
"Assalamualaikum Sha," sapa mama Arsyad dan nenek yang tiba-tiba datang ke kantor. Sha yang fokus dengan layar gelagapan dan langsung berdiri sembari mengangguk hormat.
"Hei...gak usah seformal lagi."
"Eh ..iya Nyonya!"
"Duh...panggil Nyonya lagi, ayo coba panggil Ma-Ma!" ucap mama Arsyad dengan cetar membahana, bahkan Sha tak berkutik sama sekali mau menanggapi seperti apa.
"Bu, gak usah izin Arsyad deh kayaknya, langsung bawa aja!" ucap Nenek yang sekarang sudah duduk di depan meja kerja Sha. Mama Arsyad menatap Sha sebentar, kayaknya ide sang mertua cocok juga. Maklum anak bungsunya itu terlalu cerewet dan pasti nanti banyak prosedur yang ribet. Otomatis gagal membawa Sha keluar.
"Mama dan nenek ngapain?" baru saja mau menculik Sha dari kantor eh si bos datang bersama Danu. Bisa membayangkan betapa gelagapannya kedua wanita itu. Si nenek bisa saja memasang wajah datar seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi sang mama yang dipandang tajam hanya cengengesan.
Sha bisa menghela nafas lega karena kedatangan Arsyad. Baru kali ini ia mengharap kedatangan Arsyad. Tak bisa membayangkan sikap Sha ketika menghadapi dua emak-emak kaya dan rempong itu.
"Ada apa?" tanya Arsyad penuh curiga. Ia sudah hapal betul gelagat aneh duet mama dan neneknya kalau sudah punya keinginan.
"Ah..enggak...mama dan nenek.." mama masih bersikap tenang dan berusaha mengalihkan kecurigaan Arsyad, Danu dari tadi hanya menahan tawa. Tak menyangka Sang Nyonya gerak cepat untuk mendekatkan si bungsu dan sekertarisnya.
"Aduh...aduh...nenek pusing nih, Lethisa bisa bantu nenek," sang nenek mulai drama dengan memegang pelipisnya. Sontak namanya dipanggil, Sha langsung mendekat pada nenek Arsyad. Semua orang melihat aksi sang nenek. Mama dan Danu menahan tawa sedangkan Arsyad mendengus kesal dan berkacak pinggang. Kenapa juga punya nenek secerdik beliau.
"Saya buatkan teh hangat ya, Nek," tawar Sha khawatir. Sedangkan sang nenek menggeleng. Ia masih memegang lengan Sha sebagai tumpuhan.
"Nenek pusing, sudah waktunya makan siang bukan. Ayo temani nenek makan saja, biarkan Arsyad mengomel dengan sang mama!" Sha tak bisa berkutik, situasinya membuat dia ngeblank. Bahkan tak melihat Arsyad sama sekali. Ya sudahlah menerima ajakan nenek saja, urusan nanti dimarahi Arsyad dipikir belakang.
"Syad, mama nyusul nenek ya!" pamit Mama yang langsung ngibrit meski Arsyad terus memanggilnya.
Arsyad kesal sekali. Ia khawatir Sha akan diracuni oleh tingkah konyol kedua wanita itu. Ingin menyusul tapi Danu menahannya. "Setidaknya biar Sha dekat dengan keluarga lo," ucapnya dengan tawa yang menghiasi wajahnya.
"Eh...bentar-bentar, tadi malam nenek ngoceh tentang kebiasaan gue sama Sha. Lo ya yang bilang?" todong Arsyad dengan mata yang mendelik.
Danu melangkah mundur lalu kabur, "Emaaaangggg!" sahutnya langsung masuk ruanngan sembari terkekeh.
Di tempat lain, tepatnya di lobi kantor. Sha masih memapah nenek Arsyad, sedangkan sang mama berjalan di belakang sembari sibuk memfoto perlakuan manis Sha.
Calon mantu idaman
Begitu sang mama mengirimkan foto itu di grup keluarga. Sontak saja grup keluarga mendadak ramai.
__ADS_1
Baik sang anak dan menantu sontak mengomentari.
Calonnya bontot, Ma? Komen kakak Arsyad yang pertama.
Cie bontot udah berani pacaran, lanjut kakak ipar Arsyad yang pertama.
Hoax, balas Arsyad kesal. Ia tak suka urusan pribadinya diumbar karena dirinya sendiri belum pasti menjadi kekasih Sha. Nanti kalau gak jadi kan malu dan pasti diledek pasukan kakak. Ouh menjengkelkan sekali.
Nanti mama foto dari depan, cantikkkk dah.
Ma gak usah macam-macam dong, ini juga masih waktunya kerja main culik aja deh. Pa...karyawan papa bolos kerja Pa, adu Arsyad dalam room chat keluarga.
😝😝😝😝😝
Arsyad semakin kesal melihat komentar emoticon dari sang mama. Ya jelas papa gak bakal turun tangan, kalau istri dan ibunya sudah beraksi. Lebih aman mengalah ketimbang diomeli dua perempuan berkuasa itu.
Sha pun ikut masuk ke mobil Nyonya Wira, dia duduk di depan, di samping sopir. Sha sedikit takut, baru sadar kalau ia bersama istri pemilik perusahaan. Sebuah kehormatan yabg langkah dan mengerikan.
"Kita makan di Warung Sunda aja," pinta Nenek pada sopir, dan dijawab Siap Nyonya.
Sha menoleh, "Suka kok Nyonya," jawabnya sedikit takut.
"Ck....jangan Nyonya dong, Mama gitu loh. Sama kayak panggilan Arsyad ke mama," desak beliau dengan logat manja. Sungguh Sha hanya bisa tersenyum kikuk.
"Coba ayo bilang, Ma-ma!" sekali lagi beliau meminta, dan Sha tidak mau sampai membuat beliau ilfeel karena penolakan, Sha pun mengangguk.
"Mama Pak Arsyad," begitu lebih aman. Tapi tidak bagi Nyonya Wira, perkara memanggil nama aja ribetnya sampai mobil tiba di pelataran Warung Sunda. Sang nenek bahkan sampai memukul lengan sang menantu. "Haduh.....biarkan Sha memanggil kamu dengan sebutan yang ia nyaman, gak usah maksa. Nanti kalau sudah resmi jadi mantu pasti dia sebut kamu mama, ya kan Sha?"
Sha diam saja, bingung mau jawab apa. "InsyaAllah," jawab Sha pada akhirnya. Dia tidak pernah mengalami kondisi seperti ini, bersama mama Irsyad dulu saja tidak seheboh ini, dan Sha saat dikenalkan dengan mama Irsyad memang langsung klop. Mungkin dilandasi cinta dan harapan untuk masa depan, maka Sha beradaptasi dan berusaha masuk dalam keluarga Irsyad.
Begitu masuk ke Warung Sunda, makanan favorit keluarga Arsyad dipesan tanpa pikir panjang akan dihabiskan apa tidak, sopir pun diajak makan bersama. Sha kagum, keluarga Arsyad juga ramah terhadap karyawannya.
"Maaf ya, Sha. Mama dan Nenek nyulik kamu. Pasti deh Arsyad uring-uringan, he..he..," ucap mama Arsyad sembari mencoel daging gurame bakar dengan sambal bajak.
"Iya, Nyo....Ma. InsaAllah, Pak Arsyad tidak marah," jawab Sha sebisa mungkin bersikap biasa, tak perlu gugup karena kalau dilihat mama dan nenek Arsyad tidak memandang Sha sebagai sekertaris Arsyad, malah bisa dibilang sedang mengajak calon mantu jalan.
"Eh Sha, ayo dimakan. Mama pesan banyak buat calon mantu, nanti mama bisa diomelin Arsyad."
__ADS_1
Sha tersenyum. "Masa' Pak Arsyad suka ngomel sih, Nyonya?"
"Ih...Mama, Sha," pinta beliau meralat panggilan Sha. Mungkin belum terbiasa.
"Dia mah hobinya ngomel, cerewet banget. Gak suka kalau melakukan sesuatu gak perfect. Di kantor juga gitu Sha?"
"Kadang sih, cuma kalau Pak Arsyad cerewetnya kebangetan, malah gak dipeduliin sama Sha."
"Cocok banget sih kalian, udah ada chemistry. Kalau satunya cerewet satunya diam cuek, uh....lucunya!"
"Betul itu. Saling melengkapi, nenek melihat nih Lethisa cocok sama Arsyad. Dan kami berharap kamu sama Arsyad, Sha."
"Gimana ya, Nek." Sha takut untuk menolak, lidahnya keluh sangat berbeda bila menolak langsung pada Arsyad.
"Udah makan dulu aja, yang jelas Sha. Kami sebagai orang tua Arsyad, memang menginginkan dia segera menikah atau setidaknya punya pacar. Dan ketika Danu bercerita tentang sikapnya padamu, kami langsung lega. Dia dari SMA katanya suka sama teman sebangkunya, bahkan sampai kuliah di luar negeri katanya masih naksir sama teman sebangkunya itu. Mama khawatir aja kalau dia terlalu mengharap teman sebangkunya, dan gak mau nikah. Tapi dengar kalau dia lagi PDKT sama kamu, mama lega."
Sha tersenyum dan mengangguk, "Mama dikasih tahu tidak siapa teman sebangkunya?" tanya Sha memberanikan diri, agar obrolan kali ini berjalan dua arah.
"Dia mah bilangnya cuma Atun."
Sha menganga, kesal setengah mati Arsyad mengenalkan nama itu pada sang mama. Awaassss.
"Kamu tahu?"
Sha mengangguk.
"Oh iya? Mereka pernah ketemu? Temannya sudah menikah atau sudah punya anak?" tanya mama beruntun.
"Pernah bertemu sering sekali Ma, alhamdulillah masih single."
"Lah...gimana terus? Katanya naksir teman sebangkunya kok naksir kamu, malah sering ketemu juga. Apa karena itu alasan kamu menolak Arsyad.
Sha menggeleng. "Teman sebangku Arsyad itu saya, Nyonya."
"Apaaaaaaa," ucap mama dan nenek kompak, kaget setengah mati.
"
__ADS_1