JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
MENCARI INFO


__ADS_3

"Siapa?" untuk kesekian kalinya mama Arsyad bertanya siapa Sha. Pasti perempuan itu istimewa sampai dibahas laki-laki datar seperti mereka berdua.


"Bukan siapa-siapa ah, Ma!" tolak Arsyad. Ia memilih bungkam, belum saatnya mama Arsyad tahu. Apalagi beliau getol dengan Indah yang katanya mantu idaman. Belum lagi kalau mengetahui latar belakang keluarga Sha, khawatir ditolak. Meski sang mama belum tebtu merendahkan strata sosial seseorang, hanya saja Arsyad khawatir.


"Oke nanti mama akan cari tahu sendiri!" ancam beliau tegas. Meski tak mau mencampuri urusan percintaan sang anak, tapi namanya ibu tentu waspada akan pilihan Arsyad. Kalau bertemu lebih dulu, lalu sang mama merasa klik kan lebih legowo merestui ke jenjang selanjutnya.


"Lagi ngomongin apa sih?" tanya Pak Wira yang baru saja bergabung di meja makan untuk sarapan. Beliau hari ini tidak pergi ke kantor karena mau golf dengan teman lama, soal kantor biar dihandle Danu dan asistennya yang lain.


"Perempuan, Pa. Kayaknya pacar Arsyad," mama mulai membuka obrolan dengan pancingan kabar yang keliru.


"Bukan pacar, Arsyad gak bilang pacar ya!" elak Arsyad dengan nada mencibir.


"Suamiku tersayang, coba dong tanyakan siapa perempuan yang bernama Sha itu. Mama penasaran!" pinta Mama dengan bergelayut manja kepada sang suami. Sungguh Arsyad dibuat geli dengan tingkah pasangan ini, masih gak sadar kalau sudah menjadi kakek dan nenek dari kedua kakak Arsyad.


Pak Wira melirik Arsyad, namun Arsyad menggeleng kecil. Pak Wira tahu maksud sang putra. "Kenapa sih, Ma?" tanya Pak Wira lembut.


"Kan penasaran saja siapa perempuan yang dibahas Danu dan Arsyad."


"Artis kali," jawab sang papa asal. Ternyata pria tampan itu bisa bekerja sama dengan bungsunya, hingga membuat sang mama mencibir tak suka.


"Oke kalau kalian mau menyembunyikan, mama akan cari sendiri!"


"Cari di mana?" tanya Papa dan Arsyad penasaran. Perempuan satu di rumah ini sungguh rewel sekali. Keinginannya harus dipenuhi, kalau tidak bisa nekat dan bikin geleng kepala.


"Jangan sebut mama kalau gak bisa menemukan perempuan itu, udah ayo sarapan!" ujar beliau pintar sekali mengalihka pembicaraan. Arsyad hanya menghela nafas pendek, setidaknya jatah sarapan tidak dicecar siapa Sha.

__ADS_1


Nyonya Wira tinggal diam? Tentu tidak, beliau ke kantor Arsyad secara tiba-tiba dua hari kemudian. Semacam sidak begitu, beliau sudah memprediksi, Arsyad akan menutup semua akses di hari ia ketahuan membahas Sha. Ditunggu saja hingga Arsyad meyakini, oh sang mama tidak penasaran lagi. Alhasil, menjelang siang ini Nyonya Wira berpenampilan nyentrik, tidak menggunakan dress elegan layaknya berkunjung ke perusahaan sang suami. Tapi mengenakan celana jeans dan kemeja slim fit dipadu dengan ikat pinggang berlabel GG (GUCCI). Sangat berkelas dengan high heels hitam dan tas branded.


Resepsionis pun langsung mengenali beliau dan berniat mengantarkan ke ruangan Arsyad, namun ditolak. Tujuan datang ke sini bukan mencari Arsyad, tapi mau mencari info perempuan bernama Sha. Nyonya Wira yakin, Sha Sha itu bekerja di perusahaan konveksinya. Kenapa begitu yakin? Karena di mana lagi perempuan yang bisa dikenal Danu dan Arsyad kalau tidak di kantor ini.


"Mbak, mau tanya. Ruangannya Mbak Sha di mana?" tanya Mama Arsyad pada Lusi, salah satu anak magang bagian design ketika masuk lift karyawan.


"Ibu siapanya Mbak Lethisa?" tanya Lusi yang tidak tahu itu istri pemilik perusahaan.


Gak paham dengan Lethisa, Nyonya Wira hanya bilang mau buat janji dengan Arsyad, katanya harus melalui perempuan bernama Sha. Asal ceplos aja, eh ternyata Lusi paham.


"Lethisa itu memang dipanggil Sha ya? Soalnya saya dengarnya membuat janji harus melalui bu Sha gitu!"


"Iya, Bu. Mbak Lethisa itu dipanggil Sha, sekertaris Pak Arsyad memang."


Nyonya Wira hany menganggukkan kepala, kok tebakannya tembus ya, handal banget ini ma. "Mari, Bu saya tunjukkan!"


Lusi hanya beroh ria, karena ia pernah mendengar kabar bos sembelum Arsyad. Lusi pun mengangguk saja kalau Nyonya Wira tak mau diantat. Lusi keluar terlebih dulu dari lift, dan masuklah Anita, supervisor marketing. Dia kaget, karena tahu wanita yang ada di dalam lift adalah istri atasannya.


"Nyonya Wira?" tanya Anita memastikan, dan diangguki oleh perempuan anggun itu. "Nyonya mau menemui Pak Arsyad, mari saya antar," tawarnya ramah.


"Ouh tidak perlu, terimakasih. Saya hanya mau ketemu, Sha saja."


Amel yang masuk ke dalam grup Pecinta Arsyad sontak kaget, otaknya langsung mencari celah agar bisa meracuni pikiran Nyonya Wira agar tak merestui mereka.


"Ouh Lethisa," lirih Anita sembari mengangguk saja.

__ADS_1


"Kamu kenal Lethisa?" tanya Nyonya Wira, sebenarnya ia tak kenal perempuan ini, hanya saja tentang Sha, Nyonya Wira tak sabar untuk mengetahuinya.


"Kenal, Nyonya!" jawab Anita ramah. Begitu lift terbuka menampilkan lantai di mana Sha dan ruangan Arsyad serta Dany berada.


"Hem kita bisa ngobrol sebentar, sepertinya mereka sedang ada pertemuan. Kamu gak ada pekerjaan?" tanya Wira yang menengok ruangan sang anak yang tampak sepi itu.


"Masih ada pekerjaan, Nyonya. Namun bisa saya handle setelah makan siang nanti. Ada yang bisa bantu?" tanya Anita pura-pura ramah, padahal dalam hati sudah jingkrang-jingkrang karena ada kesempatan untuk membuka aib Sha pada orang yang tepat. Ibu Pak Arsyad harus tahu bahwa Sha bukan perempuan yang baik untuk Pak Arsyad.


Akhirnya mereka menuju kantin kantor, masih sepi karena masih belum waktunya istirahat. "Sha itu siapa?" tanya Nyonya Wira membuka obrolan, sedikit mengintimidasi.


Anita berdehem terlebih dulu. "Sha itu nama panggilan untuk Lethisa. Dia adalah sekertaris Pak Arsyad. Anaknya cantik dan ramah, hanya saja...." sengaja Anita memancing penasaran Nyonya Wira. Ia berperan apik sebagai antagonis seperti halnya di sinetron.


"Hanya apa?"


" Agak kurang benar!" lirih Anita.


"Maksudnya?"


"Jadi begini, Nyonya. Dengar-dengar Sha ini teman SMA Pak Arsyad, dan sangat dekat sama Pak Arsyad. Hampir tiap hari membawakan sarapan, hingga Pak Arsyad kayaknya ketergantungan begitu. Dan dia juga dekat sama Pak Danu, serta Pak Arman. Ketiga pria didekati oleh Sha, karena dia cantik wajar ketiga pria itu menyukai Sha."


Nyonya Wira menganggukkan kepala, cocok juga karena Danu dan Arsyad sempat membicarakannya. "Semenjak jadi sekertaris Pak Arsyad dia sombong, dan bersikap sok banget, Nyonya. Banyak karyawan di sini yang tak suka, tapi mau bagaimana lagi dia adalah teman SMA Pak Arsyad yang tentu aja lebih dipercaya beliau."


"Bukannya anak saya dekat dengan perempuan berhijab?" karena setahunya Indah selalu laporan kalau hampir tiap hari di kantor Arsyad.


"Wah...saya kurang tahu, Nyonya. Karena saya hanya tahu tentang Sha, dan itu sudah menjadi perbincangan karyawan di sini, kalau Sha memang perempuan gak benar," jelas Anita hiperbolis.

__ADS_1


"Begitu ya?" Nyonya Wira tak yakin, tapi setidaknya ia punya pertimbangan kalau Arsyad mau bercerita tentang Sha.


__ADS_2