
Seorang wanita paruh baya menatap Sha yang baru saja masuk ke loby bersama Arsyad. Tampak bahagia layaknya pembawaan Sha tiap hari. Beliau menghela nafas berat, sangat berbeda dengan keadaan sang putra. Memang, menikah dengan orang yang tidak dicintai dan alasan menikah karena sebuah kesalahan sangat membutuhkan perjuangan ekstra dalam mempertahankan.
"Bu, ada tamu!" sapa salah satu resepsionis, Sha memang memberikan pesan pada mereka, saat Arsyad dan Sha di luar kantor agar mencatat siapa tamu bosnya.
"Untuk saya atau Pak Arsyad," tanya Sha sembari membaca buku tamu. Dan langsung membalikkan badan, usai membaca daftar tamu. Sha melihat mama Irsyad sudah berdiri di ruang tunggu loby.
"Mama!" lirih Sha masih terkejut. Bahkan Arsyad pun yang sejak tadi menerima panggilan telpon terpaksa menghentikan percakapannya. Bingung menatap Sha yang berdiri terpaku.
"Sha!" panggil Arsyad dan mama Irsyad kompak.
"Kamu gak pa-pa?" tanya Arsyad sembari menggoyang lengan Sha.
Sha menggeleng, tapi tak bisa berkata-kata.
"Sha, apa kabar?" tanya mama Irsyad mendekat ke arah Sha. Arsyad pun mengernyitkan dahi siapa perempuan ini. Lupa-lupa ingat, tapi tetap saja tidak ingat.
"Baik, Ma..eh Tante!" ucap Sha meralat panggilan. Masih canggung kalau memanggil Tante, karena merasa tidak berhak memanggil mama lagi.
"Panggil mama saja, seperti biasanya!" ucap beliau ramah, bahkan sambil mengelus lengan mantan calon menantunya itu. Beliau memang menyanyangi Sha meski sudah menjadi mantan sang putra.
__ADS_1
"Pak Arsyad, saya minta waktu dulu ya untuk menerima tamu," pinta Sha pada Arsyad. Sepertinya bos ganteng itu setengah hati untuk mengangguk. Namun akhirnya keduanya memilih pergi ke toko roti di samping kantor.
"Apa kabar, Sha?" tanya mama Irsyad ramah. Sikap beliau tidak menjadi mantan camer yang jahat atau sensi pada Sha. Sikap beliau tetap sama seperti dulu. Baik.
"Baik, Tante!" ucap Sha sembari tersenyum. Justru Sha mendadak gugup ditatap mama Irsyad. Dalam hatinya menerka apa yang diinginkan beliau hingga mau menemui Sha di kantor. "Tante apa kabar?" sebagai anak baik, tentu balik menanyakan kabar juga.
Beliau tersenyum tipis, lalu menggeleng. "Tante sedang tidak baik-baik saja, Sha. Makin pusing dengan mantan kamu."
Sha hanya tersenyum canggung. Malas sekali kalau pertemuan kali ini tetap membahas Irsyad.
"Kamu tidak tanya kenapa, Sayang?" sebenarnya mama Irsyad tadi memancing, hanya saja Sha enggan untuk menanggapi lebih lanjut. apalagi tentang Irsyad, sudah tutup buku.
Mama Irsyad menghela nafas berat. "Irsyad!"
Sha menanggapi dengan raut datar. Tepat dugaannya. Pembahasan soal Irsyad mau sampai kapan berakhirnya. Ia berusaha setengah mati untuk melupakan segala kenangan tentang Irsyad, tapi malah Irsyad yang seolah seperti korban yang ditinggalkan. Merana.
"Dia masih begitu sayang sama kamu, Sha. Mama sampai pusing dengan sikapnya yang begitu terbelenggu kenangan bersama kamu. Sha...kasih tahu mama...mama harus melakukan apa agar Irsyad lepas dari bayangan kamu," beliau mulai meneteskan air mata. Mengingat perlakuan Irsyad pada Farah sungguh beliau tidak membenarkan. Tapi beliau paham bagaimana keadaan hati Irsyad.
"Sha tidak punya ide atau saran untuk Tante ataupun Irsyad. Sha bukan siapa-siapa bagi Irsyad yang harus peduli akan hidupnya. Sha sudah tidak berhak, Tante. Sha juga tidak pernah sekalipun menggoda, justru Sha tidak menanggapi sama sekali Irsyad, hingga kemarin memberikan kesempatan bicara namun berakhir fatal." Inilah yang membuat Irsyad dan sang mama cocok dengan Sha, ketegasan dia dalam menghadapi masalah, cukup dewasa dan tidak emosi. Anak gadis yang sopan, meski tersakiti tetap menghormati lawannya.
__ADS_1
"Mama pikir kamu lebih tahu bagaimana menghadapi Irsyad, Sha. Mama percaya sama kamu, hanya kamu yang bisa merubah pemikiran Irsyad, Sayang!" beliau memohon tanpa menyadari efek bila Sha masih berhubungan dengan Irsyad.
Sha menggeleng. "Maaf, Tante. Sha gak bisa. Sha sudah menutup buku tentang Irsyad. Sha sangat sadar posisi Irsyad bukanlah pria single yang bebas berinteraksi dengan Sha. Mau bagaimana pun Sha perempuan, tentu akan sakit juga bila pasangan kita masih berhubungan dengan mantan. Sha harap ini pertemuan kita terakhir membahas Irsyad, Tante. Sungguh Sha tidak mau dianggap pelakor atau berniat merusak rumah tangga Irsyad. Janji dan harapan masa lalu sudah usai, tak perlu dikorek kembali."
"Sha sudah punya pengganti Irsyad?" tanya mama Irsyad yang penasaran alasan dasar Sha benar-benar menolak kehadiran Irsyad. Bahkan untuk kategori pacaran hingga 7 tahun, Sha seakan lepas begitu mudah.
"Maaf Tante, Sha tidak peduli dengan hidup Irsyad bukan karena sudah punya pengganti Irsyad. Tapi karena status Irsyad yang menjadi suami orang. Sha terpaksa lepas tangan, bersikap tak peduli dengan dia. Sekali lagi maaf!"
Mama Irsyad mengangguk paham. Sikap yang diambil Sha sudah benar, kalau sudah menjadi suami orang apalah arti seorang mantan. Dicintai namun tak berhak memiliki, daripada mengharap resiko dianggap pelakor, lalu dihujat masyarakat mending dari awal bilang ENGGAK.
"Oke ...kalau begitu mama minta saran, anggap saja kamu teman mama, menurutmu Irsyad harus bagaimana?"
Sha tersenyum tipis, sepertinya mantan calon mertuanya ini sudah buntu menghadapi anaknya yang kekeuh. Sampai menganggap Sha sebagai teman, bukan mantan calon menantu. Lucu tapi kasihan juga. Sha pun menghela nafas pelan, berpikir sejenak, "Untuk terakhir kali kita membahas Irsyad ya Tante, solusinya ada dua. Pertama, memang dari diri Irsyad yang harus move on dan fokus pada rumah tangganya. Kedua, saya menikah dengan pria lain."
Cukup terkejut dengan dua solusi tersebut, tak ada yang menguntungkan bagi sang putra. Mama Irsyad pun menyadari Sha memang tak mengharap Irsyad lagi.
"Terimakasih, sudah memberi saran pada Mama. Nanti akan mama coba untuk memberi pengertian pada Irsyad, semoga berhasil. Dan untuk saran kedua, jujur mama gak rela Sha. Sampai saat ini mama masih berharap kamu menjadi istri Irsyad. Mama sudah berusaha menerima Farah tapi hati kecil mama enggan untuk menyanyanginya lebih dalam."
"Sha doakan masalah mama dan Irsyad segera mendapatkan solusi. Agar kita hidup bahagia dengan cara kita sendiri, dan semoga Farah juga suatu saat nanti menjadi istri dan menantu idaman untuk keluarga mama."
__ADS_1
Beliau mengangguk. Sha melihat jam tangannya, sudah cukup ia meninggalkan kantor. Tak berselang lama Sha pamit, mama Irsyad pun sempat memeluk Sha erat. Entah kapan lagi akan punya kesempatan mengobrol seperti ini. Yang jelas mama tahu sendiri Sha bukanlah pelakor. Dia wanita baik yang punya prinsip. Beliau tahu ditinggal Irsyad menikah Sha juga merasakan sakit hati. Namun ia bisa mengontrol dan berkaca bahwa bertahan demi suami orang tentu tak ada harapan pasti, so lebih baik melepasnya. Perlahan luka itu akan sembuh sendiri.