
"Maaf!" satu kata yang sangat dalam maknanya diucapkan Arsyad penuh sesal. Dalam perjalanannya terus saja menyumpahi tindakan Irsyad yang mengancam ketenangan Sha, terbukti sang istri gemetar saat mendekatinya tadi.
Sha hanya tersenyum, "Kamu gak salah kali, Bi!" ucap Sha menenangkan. Dirinya terlalu pandai menutupi bahwa hatinya juga resah. Tak menyangka sang mantan bisa bertindak layaknya penculik. Andai ia tak sigap keluar entah apa jadinya.
"Andai aku menerima telponnya di dalam mobil mungkin kamu gak setakut tadi," begitu pengandaian yang terus terngiang dalam benak Arsyad. Moment menegangkan yang menjadi pengalaman agar tak meninggalkan sang istri sendiri.
"Udah gak pa-pa, ayo turun!" ajak Sha saat mobil mereka sudah sampai rumah.
"Sayang, beneran aku minta maaf. Aku hampir saja gak bisa jagain kamu. Aku gak bisa bayangin kalau kamu sampai diapa-apain sama Irsyad."
"Bi. Aku pun sebenarnya juga takut kalau Irsyad melakukan hal yang bahaya buat aku. Makanya aku langsung ke kamu, dan untungnya dia tidak membuka pintu mobil."
"Mulai hari ini aku bakal jaga kamu, kamu keluar harus sama aku. Kalau aku meeting kamu bakal aku ajak, aku gak mau kamu.celaka sayang!" ucap Arsyad penuh cinta sambil menangkup kedua pipi mulus Sha.
Lagi-lagi Sha bahagia diberi ucapan manis seperti itu. Sha perempuan normal yang memang perlu perhatian baik sikap maupun mulut manis dari sang suami. "Beres, asal jangan pernah bosen kalau aku berada di sekitarmu," ledek Sha.
"Gak bakal bosan sayang," ucap Arsyad yang sekarang lebih tenang. Keduanya pun masuk rumah, di sambu mama yang membawa segelas air putih hangat, mungkin beliau mau meletakkan di kamar nenek.
__ADS_1
"Kok baru pulang? Mampir ke mana?" tanya mama curiga. Pasalnya anak dan menantunya tadi ke parkirannya bareng dengan rombongan papa.
"Aku ketemu klien dulu, Ma. Makanya kita baru pulang," ucap Arsyad menjelaskan dan mama hanya mengangguk saja.
Mereka naik menuju kamar di lantai 2 setelah sang mama menyuruh mereka segera istirahat. Saat Arsyad mau wudhu, Sha duduk melamun. Jelas bikin Arsyad khawatir, khawatir mental Sha yang terus dikejar Irsyad.
"Kenapa?" tanya Arsyap pelan.
Sha menggeleng sambil tersenyum, "Aku cuma kepikiran aja. Mama kamu bohongin loh barusan. Dan aku gak suka."
"Iya aku tahu."
*
*
*
__ADS_1
Sarapan, kembali meja makan sepi. Sha dan Arsyad bangun kesiangan. Sehingga mereka telat turun dan ditinggal sarapan. Karena sang papa dan mama serta nenek sudah ke rumah sakit dulu, baru papa ke kantor.
"Aku ingin memperkerjakan body guard buat kamu," ujar Arsyad sembari mengunyah roti selai nanas.
Uhuk
Uhuk
Sha tersedak seketika, gak salah nih dirinya dijaga body guar? Seorang gadis biasa loh ini!
"Buat apa?"
"Ya jagain kamu biar gak diganggu mantan kamu yang sok gagak move on!"
"Masih pagi loh Sayang, jangan ngomel deh!"
"Iya tahu, aku jaga was-was kejadian tadi malam terulang, tapi gak segitunga juga bawa body guard."
__ADS_1
"Fix..no debat. Body guard buat kamu. Lebih baik waspada daripada menyesal setelah kejadian."
"Baik," Sha tidak membantahnya lagi. Arsyad melakukan hal itu semata karena ingin keselamatan dirinya terjaga. Orang kalau sudah nekat, bisa melakukan apa saja termasuk perbuatan yang tidak menyenangkan, maklum orang itu sedang dikelabui emosi dan didukung hasutan setan.