JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
CALON ISTRI


__ADS_3

Setelah singgah di rumah makan, Arsyad menepikan mobilnya di sebuah distro. Sha bingung kenapa harus ke outlet baju, "Ngapain?" tanya Sha menahan lengan Arsyad yang akan keluar mobil.


"Beli baju buat kamu," jawab Arsyad.


"Kenapa harus beli baju sih?" Sha masih belum ngeh kalau Arsyad tentu mau menginap di rumah neneknya.


"Ya kan kita nginep, masa' kamu gak ganti baju?"


Sha melongo, ia langsung menabok lengan Arsyad dengan gemas, "Eh Syad, apa kata nenek lo. Gue dipikir cewek apaan ntar," omel Sha dengan juteknya.


"Buruan ah, keburu malam. Hujan juga nih," Arsyad tak kalah cerewet. Jiwa pemimpinnya masih mendominasi, tak mau dibantah.


"Syad, gue nginep hotel deh. Gak enak kalau gak ada kabar, tiba-tiba lo datang bawa perempuan. Lagian kenapa sih harus ke rumah nenek lo. Dalam rangka apa coba. Kalau mau menenangkan diri, cukup naik mobil aja sama kuliner habis itu balik."


"Diam napa, Tun. Cerewet kamu kok gak ilang-ilang."


"Syad, gue gak mau ya dicap cewek gak bener yang mau aja diajak laki ke rumahnya. Mending gue nginep di hotel ah."


"Oke, check in sekalian satu kamar ya?" goda Arsyad dengan nada tengilnya. Sha kembali menabok punggung Arsyad keras.

__ADS_1


"Buh...KDRT terus nih,"


"Bodo. Syad,..." Sha sudah tidak bisa mengelak, Arsyad main nyelonong masuk ke dalam outlet mengambil piyama, kaos, training yang nyaman untuk tidur, serta celana jeans untuk balik besok. Ia pun tanpa menghiraukan celometan Sha tetap menempelkan kaos ke tubuh Sha untuk mengukur.


"Celana jeans ukuran berapa?" tanya Arsyad menyebalkan. Sha tak menjawab, ia hanya berdecih tak suka sambil bersedekap.


"Mbak, celana jeans untuk calon istriku ini size berapa kira-kira, lagi ngambek!" ujarnya semakin menyebalkan dan wajah Sha semakin tak ramah.


"Daleman ada gak, Mbak?" tanya Arsyad yang dijawab anggukan oleh Mbak penjaga toko, sambil senyum-senyum gak jelas.


"Lo apaan sih," mau tak mau Sha harus turun tangan kalau urusan dalam negeri. Gak mungkin juga ia membiarkan Arsyad tahu ukurannya. Dua kantong sudah di tangan, keduanya kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah nenek.


"Omongan laki kudu dilaksanakan, gue udah sering bilang sarapan sama calon istri, gantian dong ajak kencan ke Bandung bareng calon istri. Biar nenek gue gak kaget kalau kita nikah cepat ntar."


Sungguh Sha sudah kehabisan kata-kata, Arsyad semakin tengil. "Lo kalau gak mau antar gue ke hotel, gue mau keluar mobil sekarang," ancam Sha yang disambut tawa Arsyad.


"Kira-kira dong, Sha. Pintu mobil udah gue lock, gak bisa keluar. Udah jangan bertindak seperti sinetron yang gak masuk akal deh. Lagian cuma semalam doang, habis itu pagi kita balik kantor."


Sha diam, marah. Hatinya masih dongkol karena Arsyad benar-benar mengajaknya menginap di rumah nenek. Mobil sudah sampai di pelataran rumah asri yang lumayan besar, satpam pun menyapa Arsyad dengan ramah.

__ADS_1


"Turun gih,"


"Ogah."


"Ya udah jangan salahkan kalau nanti gue gendong!" Arsyad semakin menyebalkan. Sha pun menurut. Ia hanya menundukkan kepala.


"Cucukuuuuuuu," panggil seorang wanita beruban begitu tahu Arsyad yang datang. "Eh...sama siapa?" tanya nenek yang tak jadi memeluk Arsyad malah menatap intens Sha.


"Calon istri dong!" jawab Arsyad sembari merangkul lengan Sha. Sontak gadis itu menoleh, melotot karena tak suka dengan sikap Arsyad.


"Sayangnya nenek gak percaya tuh, kamu siapanya Arsyad, cah ayu. Pacar bayarannya?" tanya nenek sembari menarik tangan Sha untuk duduk.


"Saya sekertarisnya Pak Arsyad, Nyonya!"


Sang nenek melirik sinis sang cucu yang terlewat santai meminum jus jeruk yang dihidangkan. "Anak ini...." geram sang nenek.


"Hei...kamu jangan bikin skandal seperti Anwar ya. Gak berkah perusahaan kamu kalau ada skandal begitu."


"Yang bikin skandal siapa, orang benar dia calon istri aku kok. Masih malu."

__ADS_1


"Iya kah?" selidik nenek memastikan.


__ADS_2