
Arsyad sudah tampan dengan kemeja maroon, berjalan beriringan dengan sang mama, tak lupa bontotan untuk Sha. Sang mama semangat sekali, hingga membuat Arsyad beberapa kali memberikan ultimatum Mama nanti di sana jangan ngomong aneh. Jangan bahas video. Jangan bahas hubungan Arsyad dan Sha.
Tok
Tok
Tok
Arsyad mengetuk pintu kamar rawat inap ibu Sha, tak menunggu lama Mbak Marni membukakan pintu. "Mari silahkan masuk," ucap Marni sopan. Ia paham siapa yang datang. Untung saja Sha memilih VIP jadi waktu kunjung bebas.
"Assalamualaikum," sapa Arsyad begitu masuk kamar. Dan Sha yang sedang membantu Ibu duduk menoleh sebentar dan tersenyum. "Silahkan duduk, Pak Arsyad!" ucap Sha ramah. Ibu sudah sadar saat menjelang shubuh, meski tampak lemas beliau ingin duduk saja, karena kalau tidur terasa sesak.
Sha masih mengenakan kaos lengan pendek dan celana kerja kemarin, rambutnya dikuncir asal. Sungguh penampilannya masih acak-acakan. Tak menyangka kalau jam setengah 7 Arsyad dan sang mama sudah datang menjenguk.
"Cantik banget, natural!" bisik mama melihat penampilan Sha. Arsyad menoleh dan mengangguk, kalau ditanggapi bisa panjang nanti urusannya.
"Maaf, Nyonya masih berantakan! Mari silahkan duduk," ucap Sha yang mengambil tas baju ganti yang baru saja dibawa Mbak Marni, giliran Mbak Marni yang mengurus ibu. Sha merapikan rambutnya terlebih dulu, setidaknya rapian dikit lah.
"Sakit apa, Sha?" tanya mama pada Sha yang menemani duduk di samping sofa. Arsyad keluar kamar karena menelpon seseorang.
"Sakit jantung, Nyonya!"
"Eh kok panggil Nyonya lagi sih, Mama loh Sha."
Sha mengangguk canggung lalu mengangguk pelan. "Udah lama sakit jantungnya?"
Sha menggeleng, "Gak pernah punya riwayat sakit jantung dan tekanan darah tinggi, Ma sebelumnya. Mungkin ibu gak pernah dirasa, jadi pas kondisi gak fit langsung drop begini."
Mama Arsyad mengangguk, mengelus lengan Sha, "Iya, kamu yang sabar. Jaga kesehatan, meski mama tahu kamu capek tapi jangan lupa makan. Ini mama bawakan makanan buat kamu dan Mbak, kalau ibu belum boleh makan luar ya. Harus makan jatah rumah sakit, biar cepat sembuh!" ucap mama Arsyad yang tak canggung meski ini adalah pertemuan pertama dengan ibu Sha.
Bu Rahmi mengangguk, sembari mengucapkan terimakasih dengan lirih. Mama Arsyad pun mendekati bankar ibu, Sha pun membiarkan dan berniat mandi saja, tak enak kalau penampilannya berantakan seperti itu.
"Ibu yang sehat ya," ucap mama Arsyad sembari memegang tangan Bu Rahmi.
"Terimakasih, Nyonya."
__ADS_1
"Hem....Panggil saja Jeng Wira, saya meminta Sha untuk memanggil mama loh, sudah saya anggap calon mantu. Boleh ya?" pinta mama Arsyad dengan santainya, padahal Arsyad sudah mengultimatum soal itu.
"Boleh, saya juga senang dengan Nak Arsyad, begitu perhatian sama Sha."
"Harus begitu, harus sayang. Sha itu cinta pertamanya Arsyad, dan semoga juga jodoh ya, Bu!"
"Aamiin."
"Jeng Wira,..." panggil Ibu dengan nafas sedikit tersengal. "Bolehkah saya meminta restu?" pinta ibu dengan menahan sesak di dada.
"Restu apa Ibu?"
"Izinkan Sha menjadi menantu Jeng Wira. Keadaan saya seperti ini, saya khawatir tidak bisa menjaga Sha lebih lama."
"Ibu kok bilang begitu, ibu pasti sembuh. Yakin, ibu sembuh."
Bu Rahmi mengangguk, doa baik harus diaminkan. "InsyaAllah setuju, saya sangat menyukai Sha. Kalau memang ibu berniat seperti itu, lebih cepat lebih baik, saya ikut saja."
"Nanti malam saja ya Jeng...uhuk..uhuk," pinta Bu Rahmi, mama Arsyad kaget tapi genggaman tangan beliau membuat Mama Arsyad mengangguk setuju.
Sha pun keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang lebih segar, mama Arsyad hanya menatap Sha dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Begitupun dengan Arsyad yang mendengar semua permintaan ibu Sha, dia diam menunggu keputusan Sha.
Begitu mereka keluar, ibu meminta Sha mendekat. "Sini!" pinta beliau lemah. Sha mengangguk, menggenggam tangan beliau dengan menatap penuh iba. Wajah cantik ibu tak telihat jelas, beliau tampak pucat dan terlihat sangat tua.
"Ibu butuh apa?" tanya Sha sembari menatap ibu intens.
"Sha, kamu tahu gak ibu sayang sama kamu!" Sha mengangguk.
"Kamu juga tahu kan kalau ibu sudah berusaha untuk membahagiakan kamu?" kembali Sha mengangguk, masih belum bisa menebak arah pembicaraan sang ibu. Sedangkan Mbak Marni duduk di sofa sudah beberapa kali mengusap air mata.
"Tapi kamu juga sadarkan kalau ibu tidak bisa selamanya di samping Sha?"
Deg
Sha sontak terpaku, kenapa ibu bilang seperti ini. "Bu..."
__ADS_1
"Dengarkan Ibu, Sha. Rasanya dada ibu sakit sekali, buat nafas saja rasanya berat. Ibu khawatir tidak bisa mendampingi Sha menikah."
"Bu...ibu pasti sembuh, Sha akan merawat ibu," air mata Sha sudah tak bisa dibendung lagi. Pikiran negatif mulai berkeliaran. Digenggamnya tangan ibu, sembari menyakinkan diri bahwa ibu akan sehat.
"Ibu gak kuat," Bu Rahmi sepertinya putus asa akan kesehatannya. "Di sini sakit," lanjut beliau.
"Aku panggilkan dokter ya, Bu!" ucap Sha, namun ibu menggeleng.
"Menikah. Ibu mohon menikahlah."
Sha terdiam. Menikah?
"Menikah?"
"Dengan Arsyad malam ini. Ibu sudah melamar Arsyad melalui mamanya."
"Bu..."
"Kondisi ibu sudah begini, tolong mau ya. Ibu ingin melihat kamu menikah."
"Menikah? Dengan siapa, Bu? Kita gak usah bahas nikah dulu ya, fokus pada kesehatan ibu. Ibu terlalu banyak pikiran," pinta Sha yang tak mau membahas pernikahan yang dalam angan Sha aja belum terpikir dalam waktu dekat.
"Percayalah, Nak. Ibu sedang tidak baik, kalaupun ibu dipanggil Allah biar ibu tenang. Ibu yakin Arsyad bisa menjaga kamu."
"Ibu!" Sha langsung memeluk ibu, ia tak mau berpisah dengan wanita yang sangat ia sayangi. "Ibu sehat, pasti sehat."
"Mau ya?"
"Bu, Sha masih banyak pertimbangan untuk menikah, Bu. Arsyad memang baik, tapi Sha masih takut ditinggalkan oleh anak orang kaya."
Ibu menggeleng, menepuk punggung tangan Sha. "Percayalah, restu ibu untuk kalian berdua. Menikahlah nanti malam selepas maghrib. Hubungi ayahmu untuk menjadi wali, dan Mbak Marni..."
"Iya, Bu!"
"Tolong hubungi Pak RT dan Pak Haji Salim, kasih tahu kalau Sha menikah malam ini di rumah sakit," ucap beliau dengan nafas tersengal dalam menyelesaikan kalimat. Sha hanya diam. Masih menatap ibu yang memang terlihat kesusahan dalam bernafas.
__ADS_1
"Hubungi ayahmu ya, Nak!"
Sha menggeleng dengan air mata yang berderai, dipeluknya sang ibu hingga sesenggukannya terdengar pilu. Mbak Marni menghubungi Pak RT dan Pak Haji Salim dengan kalimat terbata, hingga beberapa kali mereka bertanya kabar Bu Rahmi.