
Gue gak membela Irsyad atau berpihak padanya Sha. Gue kasihan sama istrinya. Memang Irsyad berkali-kali memohon sama gue buat ajak lo ketemuan tapi gue gak pernah mengiyakan. Dia pun menjelaskan kronologi kejadian itu hingga detail dan gue anggap angin lalu. Sekali pengkhianatan gue yakin lo gak akan mau menanggapi. Tapi istrinya nyamperin gue, awalnya gur gak respect. Tapi dia cerita kalau selalu dicuekin Irsyad bahkan saat bercinta selalu menyebut nama lo. Gila gak. Tekanan batin tuh bini. Gue harap lo mau bertemu Irsyad kasih pengertian kalau lo udah gak berharap sama dia, hubungan 7 tahun biar menjadi kenangan tanpa mengharap masa depan dan minta sama dia buat fokus sama istrinya.
Ucapan Mita terngiang terus dalam benak Sha. Hati kecilnya ingin egois untuk tidak ikut campur, itu urusan rumah tangga sang mantan. Tidak seharusnya Sha hadir di tengah-tengah mereka.
"Mau aku temani?" tanya Arsyad di tengah-tengah pemeriksaan anggaran dana dari Indah. Sha diminta menganalisis rancangan anggaran dana yang diajukan Indah dalam proposal, Sha siberika kebebasan untuk mencoret anggaran yang dianggap berlebihan.
"Ke mana?" tanya Sha yang masih fokus dengan anggaran itu.
"Bertemu Irsyad!"
Sha meletakkan penanya, menatap Arsyad sebentar lalu menyenderkan tubuhnya di kursi. Menghela nafas berat, bingung. Sha menggeleng.
"Aku gak mau berurusan lagi dengan Irsyad, bagiku kenangan sama dia sudah tutup buku. Tak perlu dibaca ulang."
"Yakin? Perasaan kamu memang sudah 100% terbebas dari dia?" Arsyad penasaran karena Sha sangat tidak mau membuka diri untuk memberi kesempatan padanya.
"100% sih belum, hanya saja untuk kembali atau berbaikan say no lah. Buat apa juga, kita sudah putus, tak perlu hidup dengan masa lalu."
"Benar apa kata Mita sih, kamu harus menunjukkan kalau kamu sudah move on dengan mencari pengganti Irsyad,"
"Dan memilih kamu sebagai penggantinya begitu. Dih....mengharap. Lagian nih Pak, apa Bapak siap kalau setiap aku memanggil Syad, yakin itu panggilan untuk bapak kalau ternyata untuk mantan saya. Nyesek kali."
"Gak usah bahas, bikin badmood!" mendadak Arsyad cemberut. Hal itu bisa jadi, alam bawah sadar Sha mungkin masih penuh dengan Irsyad, membayangkan saja rasanya horror.
"Makanya, jangan memaksa. Biarlah kita berhubungan layaknya bos dan sekertaris, tidak lebih dan kalau pun di luar tetap sebagai teman lama. Just it."
__ADS_1
"Kerja, Sha!" tegur Arsyad yang tak mau mendengar saran Sha soal perasaan. Baginya Sha miliknya dan orang lain tak boleh memilihnya sebagai masa depan.
"Gak ah, udah gak mood koreksi anggaran lagi. Selagi Pak Arsyad membuka topik perasaan akan aku jelaskan secara detail. Aku masih trauma menjalin hubungan, pikiranku terlalu buruk pada laki-laki tampan nan kaya. Kalau pun aku nanti menikah tentu aku akan memilih pasangan yang sepadan, untuk mengurangi gap yang terlalu dalam, apalagi masalah ekonomi. Dan untuk Irsyad, aku akan move on dengan caraku, aku sudah tidak mengharap bertemu atau bahkan komunikasi dengannya."
"Oke!" jawab Arsyad datar. Rasanya jengkel kalau terus-terusan ditolak Sha. Padahal ia sudah menahan perasaan ini sejak lama dan tetap saja tak terbalas. Sakit banget.
"Oke, lanjut kerja. Bagian ini rasanya tak terlalu besar, apalagi bisa dikerjakan oleh tim desain kita..." bla...bla...Sha kembali profesional. Sepertinya Arsyad juga sudah bosan merayu Sha agar menerima perasaannya. Menyerah? Tentu tidak, ia sudah dinasehati Danu. Gadis seperti Sha jangan terlalu dipaksa, ia adalah gadis mandiri yang cuek dan tidak mau bergantung dengan orang lain. Lihat saja saat Irsyad bilang akan menikah, dia tidak menuntut penjelasan. Dia tidak marah, dia tidak menampar ketika bertemu Farah. Bagi Sha, kalau tidak untuk dirinya gak usah dipaksa dan gak usah terlalu obsesi untuk mendapatkannya. Stay cool man....Sha akan melakukan hal yang ada di depan mata tak mau memikirkan masa depan yang berlebihan, takutnya terlalu berharap jatuhnya menyesal.
Skenario yang Arsyad susun dia akan bersikap cuek, terlihat tidak memperjuangkan perasaannya lagi, meski tiap hari ia akan berdekatan dengan Sha, setiap ada kesempatan Sha akan diajak.
"Bu Indah sudah naik lift, Pak!" ucap Sha mengingatkan, kali ini meeting dengan Indah dilakukan di kantor saja sesuai permintaan Indah, karena ia ingin melihat lingkungan kantor Arsyad.
"Kamu ikut Sha, kamu jelaskan draft yang kamu analis kemarin!"
"Tapi bu Indah ingin diskusi berdua dengan Pak Arsyad, sesuai permintaan beliau sejak kemarin," Sha tak mau melanggar kode etik klien. Karena sepertinya Indah ingin berduaan dengan Arsyad. Beberapa kali chat pada Sha kalau ada meeting sebaiknya Sha tak ikut serta.
Sha pun menunjukkan ponselnya, menampakkan room chat Indah, beberapa chat memang tertulis
Mbak Sha, nanti kalau meeting dengan Mas Arsyad Mbak Sha bisa tinggalkan kami berdua?
Dan Sha pun menjawab, iya. Ia pikir, mungkin ada pembahasan khusus, hingga sekertaris tidak diperkenankan terlibat.
"Yakin kamu setuju?" tanya Arsyad memastikan.
"Iya, memang kenapa ya Pak?" Sha pun tak memikirkan apapun, ia akan menuruti keinginan klien bila Arsyad pun setuju. "Bapak gak setuju?"
__ADS_1
"Gak masalah, biar pembahasan projek lebih detail lagi," ucap Arsyad, ia ingin melihat ekspresi Sha ketika dirinya setuju berduaan dengan Indah. Dan lagi-lagi, Arsyad kecewa. Tak ada raut menyesal atau cemburu pada wajah cantik Sha, gadis itu hanya tersenyum mengangguk. Ia pun membawa draft kerja sama ke ruang meeting di sebelah ruangan Arsyad, menatanya dan mengecek LCD dan proyektor bila dibutuhkan.
"Pagi, Mas!" sapa Indah ramah ketika dipersilahkan Sha untuk masuk. Setelah memastikan kebutuhan meeting beres, Sha pun undur diri. Arsyad terus memperhatikan gelagat Sha, sangat profesional dan Arsyad sebal akan hal itu.
"Kamu naksir dengan sekertaris kamu, Mas?" tebak Indah penasaran. Meski ia memasang wajah sumringah tapi hatinya memanas. Raut Arsyad tampak mengagumi Sha, dan tak rela kalau ditinggalkan.
"Kelihatan ya?" jawab Arsyad.
"Banget, setahu aku Mas Arsyad gak pernah tuh melihat perempuan seperti itu."
"Iya memang, dia gadis yang aku suka sejak SMA. Gak nyangka bisa bertemu dan dia bekerja di sini, jodoh kali ya!" Arsyad masih belum peka dengan perubahan raut Indah. Sedangkan
Indah hanya tersenyum dan mengangguk canggung, mendadak ia tak mood untuk diskusi lagi. Tujuan berduaan dengan Arsyad memang tercapai, tapi harapannya pupus seketika. Hati Arsyad sudah terpaut dengan sang sekertaris.
"Bulan depan bisa didistribusikan?" tanya Indah serius, tak ada senyum ramah lagi.
"Bisa. Desain sudah siap, minggu depan mulai produksi. Tim marketing juga sudah siap memasarkan lewat distributor. Rancangan anggaran sudah dealkan?"
"Oke, sudah. Anggarannya juga sudah oke saya setuju!" Indah pun tanda tangan surat perjanjian kerja sama. "Untuk model, kita bisa pemotretan kapan?" tanya Indah, setidaknya masih ada kesempatan untuk bisa dekat dengan Arsyad.
"Dua minggu lagi mungkin, setelah tim produksi sudah ada model. Kita atur jadwal pemotretan."
"Tetap kita kan yang jadi modelnya?"
Arsyad mengangguk, seraya menandatangai surat perjanjian kerja sama. "Sha gak cemburu kalau kita pemotretan bersama?"
__ADS_1
Arsyad tersenyum tipis, "Gak bakal. Karena di sini yang cinta adalah aku."
Indah mati kutu. Semakin nyesek mendengar pengakuan cinta Arsyad.