pun harap-harap cemas dengan hasil yang akan dikatakan. "Silahkan duduk!"
Arsyad dan Sha masih bergandengan, Sha butuh sandaran untuk menerima kenyataan. "Bu Rahmi kritis. Beliau tak sadarkan diri dengan suhu tubuh yang panas dibagian lengan hingga kepala, sedangkan bagian kaki dingin. Kami harus menyampaikan bahwa besok saat dokter Wahyu visit akan dilakukan tindakan lebih detail lagi. Sementara saat ini Bu Rahmi sudah mendapat pertolongan alat bantu nafas, penyuntikan obat penurun panas serta infus. Terus berdoa, semoga keajaiban selalu menyertai Bu Rahmi."
Sha semakin yakin dengan firasatnya. Penjelasan panjang lebar dari dokter sudah menyebutkan bahwa tinggal menunggu saja Bu Rahmi berpulang. Sejak awal dokter Wahyu pun tak menyarankan operasi karena kesembuhannya fifty-fifty.
Sha berjalan gontai menuju ruang HCU, suasana mencekam lorong rumah sakit, tak ia hiraukan. Padahal dia phobia lorong rumah sakit akibat melihat film horror.
"Apa ibu ingin cepat aku menikah karena aku amu ditinggal ya?" celetuk Sha dengan tatapan kosong. Air mata masih menetes di pipinya. Arsyad sungguh tak tega, ia terus memeluk pundak sang istri. Memberikan kekuatan apapun yang terjadi nanti.
"Ibu pasti sembuh, Sayang!"
"Beliau sebenarnya sudah merasa mungkin ya, ibu terlalu sayang sama aku sampai beliau gak mau meninggalkan aku sendiri. Beliau sampai meminta kamu menikahi aku secepatnya. Aku mau ditinggal, Bi!"
Siapapun yang mendengar ucapan Sha jelas tak tega, apalagi Arsyad. Ia langsung memeluk sang istri, menangis berdua. Sungguh ia tidak sanggup melihat istrinya banjir air mata.
__ADS_1
"Beliau bahkan mencoba kuat, makan lahap, agar aku punya kenangan bahwa beliau sangat sehat. Tapi ...." Sha tidak bisa meneruskan ucapannya. Dadanya sungguh sesak.
"Sayang!"
"Temani aku ya, Bi. Temani aku, kalau ibu meninggal. Aku gak punya siapa-siapa lagi di dunia ini kecuali kamu."
Sudah Arsyad tak bisa menjawab ungkapan hati Sha. Perempuan itu sedang terluka dalam. Ucapannya selalu menyayat hati. "Kita balik ke kamar ibu, ya. Kita istirahat di sana. Ibu sudah ada yang menjaga, Sayang," pinta Arsyad yang tak tega dengan kondisi Sha. Air mata, pikiran kacau, badannya pun mendadak dingin. Ia takut Sha pingsan.
"Aku ingin di sini, siapa tahu ibuku setelah ini sadar!"
Oke Arsyad mengalah, ia akan melakukan apapun agar Sha tak sedih. Biar dia lega juga. Mereka pun tetap di depan HCU duduk dengan termenung.
"Tot!" sapa mama Arsyad yang datang setelah dikabari Arsyad bahwa sekarang sang mertua pindah ke HCU. "Sayang!" ucap mama Arsyad sembari memeluk Sha.
Air mata sang menantu itu langsung tumpah, pelukan dari orang tersayang sangat dibutuhkan Sha saat ini. Arsyad merasa lega karena ada mama dan papanya, setidaknya ada keluarga yang memberi dukungan moril. Sementara Sha bersama sang mama mertua, Arsyad menceritakan kronologi kritisnya ibu mertuanya.
"Sebaiknya kita pindah ke kamar inap Bu Rahmi saja, sudah terlalu malam. Kita butuh tenaga untuk besok," ujar Papa Wira, Sha pun akhirnya luluh. Ia mengikuti saran sang papa mertua.
Tiap langkah menjauh dari ruang HCU, Sha terus menoleh belakang hingga ruangan itu tak terlihat. Sha mencuci muka, dan duduk di samping Arsyad. "Tidur sini," ucap Arsyad sembari menepuk pahanya untuk bantal Sha. Namun sang istri menggeleng.
"Mau peluk," ucap Sha pelan. Mertuanya ada di ujung sofa lainnya. Sungkan kalau terlalu mesra. Arsyad pun langsung meletakkan kepala Sha di dadanya. Tubuh Sha dipeluknya, hingga tetesan air mata kembali mengenai baju Arsyad.
__ADS_1
"Tidur, Sha. Biar besok pagi lebih segar, insya Allah ibu gak pa-pa!" ujar Pak Wira menguatkan dan Sha hanya menjawab iya Pa. Aamiin.