
Nyatanya mama dan Arsyad tak pulang. Keduanya duduk saling berhadapan di kantin rumah sakit. Beberapa kali menghela nafas berat, tak menyangka muncul kejadian seperti ini. Bayangan Arsyad menikahi Sha dengan keadaan penuh tawa bahagia, bukan seperti ini. Sungguh hatinya galau. Ia tahu perasaan Sha, sangat tidak mau memikirkan kepentingannya di atas kesehatan sang ibu yang belum pulih.
"Ma..." panggil Arsyad setelah diam lama.
"Bentar jangan ngomong sama mama dulu, mama mau telpon sama papa dulu," tolak mama sembari menelpon sang suami tapi belum diangkat.
Setelah 10 menit, barulah suami tercinta mengangkat telponnya. "Iya, Ma?" jawab papa sepertinya sibuk, karena beberapa suara ada di belakang sang suami.
"Papa kalau Arsyad menikah nanti malam gimana?"
"Astaghfirullah, kok bisa?" jawab Papa kaget, untung saja beliau tidak punya penyakit jantung. Suara di belakang Pak Wira pun langsung berhenti seketika, mungkin mereka ikut fokus dengan kabar yang diterima bosnya. "Bentar, papa cari tempat yang aman. Papa mau briefing, makanya papa juga berangkat pagi tadi."
"Iya-iya, tau. Gimana Pa?"
"Ini menikah loh, Ma. Bukan pesan bakso, kenapa buru-buru. Bontot hamilin anak orang?"
"Eh papa omongannya, bontot aja perlu dipertanyakan kejantanannya malah menghamili anak orang. Enggak ada kayak gitu ya!" sentak mama tak peduli ekspresi Arsyad melotot, kaget dituduh menghamili anak orang dan itu lagi kejantanannya diragukan. Asssyeemmmp, untung yang bilang orang tuanya, kalau bukan udah di weuss sama Arsyad.
"Lah terus?"
"Ibunya Sha kayaknya mau meninggal deh, Pa."
"Astaghfirullah, mama!" baik Arsyad maupun sang papa beristighfar bareng. Sungguh mereka heran kenapa perempuan kesayangan keluarga begitu ajaib. Hufh...
"Lah mama benar kok. Orang ibu Sha bilang saya khawatir tidak bisa mendampingi Sha begitu, secara tersirat kan..."
"Udah-udah, papa paham. Tanyakan Arsyad siap gak, tapi ini masih siri atau bagaimana?"
"Ya gak pa-pa, siri nanti kan bisa diurus sih Pa. Papa setuju kan, sip. Duh mama punya mantu baru nih, oke...nanti papa ke rumah sakit ya habis maghrib aja, mama mau belanja buat seserahan dan mahar."
"Baik, Nyonya!" jawab Papa pasrah dengan tingkah sang istri. Memang dari menantu sebelumnya, sang mama lebih heboh dengan persiapan pernikahan bontot. Wajar, karena sejak dulu Arsyad tak pernah mengenalkan cewek kepada keluarga, dan baru tahu kalau cewek yang ditaksir adalah sekertarisnya. Sang mama pun sangat bersemangat untuk mewujudkan kisah cinta si bontot.
"Papa gimana?" tanya Arsyad setelah sang mama menutup panggilan telpon dengan papa.
__ADS_1
"Beres, yuk!"
"Ke mana?"
"Cari barang seserahan. Meski nanti nikahmu sementara secara siri, tapi tetap butuh seserahan sama buat mahar. Mama pilihkan semua ya, pasti oke."
Arsyad menghela nafas pelan, berurusan dengan sang mama tentu ia kalah telak. Jalan terbaik adalah menuruti kemauan sang ibu suri.
Berbicara pernikahan siri, Arsyad tak mau. Ia menyuruh anak buah di kantornya untuk memproses pernikahannya nanti secara resmi agama dan negara, menyebutkan alamat rumah sakit dan kamarnya. Tak lupa meminta berkas data diri Sha pada HRD kantor. Berapa pun biaya tak masalah, asalkan dia menikahi Sha dengan cara yang baik.
Ia pun mengikuti sang mama yang mencari barang seserahan, beruntung beliau masih ingat size baju dan sepatu Sha. Masuk outlet segera saja beliau memilih barang yang pantas sebagai seserahan, termasuk make up. Nyonya Wira meminta langsung dibungkus ala seserahan. Arsyad menggelengkan kepala melihat betapa cekatannya beliau soal belanja.
"Ma...gak usah banyak-banyak, ntar aku belikan sendiri aja. Masa' di rumah sakit bawaannya segini banyak sih, Ma," protes Arsyad.
"Eh...mama tahu lah, yang kita bawa nanti cuma perhiasan dan sebagai uang. Sementara barang-barang ini dikirim ke rumah Sha aja." Arsyad pun mengangguk, "Di antar besok ya, Mbak sekitr siang atau sore begitu!" pinta mama pada pramuniaganya.
"Sekarang kita ke toko perhiasan langganan mama, kamu tau gak ukuran cincinnya?" tanya mama sebelum sampai ke toko perhiasan. Arsyad mengedikkan bahu.
Di rumah sakit, Sha masih diam ketika sang ibu menghubungi ayahnya. Terpaksa Sha mengetikkan nomor laki-laki itu, ia juga tak berniat menyimpannya, malah sang ibu yang sudah menyimpan nomornya di ponsel Mbak Marni. Benar saja, di saat keadaan darurat seperti ini bisa diandalkan. Lama tak diangkat, Sha pun kesal.
"Gak diangkat, Bu."
"Hubungi lagi sampai bisa, atau kirim pesan dulu. Siapa tahu beliau memang tak mengangkat telpon nomor baru."
Sha sebal sebenarnya, tapi ia tetap melakukan apa yang diperintahkan sang ibu. Begitu patuhnya sebagai anak, ia tak akan membantah meski tak suka. Ya...Sha tak suka dengan keadaan seperti ini. Tiba-tiba diminta menikah, menghubungi pria yang ia benci, dan mendengar rintihan ibu yang susah bernafas meski sudah menggunakan alat bantu nafas.
"Halo!" sapa pria itu yang memang langsung menganggkat panggilan telpon setelah Sha mengirim chat, ini Rahmi.
"Halo....uhuk!" jawab Rahmi, setelah mendegar panggilannya diterima Sha segera memberikan ponsel pada ibu. Biarlah sang ibu bicara sendiri, Sha pun keluar kamar. Tak mau tahu apa yang dibicarakan kedua orang tuanya.
Merenung sendiri di kursi tunggu, Sha hanya diam. Beberapa kali menghela nafas berat, masih belum yakin dengan situasi ini. Keputusan berat yang akan menentukan masa depannya. Sungguh Sha ingin marah dengan keadaan, tapi ia tak sanggup.
"Sha!" panggil seseorang yang berdiri tegak di sampingnya, Sha pun menoleh. Air mata langsung menganak sungai. Ia memeluk sahabatnya, Mita.
__ADS_1
Tadi malam, Sha sempat posting infus sang ibu, Mita langsung sigap bertanya dan bersyukur ibu Sha dirawat di rumah sakit tempat Mita bekerja. Pagi ini setelah cek pasien sesi pertama, Mita menyempatkan diri menjenguk ibu sahabatnya.
"Eh ...kok nangis, tante Rahmi oke kan?"
Sha mengangguk, hanya saja tangisannya semakin kencang. Mita bingung. Namun hanya bisa menepuk punggung Sha pelan.
"Ibu minta gue buat nikah hari ini, Mit...hu...hu!" ucap Sha dalam isakan tangisnya.
"Hah? Menikah? Sama siapa?" tanya Mita kaget. "Jangan bilang Irsyad."
Sha langsung menguraikan pelukannya, "Enak aja, enggak lah."
"Trus?" Mita ikut duduk di samping Sha.
"Arsyad. Ibu sudah melamar Arsyad untukku tadi pagi."
Mita melongo. "Hah? Kok?"
"Gue gak tahu," ucapnya sembari menyeka air matanya.
"Kok mendadak? Lo hamil?" tanya Mita dengan wajah sok polos. Heran deh, kok bisa Mita jadi dokter juga. Ekspresi beg* nya kelihatan banget.
"Sembarangan."
"Lah terus?"
"Ibu khawatir gak bisa melihat aku menikah. Ibu merasa sakit banget, Mit. Kenapa sih ibu punya pikiran seperti itu!"
Mita menghela nafas pelan, ia tahu jalan pikiran sang ibu. Tadi malam Sha juga sempat menjelaskan kesehatan sang ibu pada Mita, jadi sedikit tahu Mita paham alasan permintaan nikah dadakan ini.
"Ini nikah loh, Mit. Bukan tahu bulat yang bisa digoreng dadakan," ucap Sha dengan tangisnya.
"Sueee lo, Shaaaaa!" Mita jengkel tapi kasihan, akhirnya menabok lengan Sha lalu memeluknya. Sangat prihatin dengan sahabatnya ini.
__ADS_1