
Sha memutuskan untuk berbalik menuju kantin, lebih baik makan sendiri ketimbang kejulidan netizen semakin tak karuan. Ia memesan nasi ayam geprek sambal ijo dan jeruk hangat. Baru beberapa suap, Arsyad sudah duduk dengan wajah kesalnya.
"Bagi!" tanpa permisi, ia menarik piring Sha lalu memakannya. Sha terbengong, sikap Arsyad seperti orang kelaparan dan tak mencerminkan kewibawaan.
"Syad!"
"Makan, Sha!" ucap Arsyad sembari menyodorkan suapan pada Sha. Otomatis mata Sha melirik ke kanan dan kiri, benar saja pengunjung kantin menatap pada mereka.
"Aku bisa sendiri!" Sha menolak suapan Arsyad kemudian beranjak hendak memesan makanan lain. Biarkan jatah tadi untuk Arsyad saja yang kelihatan kelaparan.
"Mbak, Sha. Pacarnya Pak Bos ya?" tanya Uun, salah satu pegawai stand ayam geprek yang ada di kantin perusahaan.
Sha hanya tersenyum tipis, "Berapa Mbak?" lebih baik tidak menjawab ketimbang mereka para pengamat banyak tanya.
"Gratis deh, Mbak. Makanan Mbak tadi diambil Pak bos," Sha tertegun sebentar. Berarti dari tadi pelayan stand aja mengamati keduanya. Sha pun tersenyum saja, mengucapkan terimakasih lalu membawa nampan berisi Makan siangnya.
"Bahkan pelayan stand aja mengamati kamu," cecar Sha dengan ketus. Arsyad yang masih makan hanya menatap Sha saja.
"Makan Sha, ngomelnya nanti saja!" ucap Arsyad kemudian. Namun tidak bagi Sha, di sela-sela makan dia pasti ngomong.
"Kenapa kamu gak makan sama Pak Danu sih?" kesal Sha sembari menguliti ayam gepreknya.
"Karena aku suka perempuan!" jawab Arsyad menyebalkan. Masih santai saja menikmati pedasnya sambal ijo.
"Syad, orang-orang pada lihat kita loh, sadar gak sih!" kesal Sha untuk kesekian kalinya. Maklum, kalau ada yang menatap kita rasanya gimana gitu, pasti gak nyaman.
__ADS_1
"Ya mereka punya mata. Wajar menatap kita!"
Sha hanya cemberut, Arsyad tak menyadari bahwa tatapan mereka itu menyiratkan kebencian terhadap Sha, serasa Sha akan dimusuhi perempuan di kantor ini.
"Cuek lah, seperti Sha yang aku kenal dulu. Kalau hidup terlalu memikirkan omongan orang, kamu gak akan maju."
Sha hanya mengangguk, meneruskan makan siang terlebih dulu. Memang gak punya perasaan pada Arsyad, apalagi keduanya adalah teman SMA jadi Sha tak merasa harus jaga image menghabiskan jatah makan siangnya di depan Arsyad. Malah terlihat menggemaskan bagi Arsyad. Tak sadar kalau ia tersenyum tipis melihat cara makan Sha yang apa adanya, tak dibuat-buat bila dihadapan laki-laki.
"Kamu dimusuhin sama mereka?" tanya Arsyad saat keduanya sudah menghabiskan makan siangnya. Tidak langsung beranjak keluar kantin, keduanya memilih duduk terlebih dulu dengan sekedar mengobrol.
"Bukan dimusuhi sih Syad, cuma mereka lagi sensi kalau aku jalan atau dekat sama kamu, Pak Danu ataupun Pak Arman."
"Mereka iri gak bisa berada di posisi kamu begitu?" tanya Arsyad yang tadi sempat dijelaskan Danu bagaimana sikap karyawan pada Sha sejak diangkat menjadi sekertaris Arsyad.
"Jawab aja tergantung amal perbuatan," usul Arsyad diiringi tawa jahil, dan Sha hanya memutar bola mata malas.
"Makin sewot aja mereka," balas Sha yang tidak akan menuruti usulan Arsyad.
"Lagian kenapa peduli sih, kamu kerja jauh dari mereka juga!"
"Iya, tapi juga harus mikir gak selamanya jadi sekertaris juga. Bisa jadi kembali ke devisi keuangan, kan."
"Selagi aku jadi bos di sini, aku masih pilih kamu! Ah....kalau gak ya kamu bakal jadi istri gimana?"
"Ngaco!"
__ADS_1
"Amiin, gitu napa Sha!"
"Syad, emang kami serius dengan perasaan kamu sama aku?"
Arsyad hanya menatap Sha intens, "Gimana kalau kita jadian aja atau langsung ke KUA buat buktiin perasaan aku ke kamu!"
Sha tertawa bahkan sampai menutup mulutnya. Matanya menyipit dan semakin membuat Arsyad terpesona. "Pantas saja Irsyad awet sama kamu, Sha. Sangat mempesona."
Namanya orang sudah jatuh cinta, wajah belekan saja dibilang mempesona. Dipuji begitu, Sha pun tersipu malu. "Gak usah merayu, gak mempan. Udah yuk, aku belum sholat."
"Jamaah ya," pinta Arsyad. Kalau perasaan dinyatakan secara langsung, Sha menolak. Kali ini Arsyad harus punya jalan lain, yaitu melakukan kebiasaannya secara bersama-sama agar Sha terkesan, terbiasa bersama Arsyad.
"Di mana?" tanya Sha karena selama ini ia sholat di musholla dekat kantin.
"Ruanganku aja gimana?"
"Musholla kantin aja deh, dekat. Lagian biar semua orang tahu kalau kita gak selalu berdua."
"Makmumku banyak dong nanti," agak sedikit kecewa karena Arsyad berharap hanya Sha menjadi makmumnya.
"Belajar jadi imam dengan makmum banyak, karena kan calon suami dan calon ayah juga."
"Istriku nanti kamu ya?" masih saja mencari kesempatan.
"Suka hati kamu aja deh, Syad!" jawab Sha kesal. Sudah bosan untuk menyadarkan Arsyad, untuk saat ini Sha enggan berhubungan dengan lawan jenis. Urusan nikah, biar waktu yang menjawab.
__ADS_1