
Sha tidak bisa jawab, ia hanya tersenyum canggung. Untung saja Mama Arsyad tidak memperpanjang. Beliau langsung masuk mobilnya dan melambaikan tangan pada Sha.
"Hufh...Arsyadddd!" kesalnya sampai gigi pun bergelutuk. Main ngomong calon istri segala.
"Baru PDKT dengan calon ibu mertua? Emang disetujui?" seloroh Anita yang kebetulan juga akan masuk lift.
"Kamu ngomong sama aku?" tanya Sha tak merasa dirinya diajak ngomong. Anita hanya melengos sembari bersedekap.
"Jadi cewek jangan kemaruk (serakah) dong, tiga cowok diembat semua," protesnya dengan nada menyebalkan. Sha bersikap datar saja tak mau menimpali. Percuma. Menjelaskan suatu kebenaran pada orang sudah membenci kita itu tak ada gunanya. Rugi suara.
"Lagian kamu jangan sok kecantikan deh, gak pantes jadi pendamping petinggi perusahaan. Ingat kamu tuh hanya sekertaris biasa!" semakin menjadi saja Anita memojokkan Sha. Kupingnya sudah panas sebenarnya, boleh kan ya angkuh sejenak saja.
"Dan sayangnya Pak Arsyad sendiri yang mengakui saya sebagai calon istrinya pada siapa? coba dong kamu tebak?" sengaja Sha memancing emosi Anita, nadanya bicaranya sih santai tapi menusuk.
Anita diam. "Nyonya Wira."
Sha tersenyum puas mendapati Anita yang semakin cemberut dan giginya bergemlutuk. Puas, sekali-kali menampar orang julid tidak salah. Mereka butuh kenyataan yang membuka pikiran mereka, agar bisa sadar diri.
"Lantai kamu, yakin gak mau keluar!" ucap Sha membuat Anita semakin kesal, 1-0 buat Sha, terbukti dia jengkel hingga menghentakkan heelsnya sebelum keluar lift. Begitu keluar lift, Anita menahan pintu lift sebentar, "Dan aku pastikan Pak Arsyad menyesal memilih kamu," ancam Anita serius. Padahal dia tak punya senjata untuh menjatuhkan Sha karena gadis itu memang baik, dan tak berniat membuat skandal untuk naik jabatan.
"Aku tunggu," jawab Sha sembari tersenyum sinis, menjawab ancaman tersebut lalu menekan tombol lift.
Sha sudah bertekad akan mengomeli Arsyad. Enak saja main mengaku calon istri pada Nyonya Wira, belum lagi sindiran anak kantor bikin telinga risih.
"Masuk!" ujar Arsyad dari dalam.
Sha berjalan cepat mendekat meja kerja Arsyad, tampak bosnya itu sedang mengaudit laporan keuangan dari beberapa proyek. Semakin salut karena audit keuangannya sekarang berlapis melibatkan Danu dan Arsyad.
"Iya, Sha?" tanya Arsyad yang mendongakkan kepala karena sekertarisnya itu tak kunjung bersuara.
"Aku ngomong bukan dengan status bos dan sekertaris!" ketus Sha dengan wajah juteknya.
Arsyad tersenyum melihat ekspresi gadis cantik tapi judes itu. "Mau ngomong apa? 10 menit cukup? Kalau enggak tunggu pulang nanti deh, sekalian makan malam gimana?"
__ADS_1
Seandainya saja bukan bos sudah ditimpuk tuh kepala. Sha pun mengatur nafas terlebih dulu lalu duduk dengan kasar.
"Syad, lo ngomong apa sih sama nyokap lo soal sarapan?" tanya Sha sudah berstatus teman SMA. Sapaannya pun sudah berganti menjadi lo, tak peduli kalau nanti ada yang mendengar.
"Gak ngomong apa-apa, emang kenapa?"
"Ngeselin lo yah, tadi gue anter nyokap lo sampai loby, cerita kalau lo sarapan dengan calon istri. Kira-kira dong kalau ngomong."
"Lah kan gue cuma bilang calon istri, Tun. Bukan kamu!" Sha melongo, bisa banget Arsyad bilang seperti itu, padahal jelas-jelas selama ini Sha yang melayani sarapannya.
"Ya tapi kan...."
"Lagian kenapa sih, sewot amat. Bukannya diamini gitu!"
"Idih....udah punya cewek juga ngapain diamini. Yang ada nanti aku amin, lo milik perempuan lain..Udah ah, gak usah ngomong aneh-aneh sama nyokap lo. Bikin fitnah."
Arsyad tersenyum tipis, sangat menikmati kejutekan Sha, dia pun menahan lengan Sha ketik perempuan itu hendak beranjak. "Gue tuh pengen hubungan kita kayak gini, gak ada status bos dan sekertaris. Gue pengen kerja nyaman dengan teman sendiri, hanya saat kita berdua aja."
Sha menatap lengannya yang masih dipegang Arsyad, lalu menatap bos gantengnya itu. "Di saat gue sangat membatasi interaksi kita aja nyinyiran di mana-mana, apalagi kalau gue dekat banget sama lo, fitnah semakin kejam ke gue!"
"Gue tanya sekali lagi sama lo, gimana hati kamu tentangku?" tanya Arsyad menatap bola mata Sha. Sungguh Sha mengakui salah tingkah dengan tatapan itu. "Jawab sejujurnya Sha!"
"Gue tetap menganggap lo teman, Syad. Gak ada dalam kamus gue menjalin hubungan dengan anak orang kaya lagi, sakit hati gue sama ayah dan Irsyad sangat membekas di hati. Rasa tidak percaya pada laki-laki pun semakin menguasai hati gue, termasuk lo yah gue tahu sendiri saat SMA lo baik sama gue.
"Wajar sih, lo punya pemikiran seperti itu. Hanya saja, tidak semua laki-laki seperti mereka, Sha."
"Benar. Dan mungkin lo juga gak seperti mereka, hanya saja untuk sekarang..." Sha menjeda ucapannya sembari menggeleng, "Enggak. Lagi gak ingin menjalin hubungan dengan siapa pun. Gue hanya ingin cari uang banyak, menata hidup gue dulu biar gak diremehin orang, dan membahagiakan ibu gue. Just it."
Arsyad mengangguk, gadisnya memang punya prinsip. Arsyad juga tak mau memaksa, hati Sha masih diliputi kekecewaan oleh kedua laki-laki. Arsyad juga tak mau menambah kekecewaan Sha di kemudian hari, memang lebih baik luka Sha disembuhkan dulu entah sampai kapan.
"Boleh kah gue menunggu lo?"
Sha tertawa, "Yakin menunggu gue, sedangkan ada perempuan cantik yang sudah semakin dekat sama lo!"
__ADS_1
"Indah maksud lo?"
Sha mengangguk.
"Emang apa yang lo pikirkan?"
"Awalnya sih kalian profesional, hanya saja melihat kedekatan kalian akhir-akhir ini gue mikir lain. Cinlok bisa jadi."
Arsyad menganggukkan kepala, "Gue sih bisa ..bahkan sangat bisa bersikap profesional dengan Indah. Hanya saja, dia sangat agresif sampai melibatkan kedua orang tuanya dan orang tua gue juga. Gue udah nolak, dan menganggap rekan kerja saja, tapi karena..." Arsyad bimbang untuk melanjutkan ucapannya, ia hanya bisa menatap Sha sekilas.
"Karena?" tanya Sha memastikan.
"Karena ingin melihat lo cemburu dengan kedekatan kita!"
"Hasilnya?" kembali Sha memastikan.
"Mengecewakan. Lo semakin gak peduli dengan kedekatan kita, bahkan lo selalu memberikan akses dia masuk ke ruangan ini. Asal lo tau lama-lama gue risih dengan kedatangannya."
Sha tertawa melihat ekspresi kesal Arsyad, sudah diprediksi sih kalau teman SMA nya gak suka dengan gelagat Indah. "Ya tapi lo gak nolak juga!"
"Ya elah, gue gak setega itu!"
"Thats the point."
"Maksudnya?" tanya Arsyad tak tahu.
"Sejak lo datang, lo selalu menunjukkan perasaan suka pada gue. Meski awalnya menjengkelkan tapi gue memaklumi. Karena hal wajar juga, kita teman SMA dan kita pernah dekat, dan karena itu perasaan lo muncul. Bahkan dalam hati gue, kalau seandainya hati gue udah sembuh, gak trauma lagi, mungkin lo akan gue terima. Tapi..sejak Indah datang, interaksi lo welcome banget sama dia dan lo gak pernah menolak kedekatannya membuat gue bilang cowok sama aja, akan memberikan kesempatan pada perempuan lain meski bilangnya profesional. Gue pun mengubur rencana hati gue. Daripada sakit kesekian kalinya."
"Sha..!" Arsyad terkejut dengan pengakuan Sha. Tak mengira, hati gadisnya punya niatan seperti itu. Benar prediksi Danu, dan Arsyad semakin merasa bodoh. "Sha....please!"
"Jangan pernah berubah karena pengakuan gue, Syad. Karena percuma, seandainya kita jodoh pasti dengan jalan apapun kita akan menikah!"
"Sha..."
__ADS_1
"Back to work, Syad!" ucap Sha menganggukkan kepala, tanda permisi untuk keluar ruangan.