JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
TUDUHAN


__ADS_3

Sha semakin parah, masuk hotel cuy sama Pak Arsyad. Caption yang menyertai foto di mana Arsyad merangkul mesra Sha masuk ke dalam loby hotel.


Gila sekamar cuy....Kembali ia menuliskan caption disertai foto saat Arsyad dan Sha masuk kamar hotel.


Gila mereka beneran pacaran atau Sha hanya simpanan?


Wajar sih zaman sekarang


Gadis munafik


Cewek zaman sekarang meski gak cinta kalau ada uang mau aja diajak ngamar.


Begitulah berbagai komentar yang menjudge Sha tanpa mengetahui kebenarannya. Salah Arysad dan Sha juga tak segera memberi pengumuman bahwa mereka adalah sepasang suami istri.


Hujan prasangka tak sepadan dengan kenikmatan yang dilakukan Sha dan Arsyad. Setelah melepas harta warisan, Sha begitu lega. Dalam hatinya sudah tidak ada beban lagi. Keluarga Nyonya Maheswari tidak akan bisa menghinanya lagi. Status sebagai penerus keluarga tidak dipermasalahkan begitupun hartanya Sha sudah melepas semuanya.


Kini ia dengan penuh keyakinan menatap masa depan dengan pria yang sedang mengungkungnya. Keduanya mereguk ibadah halal penuh cinta.


Sha memejamkan mata kala cairan hangat masuk ke tubuhnya. Nafas memburu sang suami begitu merdu hingga tercipta senyuman di bibir Sha. Merasa begitu dicintai oleh pria yang dulu ada teman sebangku Sha di SMA.


"Capek?" tanya Arsyad saat keduanya saling merebahkan diri dan saling tatap.


Sha menggeleng, "Mau lagi?" goda Sha lalu terkekeh. Arsyad ikut tertawa, tak biasanya sang istri begitu manis hingga menawarkan rode selanjutnya.


Pagi pun menjelang. Sha dan Arsyad sudah siap berangkat kerja, wajah Arsyad sangat cerah. Sha pun sampai tertawa melihat semangat pagi Arsyad yang beda. "Perasaan kita ehem ehem hampir tiap malam, juga kamu gak secerah ini. Aneh!" ledek Sha sembari membenarkan posisi dasi Arsyad.


"Suasana baru kali, makanya vibes nya beda!" jawab Arsyad lalu mencium kening sang istri. Sedangkan Sha mencebik kesal. Keduanya memutuskan sarapan di restoran, memang sengaja berangkat telat. Sha juga mendadak tak peduli kalau ada omongan tentangnya, rasanya pagi ini dia juga merasakan hal berbeda. Seperti moment baru yang tak bisa dilupakan.

__ADS_1


Setelah sarapan, kantor adalah tujuan keduanya. Pekerjaan sudah mengantri, begitupun dengan meeting. Sha berjalan beriringan dengan Arsyad, sambil menimpali obrolan sang suami, tak lupa beberapa kali tersenyum. Semua aktivitas masuk loby hingga mau di lift, terpotret oleh paparazi yang berhasil mengabadikan moment mesra mereka. Dan kini semakin jelas saja, kalau keduanya memang punya hubungan.


"Udah berani go public nih?" goda Danu di meja Sha. Tak lupa membawa beberapa draft proposal kerja sama yang sudah dianalisis.


"Maksudnya?"


Danu pun menunjukkan beberapa foto yang dikirim oleh manager pemasaran, disertai caption yang menanyakan hubungan Arsyad dan Sha.


"Trus Pak Danu jawab apa?" tanya Sha, tak lupa senyum jahil. Ia ingin melihat ekspresi para penggosip kalau tahu yang sebenarnya.


"Cuma jawab, tanya aja sama orangnya!" jawab Danu yang mendapat acungan jempol. "Emang kalian gak mau resepsi gitu?"


"Mau, cuma tidak dalam waktu dekat. Ada banyak urusan yang masih kami selesaikan. Nanti kalau sudah fix, semua pihak oke. Baru deh sebar undangan."


"Hati-hati, mungkin saja mereka menganggap kamu cewek yang tidak baik atau apalah."


"Kamu gak merencanakan sesuatu kan?" tebak Pak Danu tiba-tiba. Bisa banget membaca pikiran Sha yang memang ingin memberi pelajaran pada para penggosip. Ingin memberi pelajaran saja, jangan fitnah lebih baik tanya pada narasumbernya, begitu keinginan Sha. Hanya saja hati dan pikiran seseorang tidak bisa Sha atur. Mereka punya kebebasan untuk berpikir dan bertindak, hanya saja mereka lupa tindakan dan pola pikirnya melukai seseorang.


Sha pun menjalani aksinya, sengaja ke pantry dekat ruang keuangan dan marketing. Sekalian nanti mampir ke ruangan Bu Retno and team. Ia membuat kopi susu, kebetulan ada Marsa, salah satu anak marketing lapangan. Mungkin dia baru selesai breifing sebelum terjun ke lapangan.


"Pagi, Mbak Marsa!" sapa Sha ramah, lalu mengambil bungkus cappucino dari rak.


"Pagi Sha," balas Marsha tak kalah ramah. Marsa memang lebih dulu masuk ketimbang Sha, wajar dia panggil Sha hanya nama saja. "Tumben ngopi, bukannya biasa diantar OB?"


"Ouh itu biasanya Pak Arsyad, kalau saya sering bikin sendiri kok, Mbak. Kebetulan mau ke ruangan Bu Retno, mampir dulu. Gak pa-pa kan?" tanya Sha tanpa ada niatan tertentu.


"Gak pa-pa, kok. Suka-suka kamu!"

__ADS_1


Ouh Sha mulai paham nih, apalagi Marsa bilang suka-suka kamu dengan nada sinis. "Maksudnya?"


"Gak usah sok polos. Kamu kan simpenan Pak Bos, wajar saja kamu bisa main di semua ruangan di kantor ini."


Waooo, Sha ingin tertawa, ternyata memang sepanas itu mereka. Bagaimana kalau tahu kenyataannya. "Aku gak nyangka lo, Sha. Kamu bisa seperti itu."


"Seperti itu bagaimana ya, Mbak?"


"Jangan sok polos gitu ah, Sha. Gak pantas banget."


"Ya kan aku gak merasa melakukan apa-apa, apalagi menjadi simpenan Pak Arsyad. Gak banget aku kayak gitu!"


Marsa meletakkan kembali cangkir kopinya, bersidekap mendadak intimidasi Sha. "Jangan diteruskan Sha, kamu cewek baik-baik. Gak seharusnya kamu mengambil jalan pintas hanya karena sebuah jabatan. Aku memang gak pantes nasehatin kamu, apalagi kamu tahu lah anak marketing pada klien itu gimana. Cuma sebagai senior kamu, aku merasa sayang aja kalau kamu harus ikutan jalan gak bener."


"Maksih atas perhatiannya, Mbak. Hanya saja apa yang Mbak tuduhkan sebagai simpenan Pak Arsyad itu gak benar, aku..."


"Mau mengelak apalagi si, Sha. Foto kamu di hotel tadi malam sama Pak Arsyad sudah tersebar. Kemarin juga kamu mencium Pak Arsyad di ruangannya juga ada tuh fotonya!"


Sha melotot kaget, di ruangan Arsyad? Kapan? Kok gak sadar kalau pintu ruangan terbuka?


"Kamu kaget kan? Apapun hal buruk pasti ketahuan lah, dan kamu.." ucap Marsa hingga menunjuk Sha.


"Gak usah sok polos dan mengelak kalau kelakuan kamu bejat. Aku gak suka punya teman yang sok munafik, apalagi kalau Pak Arsyad sampai tergila-gila sama kamu. Masih banyak perempuan baik untuk Pak Arsyad, selain kamu!"


"Siapa? Mbak Marsa? Atau karyawan lain yang memfitnah orang dengan menyebarkan foto mesra kami?"


"Eh kamu kok nyolot?"

__ADS_1


"Ya karena Mbak Marsa dan kawan-kawan main tuduh aja. Gimana kalau kenyataannya aku udah nikah dengan Pak Arsyad? Gimana kalau kenyataannya aku dan Pak Arsyad adalah suami istri yang sah secara agama dan negara?" ucap Sha dengab tegas dan menatap mata Marsa intens.


__ADS_2