JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
BERBICARA


__ADS_3

Sha masih termenung, menatap gundukan tanah merah yang masih basah. Arsyad sudah mengajaknya pulang, gak baik juga terlalu meratapi kepergian itu. Membesarkan hatinya saja bahwa semua makhluk akan kembali pada Nya, dan akhirnya Sha baru mau beranjak.


Saat tangan digenggam Arsyad, keduanya menoleh. Mendapati pria tampan yang memakai kaca mata hitam, Sha sempat melihatnya namun pura-pura tak kenal saja.


"Lethisa," panggil pria itu saat Arsyad dan Sha berjalan di depannya. Arsyad berhenti sejenak dan mendapati sang ayah mertua datang di pemakaman itu. Entah siapa yang memberi kabar yang jelas beliau tampak sedih juga.


"Ayo pulang," jawab Sha pelan. Ia mau menutup masa lalu. Secara tidak langsung karena kehadiran pria ini ibunya sakit. Karena pria ini ibu dituduh sebagai pelakor. Sudah cukup cerita pria ini dalam hidup Sha, mulai detik ini ia ingin melepaskan semua. Tidak bisa memaafkan lebih baik melupakan saja.


Arsyad diam, tak kunjung berjalan juga. Mau bagaimana pun itu adalah ayah mertuanya, tak sopan bila pergi begitu saja. "Beliau ingin bicara sama kamu, Sayang!" bisik Arsyad, ia mengizinkan sang istri bila mau berbicara dengan sang ayah.


Sha menatap pria itu, "Apa Tuan mau membicarakan sesuatu dengan saya?" masih kaku dan sepertinya memberikan tembok tinggi untuk hubungan ayah dan anak ini.


Beliau hanya mengangguk saja, kesempatan untuk berbicara dengan sang putri tentu tidak akan dilewatkan.


Ketiganya menuju rumah duka, lebih baik seperti itu karena sebenarnya Sha juga lelah, capek dan kepalanya pusing karena kebanyakan menangis. Para pelayat masih banyak yang datang, mereka berasal dari ibu-ibu pengajian. Beruntung mama mertua dan Mbak Marni yang menyambut mereka.


Sha, Arsyad dan sang ayah memilih duduk berhadapan di kursi warung saja. Meski bisik-bisik menanyakan siapa pria paruh baya yang sedang bersama Sha.


"Jadi apa yang mau Anda bicarakan?" tanya Sha tegas dan sedikit ketus. Arsyad tak menyangka kalau Sha punya sifat keras kepala sedemikian rupa, hingga tak sedikit pun hatinya tersentuh dengan kehadiran sang ayah, beliau juga yang menikahkan Sha.


Arsyad juga tak bisa menyalahkan, mungkin sikap Sha ini karena dia merasakan sakit hati luar biasa. Hati manusia siapa yang tahu.

__ADS_1


"Maaf..maaf ...maaf telah melukai kalian berdua. Sungguh aku sangat mencintai ibumu," luluh sudah Tuan Arya di depan Sha. Air matanya turun karena sebuah penyesalan. Menelantarkan anak istrinya begitu saja, dalam kondisi ini tetap saja Arya yang salah. Andai dia bisa bicara dengan baik pada kedua orang tuanya dulu, tentu Sha tidak terluka seperti saat ini.


Bahkan ia baru merasakan manisnya pernikahan malah ditinggal sang ibu pergi selama-lamanya. Sebagai seorang manusia, Sha lelah. Lelah hidup menderita, hatinya juga ingin bahagia. Saat kecil dulu tak punya ayah dan saat sudah menjadi istri malah tak punya ibu. Bisa bahagia dari mana?


"Cerita itu hanya masa lalu, tak perlu terlalu dalam Anda sesali. Karena sejatinya kami pun ingin hidup bahagia tanpa melihat masa lalu." Secara tidak langsung Sha ingin mengatakan bahwa ia sudah melupakan sosok ayah.


"Apa kamu sudah memaafkan Ayah?"


Sha menatap pria itu sekilas, lalu tersenyum sinis. Bahkan Arsyad saja takut dengan ekspresi Sha. Tak menyangka teman halalnya itu punya sisi sadis juga. "Anda tahu, dalam hidupku hanya memiliki ibu dan suami, tidak dengan ayah."


"Lethisa," lirih sang Ayah menahan pilu, tidak dianggap sebagai ayah oleh darah dagingnya sendiri.


Beliau diam dengan mengeratkan kepalan tangan. "Anda tahu, sejak aku TK aku dijemput oleh ibuku dengan sepeda, beliau mengayuh lalu mengajakku berkeliling mencari rumah siapapun yang butuh jasanya. Aku sakit beliau begadang bahkan menggendongku sembari setrika baju. Anda tahu betapa kurangnya hidup kami saat itu, aku tak punya botol minum. Beliau membelikan aku air mineral gelas lalu menyobek tutupnya, dikasih gula, lalu ditutup sama selotip bening. Aku tak malu, di usia itu aku sudah sangat berterima kasih pada ibu karena beliau aku bisa minum saat gerak jalan. Dan di mana ayahku?"


Pria itu sesenggukkan, Arsyad pun menitikan air mata mendengar cerita langsung Sha padahal ia pernah menonton konten itu. "Bayangkan saja teman-temanku membawa botol warna warni, aku hanya punya gelas berselotip. Sejak saat itu aku berjanji saat aku besar aku akan membahagiakan ibu. Hidup kami cuma berdua, bahagia kami cuma berdua, dan di saat beliau akan meninggalkanku beliau tak menyuruhku menemui Anda, beliau menyuruhku menikah. Apakah Anda tahu kenapa?" tanya Sha dengan ucapan tenang, meski air mata masih menetes.


"Karena beliau tahu Anda tidak sanggup membahagiakan saya, Anda tidak mampu berdiri berjuang membela saya. Maka ibu pilihkan suami untuk saya. Jadi....selama perjalanan hidup yang aku ceritakan tadi aku tidak butuh ayah."


Arsyad menggenggam tangan sang istri, karena intonasi Sha sudah mulai meninggi. Arsyad tahu sakitnya Sha, tapi Arsyad tak mau Sha menjadi anak durhaka. "Jadi saya mohon, sekali saja. Tolong jangan hadir dalam hidup saya. Saya ingin bahagia dengan suami saya tanpa ada cerita masa lalu. Tolong.." ucap Sha dengan memelas. Tuan Arya diam saja, ia pun sesenggukan.


Ketiganya terdiam, Arsyad hanya ingin menemani Sha saja tak berniat ikut campur meski dirinya berhak. Ia sedang menunggu Tuan Arya berbicara tentang harta, karena ia sudah dititipi oleh ibu mertua untuk harta Sha dari sang ayah.

__ADS_1


"Ayah memang salah, ayah memang memberi luka pada kalian. Ayah janji tidak akan muncul dihadapan kamu lagi, tapi ayah mohon izinkan ayah menjamin kehidupan kamu nanti."


Sha menggeleng, "Terimakasih. Saya bisa bekerja, ibu sudah membekali saya ilmu, insya Allah saya bisa hidup dengan ilmu itu."


Tuan Arya tak bisa berkutik, sang anak sudah menolak dirinya sebagai ayah sekaligus hartanya. Sungguh ia kagum dengan didikan Iswa, memiliki putri yang mandiri, cerdas, dan tak gila harta. Tuan Arya hanya bisa mengangguk pasrah. ."Kalau sudah tidak ada yang dibicarakan, saya mau istirahat dulu," ucap Sha kemudian. Ia melirik sang suami, berniat mengajaknya masuk ke rumah.


"Masuklah dulu, aku ingin bicara dengan ayah sebagai anak menantunya!" pinta Arsyad, Sha pun mengangguk. Berhubungan dengan sang ayah, Sha tidak tertarik. Tanpa pamit atau bersalaman, Sha langsung masuk rumah begitu saja.


"Maaf, Yah. Saya belum bisa mendidik Sha untuk bersikap baik kepada ayah," ucap Arsyad yang tak enak juga membiarkan Sha bersikap seperti itu pada ayahnya.


Tuan Arya menggeleng. "Tak apa, Nak Arsyad. Sha sudah terlalu lama menderita karena ketidak tegasan saya. Saya memakluminya."


"Kemarin ibu menitipkan sesuatu," pancing Arsyad, dan benar saja Tuan Arya mendongak menatap sang menantu. "Beliau menyerahkan map yang berisi aset untuk Sha. Beliau meminta saya menjaganya karena kalau diberi pada Sha ia akan menolaknya. Untuk hal itu apa Anda tidak keberatan bila saya yang memegangnya, karena mau bagaimana pun saya hanya anak mantu."


Tuan Arya menggeleng, "Tak apa, bawa saja. Memang saya memberikan itu untuk Sha. Kalau dia tidak mau menerimanya, berikanlah pada cucuku nanti. Biarkan kerja kerasku juga bisa dinikmati Sha sebagai ganti masa sulitnya dulu."


Arsyad mengangguk, "Baik. Akan saya jaga amanah ibu dan ayah."


Tuan Arya mengangguk, "Tolong jaga anak saya ya, Nak Arsyad. Bahagiakan dia, lindungi dia!"


Arsyad mengangguk dengan yakin, "Pasti!" jawab Arsyad mantap.

__ADS_1


__ADS_2