
Keluar ruang meeting, Indah begitu badmood. Bahkan saat Sha menyapa, Indah hanya menatap sinis dan berlalu begitu saja.
"Kenapa?" gumam Sha menatap gelagat Indah yang aneh. Ketus.
"Copy kontrak kerja sama, setelah makan siang kumpulkan tim produksi dan tim marketing."
"Baik, Pak!"
"Sha," panggil Arsyad sebelum Sha keluar dari ruangannya.
"Iya, Pak. Ada lagi yang bisa saya bantu?" tanya Sha.
"Temani saya makan siang," ucapnya tegas.
"Mau reservasi restoran atau order saja?"
"Kamu mau makan apa?"
"Makan siang di kantin kantor aja!"
"Oke!"
Sha melongo, eh maksudnya Arsyad mau ikutan makan di kantin? Benarkah?
"Kenapa bengong?"
"Yakin Bapak makan di kantin?"
"Lah kenapa memang?"
"Nanti bikin gempar, karyawan gak jadi makan malah keselek," Sha sudah memperkirakan apa yang terjadi nanti bila Arsyad masuk ke kantin.
Arsyad tertawa, ia mendekati Sha lalu mengacak rambut Sha, gemas. "Lucu banget sih, udah ah ayo!" ajak Arsyad ingin keluar lebih dulu meski jam makan siang kurang setengah jam, khawatir antri dan membuat kehebohan tak terduga.
__ADS_1
Baru saja membuka pintu ruangan, keduanya dikejutkan keberadaan Indah di depan pintu. Perempuan anggun itu kembali lagi, padahal beberapa menit lalu sudah masuk lift usai meeting berakhir.
"Ada yang ketinggalan?" tanya Arsyad heran.
Indah menggelengkan kepala, lalu tersenyum pada Arsyad. "Mama ingin makan siang sama kamu, Mas. Udah lama loh mama gak bertemu sama kamu," tawar Indah ramah. Ia sempat melirik Sha yang berdiri di belakang Arsyad dengan membawa beberapa map pekerjaan. Melirik sinis.
"Tapi aku mau makan siang dengan Sha, Ndah."
"Siang ini doang deh, habis ini mama sudah sampai kantor kamu. Makan siang sama sekertarismu kan bisa kapan saja, iya kan Sha?"
"Iya, Bu Indah!" jawab Sha sembari tersenyum. Sedangkan Arsyad menatapnya tak suka, bisa-bisa membatalkan makan siang bareng, oh tidak bisa.
"Tuh, Sha aja gak keberatan kok. Yuk, Mas." Arsyad tak bergeming, ia ingin menolak ajakan Indah, lebih baik makan siang dengan Sha ketimbang dengan Indah. Arsyad baru menyadari sikap agresif Indah setelah meeting di cafe beberapa hari lalu. Dan kini pun terkesan memaksa untuk makan siang.
"Ikut aja Sha," tawar Arsyad.
"Ouh tidak perlu, Pak. Saya bisa makan siang bersama teman-teman, Bapak bisa makan siang dengan Bu Indah saja!"
"Tuh kan, ayo Mas!"
Sha hanya menatap kepergian bosnya dengan tersenyum tipis, ia tidak akan mencegahnya. Toh siapa Sha, hanya seorang sekertaris yang tak punya wewenang mengatur kehidupan pribadi sang bos.
"Aku sudah benar mengambil keputusan, tak mau menerima perasaan Arsyad." Hati kecilnya sedikit tersentil dengan kedekatan Arsyad-Indah, namun logikanya masih menentang, bahwa menolak Arsyad adalah keputusan terbaik.
Siang itu Sha makan bersama anak keuangan, Diva dan Heni. Sudah lama ketiganya tak makan siang bareng, kesibukkan Sha yang menemani sang bos mengharuskannya sering absen bersama teman.
"Makanya banyak skandal antara bos dan sekertaris ya, kemana dan kapanpun selalu berdampingan, mana bisa menolak cinta," ucap Heni sok puitis, mengingat sekertaris Pak Anwar yang terlibat kasus dengan beliau juga. "Kamu juga Sha?" lanjut Heni dengan tatapan penuh curiga.
"Enggak ada ya, enak aja. Niatku mah hanya kerja tak pernah berharap menemukan pasangan dalam satu instansi."
"Jangan bilang gitu, malah suami kamu nanti pemilik kantor ini!" ledek Diva dengan diiringi tawa.
"Emang kamu gak naksir Pak Arsyad, Sha?" tanya Kayla, salah satu anak devisi Desain produk yang ikut nimbrung di meja mereka, maklum banyak kursi yang sudah penuh.
__ADS_1
"Untuk sekarang belum, gak tau kalau besok," sahut Heni memprediksi. Langsung Sha menabok lengan rekan kerjanya itu, "Gak usah didengerin Kay, murni bos dan sekertaris aku mah."
"Ya kamu mikirnya gitu, tapi tidak untuk Pak Arsyad," Diva ikut memprediksi. Entahlah lama tidak kumpul mendadak sohib kerjanya menjadi dukun.
"Idih....enggak Kay, orang mah suka menerka-nerka yang gak jelas!" bela Sha tak mau orang lain berpikir dirinya terlibat skandal atau bahkan menggoda bos ganteng itu.
"Padahal nih, Sha. Banyak yang mengira kamu itu kekasih Pak Arsyad. Banyak yang bilang kamu mantan Pak Arsyad saat SMA," Kayla berkata apa yang terjadi di luar sana. Meski Sha sudah beberapa kali mendengar tapi ia tidak menyangka ada cerita yang dilebih-lebihkan.
"Lalu?" tanya Sha penasaran, apalagi cerita yang muncul.
"Kamu juga masuk sini nepotisme karena campur tangan Pak Arsyad," Kayla terus mengumbar topik pembicaraan karyawan lain, padahal dirinya kadang terlibat dalam ghibah kantor.
"Wadauuuuu, gawat Sha. Nama kamu tercemar," ucap Diva dengan nada mengerikan. Sebenarnya anak keuangan tahu rumor itu, tapi mereka tahu latar belakang Arsyad dan Sha. Toh Sha juga sebelumnya punya pacar. Hoax berujung fitnah tuh.
"Kamu jangan-jangan juga ikut menambahi cerita, Kay?" tebak Heni tepat sasaran. Sontak saja, anak marketing itu tersedak minumannya.
"Nah...nah...ketahuankan, julid sih kalian!" Heni tak suka dengan sikap Kayla, saat bersama Sha aja mengumbar cerita orang, tapi di belakang Sha ikut ghibah. Yakin seyakin-yakinnya, saat cerita pasti ada yang dilebih-lebihkan..
"Dikit lah, ntar aku dikira pro banget sama Sha!"
"Heleh...mau dikit mau banyak titip aja lo bermuka dua," sinis Heni dengan kesal.
"Kok lo yang nyolot sih, Hen! Sha aja yang menjadi korban diam bae," Kayla pun ikutan emosi.
"Udah diam napa sih, makan siang ah. Dengar ya Kay, aku sih gak peduli dengan omongan orang. Karena apa yang mereka bilang belum tentu benar. Dan satu lagi, aku tegaskan tidak ada hubungan antara aku dan Arsyad."
Kayla mengangguk paham. Mereka pun kembali melanjutkan makan siang dengan obrolan acak. Tapi dominan Kayla yang bertanya tentang Arsyad, gadis itu mengaku salah satu penggemar Pak Arsyad, hanya saja tak pernah punya kesempatan untuk bisa dekat.
"Pak Arsyad tuh paling suka makanan rumah, nah boleh deh nitip sarapan melalui aku, tapi ingat bagi juga buat aku!"
"Okey, besok aku akan kasih sarapan super lezat hasil masakanku," ujar Kayla bersemangat.
Sha tersenyum senang, bahagia pastinya, setidaknya tugas di pagi hari mulai besok lebih ringan. Tak perlu membawa kotak bekal.
__ADS_1
"Kamu harus berangkat lebih pagi, kalau bisa kasih ucapan happy breakfast atau apalah, biar Pak Arsyad tersentuh," saran Sha pada Kayla yang sangat antusias menyambut esok.
"Tapi kalau ditolak, jangan mewek. Kudu sabar dab bermental baja, coba lagi!" sahut Heni membuat tawa Kayla meredup secara perlahan. Kemungkinan ditolak memang ada, dan Kayla melupakan hal itu. Duh....