JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
TOPIK YANG SAMA


__ADS_3

"Ikut, ya?" pinta Arsyad saat Sha menyerahkan berkas terakhir di penghujum jam kerja. Gadis itu hanya melotot saja, namun Arsyad malah terkekeh. "Nanti yang sediain sarapan aku siapa?" tanya sok manja, dan Sha malah geli mendengarnya.


"Gak usah sok manja, umur 24 tahun jomblo aja sanggup, kok!" sindir Sha sewot. Memang kalau lagi berdua gini, ia menganggap Arsyad teman lama agar tidak canggung, dan soal perasaan Arsyad pun ia menampungnya saja tanpa memberikan balasan. Dia juga tidak PHP pada Arsyad.


"Aku pulang dulu, ya," pamit Sha ketika berkas terakhir sudah ditanda tangani Sha.


"Mau ke mana sih?" tanya Arsyad kepo.


"Mita ngajak ketemuan!"


Mendengar nama Mita otomatis Arsyad kalang kabut karena pasti ada kabar tentang Irsyad. Oh tidak bisa membiarkan Sha pergi sendiri. "Aku antar!"


Sha mengerutkan dahi, aneh dengan inisiatif bosnya ini. Memang benar Arsyad cinta sama Sha tapi dia akan membiarkan Sha pulang sendiri kecuali ada kepentingan yang urgent, Arsyad baru mengantarkan Sha. Lagian sekertarisnya itu lagi mode far away dari bos rese' ini saat di luar kantor. Khawatir namanya makin jelek saja.


Tuduhan di akun Farah tidak dihapus, tiap hari bahkan tiap jam ada saja yang memberi komentar. Ingin mengabaikan tapi namanya orang pasti penasaran dengan penilaian netizen yang budiman.


"Gak usah, Syad. Kenapa sih insiatif banget, curiga deh!"


"Buruan. Gue janji cuma nemenin lo gak bakal ijut campur pembicaraan lo dengan Mita. Gue bakal bawa tablet atau kalau perlu gue bawa laptop deh biar fokus melanjutkan kerja."


Sha hanya mencebik kesal. Dia bukan anak kecil yang bisa dibohongi sama modus orang. "Syad, gue bukan cewek lo." Sha mempertegas statusnya agar Arsyad tidak melewati batas, dan tidak wajib posesif.

__ADS_1


"Iya gue tahu! Buruan."


"Iya gak usah narik tangan gue juga kali," protes Sha sembari menepis tangannya yang dipegang Arsyad.


Pandangan sinis makin merajalela kala Sha berjalan beriringan dengan Arsyad, apalagi Arsyad kelihatan luwes ketika berbicara dengan Sha. Rumot kedekatan keduanya semakin jelas terdengar. Arsyad masa bodoh, bos sangat diperbolehkan berbuat suka-suka. Sedangkan Sha sudah memasang wajah tembok, niatnya cuma kerja bukan cewek penggoda.


Keduanya naik mobil bersama, menuju cafe tempat janjian Sha dan Mita. Dua sahabat itu pasti ada pembicaraan penting tapi Arsyad bakal menjadi patung saja. Mita melihat kehadiran Sha dan Arsyad hanya mencibir, "Sopirnya suruh tunggu mobil napa, Buk!"


Arsyad tak mau menimpali sindiran Mita. Ia menoleh sekilas lalu duduk di samping Sha, bahkan tak ada jarak meski Sha sudah menyuruhnya geser.


"Lo iket Sha sekalian aja, Syad!" usul Mita gemas melihat kelakuan Arsyad yang lebih posesif ketimbang Irsyad.


"Iya dua minggu laki juga bakal gue ikat dalam pernikahan yang sah!" ceplosnya sembari menyalakan macbook. Ia tak peduli sorot tajam Sha setelah mendengar kalimatnya, yang jelas omongan baik insyaAllah dikabulkan. Aamiin.


"Ngomong aja kali, Mit. Anggap gue gak ada. Gue cuma mau nemenin gadisku," ucap Arsyad yang fokus pada layarnya. Berkutat pada laporan usaha. Sha hany mendengus kesal, nih orang kenapa sih nempel mulu, batin Sha protes. Karena kalau ia protes pasti akan kalah dengan argumen Arsyad.


"Ngomong aja, Mit. Ada apa? Lo mau nikah?" todong Sha sudah tidak sabar mendengar kabar yang dibawa Mita, memang hampir setiap hari chat, tapi kalau sampai mengajak bertemu ada topik urgent yang perlu dibahas.


"Sebenarnya gue juga malas sebagai kurir berita sih. Hanya saja gue gak tega. Apalagi simpang siur yang sudah jauh dari kebenaran."


"Apaan sih, serius banget!" protes Sha yang gemas Mita tak langsung to the point.

__ADS_1


"Gue harap lo gak motong pembicaraan gue, dengarkan sampai gue selesai. Dan please tak usah emosi membahasnya."


Sha mengangguk. Obrolan keduanya benar-benar terjadi dua arah. Arsyad memenuhi janjinya untuk tidak ikut campur.


"Irsyad!" baru saja Mita menyebut nama sang mantan, Sha langsung menghelan nafas berat sekaligus menyenderkan tubuhnya di kursi cafe.


"Kenapa lagi?" tanyanya malas, kembali hidupnya harus disangkut pautkan dengan Irsyad.


"Divorce," satu kata dari Mita membuat Sha melotot dan Arsyad kaget, namun bos itu berusaha menahan jiwa keponya. Mengingat janji tak tertulis untuk tetap anteng dengan laptop.


"Karena gue?"


Mita menangguk. "Kabar di rumah sakit sudah tak karu-karuan, istilahnya kita kan dokter muda, dokter baru. Tapi efek divorcenya mereka seperti mengalahkan berita para artis. Mereka mengira pelakor dalam rumah tangga Irsyad Farah menang." Mita agak ketar-ketir menyampaikan hal ini khawatir Sha sedih saja. Dipojokkan orang begitu tanpa tahu kebenarannya.


Sha kembali menghela nafas berat. "Lalu?"


"Irsyad juga terancam di penjara."


"Kenapa?"


"KDRT."

__ADS_1


"Kok parah banget sih, Mit. Terus lo sampai tahu, siapa informannya sampai berita ini tersebar. Lo dokter loh, Mit. Pasti sibuk, dan mungkin gak ada waktu untuk merumpi." Sha jadi curiga, apa mungkin Mita ikut terlibat dalam hal ini. Mendadak ia suudzon karena bagaimana pun ia tahu Irsyad tidak semudah itu mengumbar masalahnya, apalagi sebuah aib dalam rumah tangganya.


"Ini...." Mita pun menyodorkan room chat dari seorang teman yang mengirim screen shot story Farah mode close friend.


__ADS_2