JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
BERTENGKAR


__ADS_3

Bu Rahmi duduk berhadapan dengan laki-laki yang berjanji tidak akan masuk ke dalam kehidupannya lagi. Namun baru sehari berjanji, siang tadi mengajak temu di salah satu restauran. Katanya penting dan menyangkut masa depan Sha. Ingin menolak tapi Arya datang lagi ke rumah. Ia tidak mau semakin menambah gosip yang beredar.


Bu Rahmi pun memberi pesan pada Mbak Marni agar tidak bilang ke Sha bila Bu Rahmi keluar dengan mantan suaminya lagi, khawatir Sha marah. Marni pun mengiyakan saja.


"Ibu dari mana?" tanya Sha ketika membuka pintu, ibu baru saja melepas helmnya. Beliau menoleh sekilas, mengambil kresekan makanan yang digantung di sepeda motor.


"Masuk dulu yuk, ibu sholat isya dulu baru ibu cerita."


Sha hanya mengangguk dan memberi jalan ibu agar segera membersihkan diri. Sha pun berinisiatif membuka bungkusan martabak telor dan martabak manis ke dalam piring, tak lupa membuat teh hangat untuk ibu, perasan lemon hangat untuknya.


Sembari menunggu ia memotret martabak tersebut, dikirimkan ke Arsyad yang sedang pamer waffle singapura.


Martabak sogokan, begitu caption yang ditulis Sha.


*Kok bisa?


Ibu udah datang dan bawa martabak ini. Gue yakin martabak ini dibelikan sama tuan mantan suaminya buat gue, dan pasti ada guna-gunanya biar gue bisa luluh. Hufh. No Way*


😛😛😛😛😛, Arsyad mengirim emoticon tanda dia tertawa, pemikiran Sha sungguh tidak masuk akal.


*Dih...emoticon lo Syad, emang benar kok perkiraan gue.


Gitu-gitu juga bapak lo kali, Sha.


Bapak biologis doang, cuma nyumbang sp*ma.


Shaaaaaa*


Arsyad tak menyangka Sha bisa bicara seperti itu. Terlalu sadis tidak mau mengakui keberadaan sang ayah. Mau menasehati Arsyad khawatir Sha salah paham, karena ia tahu betul bila Sha sudah benci dengan seseorang dia tidak akan mau mengubah pandangannya, apapun yang terjadi.


"Masih banyak kerjaan?" tanya ibu yang tampaknya sudah segar dan siap bercerita. Beliau duduk di depan Sha sembari menarik piring martabak telor. "Makan mumpung masih hangat," ucap Ibu sembari memasukkan potongan martabak tersebut.

__ADS_1


"Gak selera," jawab Sha ketus. Di balik kunyahan, Bu Rahmi tersenyum tipis, pasti sang putri mengira dua martabak ini dibelikan oleh sang ayah.


"Tumben, ini cokelat keju kacang loh, kesukaan kamu!" goda ibu dengan mengambil potongan martabak manis. Emang sudah ibu-ibu jadi tidak memikirkan berat badan bila makan karbo malam hari. "Ayo dimakan, ini belinya pakai uang ibu," lanjut beliau seolah tahu pikiran Sha.


Dengan membuang nafas kesal, Sha pun mengambil potongan martabak manis, ia mengunyah menikmati lelehan keju, cokelat dan kacang yang rasanya yahud sekali. Tapi tak lupa pandangan curiga terus dilayangkan pada ibu.


"Ibu mau cerita tapi tolong jangan dipotong. Resapi dan pikirkan, janji?"


Sha mengangguk.


"Dan ingat jangan mengambil pemikiran yang negatif. Ibu harap semua bisa dibicarakan dengan kepala dingin," dan Sha lagi-lagi mengangguk.


"Ayah kamu datang ke warung sekitar pukul 11 siang. Saat itu warung sudah sepi, yang menyambut beliau adalah Mbak Marni dan mempersilahkan duduk di ruang tamu. Saat itu ibu lagi meletakkan sisa dagangan ke dalam piring hingga Mbak Marni memberi kabar kedatangan pria kemarin. Mama kaget, karena sumpah demi Allah mama tidak mencatat nomor ayah kamu dan tidak memberikan nomor ibu."


"Ibu tanya mau ngapain, dan ibu bilang kalau Sha belum bisa bertemu. Dia bilang ada yang mau dibicarakan tentang masa depan kamu. Ibu maunya tuntas, akhirnya ayahmu meminta waktu untuk pembahasan masa depan kamu."


"Modus," ceplos Sha tak suka.


"Kami bicara di cafe, tapi bukan cafe kemarin. Ayah kamu menyerahkan ini," ibu menyodorkan map berwarna hitam dan ini, beliau menyodorkan satu set perhiasan.


"Sogokan?" tuduh Sha, dan ibu mengedikkan bahu.


"Ibu gak tahu apakah itu sogokan atau memang bagian warisan kamu, yang jelas kebutuhan kamu ditanggung beliau."


"Gak perlu," ucap Sha cepat. "Sha gak perlu itu semua, Sha bisa sendiri."


Ibu mengangguk pelan. "Ibu tahu, ibu pun sudaj bilang. Tapi beliau memaksa."


Sha berdecak sebal. "Bu....ibu kan udah bilang, cukup pertemuan beberapa hari yang lalu, tapi kenapa sekarang ibu menyanggupi lagi. Tolong, Bu. Pikirkan efeknya. Sudah cukup kepergian dia menyengsarakan hidup ibu, jangan sampai sekarang bikin sengsara juga."


Sha sudah tidak bisa menahan emosinya. Dirinya sudah muak dengan pria yang katanya ayah Sha itu. Sikapnya seenaknya saja. Dulu pergi main kabur aja, sekarang datang juga sama. Sungguh mengusik kehidupan ibu dan Sha.

__ADS_1


"Bu, tolong pikirkan. Bagaimana keluarganya kalau tahu ibu masih menemuinya. Bayangkan kalau keluarga yang katanya ingin melenyapkan ibu dulu, bikin masalah tahu gak dia itu."


"Sha itu ayahmu."


"Aku gak butuh ayah. Aku sudah terbiasa hidup tanpa ayah, aku bisa bahagia. Apa ibu mau kembali sama pria itu?"


"Enggak Sha, ibu gak mau kembali."


"Ya makanya stop bertemu sama dia. Kalau sampai pertemuan ibu ini ada yang memfoto dan terdengar ke keluarga dia yang terhormat, hidup kita diusik Bu. Tolong... Sha mohon, jangan pernah menemui dia lagi."


Ibu diam, seakan tidak menyetujui permintaan Sha. "Dia berhak tahu kamu Sha."


"Tapi Sha yang menolak hak itu, Sha gak mau."


"Sha...ibu yakin anak baik, ibu tidak mengajarkan kamu dendam pada seseorang Sha termasuk ayahmu. Beri kesempatan beliau untuk meminta maaf ke kamu."


"Aku sudah memaafkan, begitupun aku sudah melupakan beliau. Memberi maaf tak perlu harus bertemu kan?"


"Tapi Sha..."


"Cukup. Aku sebagi anak gak mau ibu sedih, aku gak mau ibu kenapa-kenapa. Ibu mikir gak sih, pertemuan dengan segala kepentingannya adalah sebuah modus."


"Sha gak sopan kamu bilang seperti itu."


Sha terdiam, apalagi mendengar ibunya bernada tinggi baru kali ini seumur hidup Sha dibentak oleh ibunya.


Sha tersenyum miring, "Baru bertemu dua kali saja, ibu sudah bisa membentak aku. Begitu hebatnya bujuk rayu tuan mantan suami itu. Ini permintaan Sha, Bu. Tolong abai dengan dia. Apapun caranya."


Sha beranjak pergi dengan amarah memuncak, lebih baik menghindari ibu karena semakin ibunya membela pria itu, Sha takut terbawa emosi sehingga berbicara kasar pada sang ibu dan dia tak mau itu terjadi.


Oke...lebih baik masuk kamar dan diam. Selagi ibu masih tidak bisa bersikap tegas pada pria itu, Sha akan mogok bicara. Biarlah dianggap durhaka atau jahat sekalipun, Sha punya prinsip. Selagi sudah ditinggalkan tak perlu menerima kedatangannya kembali.

__ADS_1


Maafkan aku Ya Allah. Sungguh aku hanya manusia biasa yang tidak mudah memaafkan pria itu meski dia adalah ayahku. Sungguh ya Allah, aku sudah bahagia tanpa kehadirannya. Astaghfirullah. Batin Sha terus mengucap istighfar diiringi usapan air mata di pipinya. Malam pertama ia bertengkar dengan sang ibu karena pria asing yang mengaku ayahnya. Menyebalkan.


__ADS_2