JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
MANTAN MERTUA


__ADS_3

"Jadi Arya masih berhubungan dengan perempuan itu?" tanya Nyonya Maheswari, ibu dari Arya yang sangat menentang hubungan Arya dan Rahmi. Sampai usianya menginjak 72 tahun pun ia tak pernah bertemu dengan Rahmi, hanya melihat foto yang dikirim anak buahnya saja. Ternyata selama ini keluarga Arya masih mengawasi Rahmi, mereka khawatir kalau Arya tetap berhubungan dengan perempuan itu. Selama ini mereka memang sudah yakin kalau Arya tak pernah berhubungan lagi dengan Rahmi, namun kenyataan video yang baru ternyata salah. Beliau merasa kecolongan.


"Dikatakan berhubungan juga tidak, hanya bertemu dua kali!" ralat Boy, anak buah yang bertugas mengawasi Rahmi.


"Apakah perempuan itu mengajak Arya kembali?"


"Sepertinya tidak, karena pertemuan ketiga perempuan itu tidak datang. Tuan Arya hendak ke rumah perempuan itu tapi gak jadi, putar balik."


Nyonya Maheswari hanya mengangguk saja, "Besok antarkan aku ke rumah perempuan itu!"


"Baik, Nyonya!"


Kabar buruk siap diterima Rahmi dan Sha karena bila keluarga Arya bertindak bisa fatal. Apalagi Nyonya Maheswari sangat tidak terima menantu kesayangan dikalahkan oleh perempuan seperti Rahmi. Apalagi kalau sampai terdengar masalah Farah, siap-siap hidup Bu Rahmi dan Sha tidak akan aman.


Tepat sore, Rahmi dan Sha dikejutkan oleh kehadiran perempuan sepuh yang diantar oleh mobil mewah, Sha yang kebetulan membukakan pintu hanya mengerutkan dahi tamu ini.


"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Sha sopan.


"Saya Nyonya Maheswari, ibu dari Arya."


Sha terpaku sejenak, ia tahu siapa perempuan di depannya ini. Saat sadar, Sha segera mempersilahkan neneknya masuk. "Silahkan duduk, Nyonya!" ucap Sha mencoba ramah. Ia masih belum tahu tujuan apa sang nenek datang ke mari. Sha sendiri juga tidak merasa terharu karena kedatangan sang nenek, justru waspada gangguan apalagi yang akan datang dalam hidupnya.


"Kamu anaknya perempuan kampung itu?" tanya Nyonya Maheswari penuh penekanan. Terlihat angkuh .


"Perempuan kampung mana yang Anda maksud?" Sha tak takut.


"Iswa."


Sha terdiam. Namun tak lama ibu muncul. Beliau berniat menyalami karena seumur pernikahannya tak pernah bertemu dengan mertua. Namun baru saja Bu Rahmi menyodorkan tangan, Nyonya tua tersebut menepisnya. Sha hanya menatapnya tajam. Memang perempuan di depannya ini adalah sang nenek yang harus dihormati, ada ikatan darah tapi tidak ada ikatan emosional. Boleh dong Sha bersikap tidak sopan padanya.

__ADS_1


Nyonya besar yang terhormat saja menepis tangan mantan menantunya, memberikan contoh untuk tidak bersikap sopan, kenapa Sha harus bersikap hormat. Bagi Sha, kalau mau dihormati tentu harus bisa menghormati meski pada orang yang tidak disuka.


"Jauhi Arya. Kamu sudah mendapat rumah ini dan uang untuk bertahan hidup, tak usah mengemis pada anakku lagi," jelas Nyonya Maheswari dengan sombongnya. Masih berpikir kalau Rahmi yang mengejar Arya, tapi tidak pernah tahu bahwa Arya yang sangat tergila-gila pada perempuan anak satu ini.


"Baik. Dan silahkan keluar. Anda tak perlu repot-repot mengancam kami karena sejatinya kami tidak butuh sosok laki-laki bernama Arya," Sha berkata sangat jelas dan tak ada rasa takut. Menghadapi orang sombong, harus dibalas sombong biar orang tersebut sadar di atas langit masih ada langit.


"Sombong!" ujar Nyonya Maheswari langsung keluar rumah. Bu Rahmi menghela nafas pelan, tak menyalahkan Sha kalau bersikap tak sopan, dirinya sendiri yang mendidik Sha untuk berani melawan siapa pun yang menginjak harga dirinya.


"Bu....Sha bilang sekali lagi. Stop temuin lelaki bernama Arya itu, meski dia gedor-gedor pintu atau datang saat warung buka teriak aja maling. Sha gak mau hidup kita diusik olehnya. Peranan Tuan Arya itu gak ada dalam hidup Sha. Statusnya hanya ayah biologis. Itu saja."


Bu Rahmi mengangguk paham. "Siap bos!"


"Harus dilakuin. Hidup kita sudah bahagia tanpa ada dia. Baru datang 2 kali saja sudah membuat huru-hara," ucap Sha sembari keluar rumah. Segera menutup dan menggembok pagar. Ia malas harus menerima tamu orang dari masa lalu ibunya.


Bu Rahmi hanya tersenyum manis, putrinya sudah dewasa, sudah berani ambil keputusan yang sangat mendahulukan kebahagiaan dirinya. Selepas menutup pintu, keduanya kembali berkutat pada olahan yang akan dijual besok. Sha mengiris tempe tipis untuk orek tempe, sedangkan ibu menumis bumbu.


"Hidup ayahmu itu gimana ya, punya istri dan anak tapi kok masih suka sama ibu," ucap Ibu sembari menggerakkan spatulanya.


"Kamu nanya?" balas ibu ala tiktokers. Sha tertawa.


"Bangga itu kalau berhasil membina rumah tangga, lah ibu mah ditinggal gitu aja."


"Kalau menurutku sih, tuan mantan bukannya masih suka, tapi merasa bersalah sekali."


"Mungkin."


"Emang orang tua tuan mantan sekaya itu ya, Bu. Sampai gak mau menerima ibu?"


"Iya mungkin. Ibu juga gak dikenalkan kok waktu diboyong ke sini. Ibu bodoh juga gak menuntut buat dipertemukan. Makanya kamu harus bersyukur kalau calon mertua kamu mencintai kamu," ucap Ibu teringat saat Sha diajak belanja ibu dan nenek Arsyad.

__ADS_1


"Sha belum punya calon mertua kali, Bu!"


"Heh...lupa kalau pernah diajak kencan."


"Ya sama mamanya irysad dulu," Sha masih teringat mama Irsyad yang menyayanginya dulu, dan beberapa kali belanja bersama.


"Eh Irsyad. Siapa itu?" sindir mama sembari tertawa. "Mama kenalnya Arsyad tuh," lanjut beliau yang membuat Sha cemberut. Kok jadi Arsyad sih?


"Ibu sangat setuju kalau kamu sama Arsyad. Feeling ibu dia yang akan menjadi suami kamu."


Sha terdiam. "Aamiin dong!" titah ibu dengan gemas.


"Sha menganggap dia cuma teman loh, Bu. Gak lebih. Ibu tahu sendiri kan semenjak putus Sha gak percaya dengan omongan laki-laki."


"Ya tapi kamu gak bisa bersikap tertutup terus. Gak baik. Berpikir positif, siapa tahu kamu dipaksa putus dari Irsyad karena jodoh kamu Arsyad."


"Ibu semangat bener sih jodohin Sha sama Arsyad."


"Ya mumpung ibu masih hidup, ibu masih bisa nasehatin kamu. Ya pengen lah melihat putri satu-satunya menikah."


"Dalam waktu dekat, Sha masih belum bisa menyukai seseorang, Bu."


"Ya ibu cuma berpesan saja. Jangan terlalu sering menolak Arsyad, karena suatu saat Arsyad punya batas sabar menunggu kamu. Emang kamu sebagai perempuan diperhatiin cowok gal seneng. Biasanya kalau perempuan tuh, di mulut saja bilangnya enggak. Tapi di hati iya."


Sha ngakak, baru sadar kalau dia pernah merasakan seperti itu. Merasa bahagia diperhatikan Arsyad, bahkan wajah bersemu dan salah tingkah juga pernah dirasakan. "Pernah sih, tapi kan gak berlanjut. Hanya waktu tertentu saja."


"Idih, mulai naksir gak mau ngaku."


"Dibilang butuh waktu juga!"

__ADS_1


Dan tak lama, deringan telpon berbunyi..nama Arsyad muncul di layar. "Panjang umur dia, Bu!" ujar Sha sembari menunjukkan ponselnya. Dan beranjak ke kamar dengan raut bahagia. Sang ibu hanya menggelengkan kepala. Kalau orang melihat tingkah Sha sekarang sudah bisa menebak sebenarnya dia sudah naksir Arsyad.


__ADS_2