
"Mit, mau ke mana?" tanya Irsyad yang melihat temannya kembali ke rumah sakit, setahunya Mita sudah tidak ada jam jaga malam ini.
Mita yang mendengar dipanggail Irsyad mendadak kaku, memang ia berniat tidak memberitahu apapun soal Sha dan ibunya. Tanpa menghiraukan Irsyad, Mita pun berlari menuju ruang VIP tempat ibu Sha dirawat, sialnya Irsyad bisa mengimbangi langkah Mita.
"Duh....ngapain dia ikut, bisa kacau!" batin Mita melihat Irsyad sudah berada di sampingnya. Mendekati lorong VIP, Mita berhenti sejenak, menoleh pada Irsyad yang terus mendampinginya.
"Lo kenapa sih ikutin gue?" sentak Mita tak suka.
"Ya lo tinggal jawab aja pertanyaan gue, lo mau ke mana. Bukannya udah gak ada jadwal jaga ya?" balas Irsyad kepo. Mita menghela nafas pelan, melirik jam tangannya dulu, mengulur waktu agar ijab qabul Sha dan Arsyad berjalan lancar.
"Sejak kapan lo hafal jadwal jaga gue, aneh!"
Irsyad tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Gue mau cerai dengan Farah."
"Terus? Jangan bilang lo mau deketin gue, makanya lo kepo dengan aktivitas yang gue lakukan!"
"Ngomong sama tembok, lo Mit. Sejak kapan gue naksir lo," jawab Irsyad tak terima.
"Ya terus kenapa lo kepo sama gue," Mita kesal karena Irsyad sangat menghambat langkahnya menuju kamar Bu Rahmi. Boleh nabok mukanya Irsyad gak sih, batin Mita kesal.
"Gini. Lo mau kan jadi mak comblang gue sama Sha, gue berusaha menyamakan jadwal jaga sama lo. Setidaknya kalau kita longgar lo bisa ajak Sha buat keluar, terus kita pura-pura bertemu gitu."
Mita tertawa lebar mendengar penjelasan Irsyad, "Lo kok bisa jadi dokter sih, Syad. Beg* lo. Berani bayar gue berapa jadi mak comblang. Lagian lo anak orang kaya pasti punya kaca kan, sadar diri dong Sha gak bakal balik sama lo. Apalagi saat ini dia sedang melangsungkan pernikahan!" eh Mita langsung menutup mulutnya lalu melangkah pergi. Tak mau didekat Irsyad, khawatir keceplosan.
Irsyad terpaku, Sha? Menikah? Kabar macam apa ini? Tak butuh waktu lama, Irsyad tersadar dan segera mengejar Mita.
Mita masuk ke salah satu ruang VIP memang pintu kamarnya terbuka, Irsyad datang tepat teriakan sah berkumandang.
Pak penghulu memimpin doa pernikahan, Irsyad terpaku. Mita yang sudah masuk ikut terharu dan menengadahkan tangan untuk mengaminkan doa. Kini, Irsyad menatap lekat siapa pengantin itu, dan ketika keduanya berfoto barulah ia yakin Sha menikah. Sha sudah menjadi milik orang lain, dan lebih membuatnya frustasi. Suaminya adalah Arsyad.
Irsyad tahu Arsyad memang menyukai Sha sejak bangku SMA, tapi kenapa secepat ini. Irsyad sudah menyusun rencana pasca perceraian, tapu gagal total karena pernikahan ini. Sungguh jalan buntu yang ia rasa.
__ADS_1
"Selamat ya, bahagia selalu. Akhirnya menantu mama tambah!" ucap mama Arsyad sembari memeluk Sha, ibu yang berada di bankar tersenyum bahagia. Pak Wira pun menepuk pundak si bungsu, sangat bangga karena Arsyad bisa mengatur berkas pernikahan resmi secara negara.
"Papa bangga sama kamu, Nak."
"Arsyad ingin menikahi Sha dengan cara yang baik, agar tidak ada pihak yang dirugikan suatu saat nanti."
Pak Wira mengangguk, sungguh bahagia mereka yang ada di kamar tersebut, bahkan Tuan Arya tersenyum bangga. Ini adalah moment pertama kali melihat sang putri. Bersyukur dirinya dilibatkan dalam menentukan masa depan sang putri. Namun ia masih belum berani bergabung dengan kebahagiaan sang putri. Beliau berdiri, menatap sang putri yang dipeluk bergantian oleh sang mertu, Rahmi, dan perempuan yang tak ia kenal. Matanya sembab tapi senyum manis Sha tercetak jelas.
Tuan Arya melihat Arsyad, suami putri nya yang masih berpelukan dengan sang papa. Ada rasa bangga karena Sha mendapat suami ganteng dan sepertinya sangat mencintai Sha. Dalam hati kecil Tuan Arya, terus berdoa untuk kebahagiaan sang putri.
"Salim sama ayah kamu, Nak!" pinta ibu ketika Sha mengurai pelukannya.
"Harus, Bu?"
Bu Rahmi mengangguk, "Ridho Allah berada di bawah Ridho orang tua, Sha. Hidup kamu akan bahagia ketika semua orang tua meridhoi pernikahan kamu."
Arsyad mendengarnya, mendekati sang istri dan memegang lengan Sha, "Aku temani, yuk. Kita dari tadi belum sungkem sama beliau."
Sha menatap Arsyad tak suka, namun tak mau membuat keributan, ia mengikuti sang suami. Eh cie suami.
"Maaf, Nak. Maaf!" ucap beliau langsung menarik tangan Sha. Memeluk sang putri yang tak pernah ia rawat, bahkan kehadirannya pun tak pernah ia tahu. Sungguh, bisa memeluk sang putri seperti ini adalah anugerah terindah dalam hidupnya.
Sha diam. Bahkan tak merespon permintaan maaf sang ayah. Hatinya sudah mati rasa, ia mau salim dan meminta restu karena menuruti permintaan ibu dan suaminya. Tuan Arya tahu Sha masih belum menerimanya, beliau pun menguraikan pelukannya dan menepuk pundak Arsyad.
"Jaga dia baik-baik ya Arsyad, bahagiakan dia karena ayah tidak bisa memberikan kebahagiaan."
"Tentu, Yah."
Sha balik badan tanpa pamit, ia kembali mendekat ke bankar ibu yang di sana sudah ada Mbak Marni dan mama mertuanya serta Mita. Ah sahabatnya ini ternyata ikut prosesi ijab qabulnya.
"Gue kira gak jadi ke sini, makasih!" ucap Sha senang sembari memeluk leher sang sahabat. Mita terbatuk, memukul lengan Sha yang tak kunjung dilepas.
__ADS_1
"Bela-belain lah, apalagi..." Mita melongokkan kepala ke arah pintu, Sha pun mengikuti arah pandang Mita.
"Cari siapa?" tanya Sha heran. Pak penghulu sudah diantar ayah dan papa mertuanya, beserta Pak RT dan ustadz salim yang juga ikut pamit.
"Tadi ada Irsyad!"
"Ouh benar berarti, tadi sekilas aku melihatnya Gue pikir gue halu, ternyata benar," ucap Sha santai sembari memberi air mineral pada Mita.
"Masih mengharap?" tanya Arsyad yang duduk di samping Sha dengan nada menyindir.
"Apaan sih, kalau mengharap dia gak bakal aku mau nikah sama kamu."
"Sewot," ujar Arsyad sembari memberi kecupan pada pipi sang istri. Sha mematung, mendapat serangan tiba-tiba membuat hatinya berdesir. Cium pipi dengan sang mantan sudah biasa, begitu suaminya yang mencium rasanya luar biasa.
Arsyad memilih keluar, bergabung dengan ayah dan papanya. Sang mama masih berbicara dengan ibu Sha, bercerita tentang masa kecil kedua anaknya. Hingga pukul 10 malam, semua orang pulang. Arsyad sudah berganti kaos dan training, begitupun dengan Sha. Ada rasa canggung ketika tinggal berdua, apalagi sang ibu sudah tidur.
"Maaf ya, Syad. Harus melibatkan kamu saat kesehatan ibu begini."
"Gak pa-pa, toh memang aku berniat memperistri kamu kan. Mungkin ini jalannya. Kita harus belajar menjalani rumah tangga ini meski situasinya masih belum fine."
Sha mengangguk, "Iya aku akan belajar buat jadi istri yang baik."
Arsyad mengangguk, tangannya meraba ke pipi kiri Sha, kedua matanya saling menatap. Arsyad pun mendekatkan wajahnya pada Sha. Gadis itu tahu Arsyad mau melakukan apa. Sha diam lalu memejamkan mata saat bibir lembut Arsyad menempel di bibir Sha, berlanjut hingga ********** mesra. Arsyad melakukannya tak menggebu, seakan menyalurkan rasa sayang yang begitu dalam pada Sha.
"I love you," ucap Arsyad mengakhiri adegan mesra itu.
Sha tersenyum. "Love you too."
"Yakin udah cinta? Sejak kapan?" tanya Arsyad yang belum yakin dengan perasaan Sha saat ini.
"Sejak habis maghrib tadi, udah halal makanya cinta," ucap Sha sok centil.
__ADS_1
"Menggemaskan," sahut Arsyad sembari menafik hidung mancing Sha, lalu memeluk perempuan kesayangannya sejak remaja.
Ketika kalimat Sah terucap, saat itu juga hidupku akan terikat selamanya denganmu, Sha. I love you..dulu, kini, dan nanti.