
Sha kembali ke ruanganya, sudah ditunggu Arsyad yang duduk manis dengan laptopnya. Bos ganteng itu fokus menatap layar hingga kehadiran Sha pun tak diketahui.
Sha melangkah dengan menghela nafas berat, mau apalagi bosnya ini kerja di mejanya. "Ada yang bisa dibantu Pak Arsyad, maaf saya tadi ke devisi keuangan?"
Arsyad mendongak, dan hanya mengangguk. Tapi tak kunjung menjawab pertanyaan Sha. Suasana menjadi canggung tiba-tiba, namun Sha tak peduli. Terserah bosnya saja mau kerja di mana, ia pun segera memproses email yang masuk dan memilah beberapa dokumen untuk diminta tanda tangan Arsyad.
"Sha, ini dokumennya udah be..." Danu menghentikan ucapannya kala melihat sosok yang di meja kerja Sha. Sha dan Danu beradu pandang dengan isyarat mata yang bermakna.
"Gak usah main mata, suka-suka gue mau kerja di mana, kantor-kantor gue!" meski Arsyad menatap layar tapi ia tahu Danu dan Sha main mata.
"Bos kamu merangkap dukun juga kayaknya, Sha!" ledek Danu dengan cekikikan, ia hanya meletakkan dokumen di meja Sha lalu masuk ke ruangannya. Sedangkan Sha mendengus kesal, Arsyad masih di meja kerjanya dan ia tak bebas untuk bekerja, tak bisa membuka ponsel sebentar juga. Membosankan.
Tung
Tung
Tung
Bunyi notif IG masuk secara beruntun, Sha berusaha tak terpancing meski sangat ingin membuka ponselnya.
"Ponsel kamu bunyi terus, udah punya Ayang buat kasih perhatian?" sindir Arsyad, yang biasanya kalau punya pacar akan menanyakan hal gak penting dan membuat ponsel bunyi secara beruntun.
"Bukan pesan tapi notif IG!" ketus Sha dan pada akhirnya mengambil ponselnya. Sha membuka notif itu, ekspresinya pun berubah sesuai komentar yang ada. Mengerutkan dahi, lubang hidup melebar, ada juga menghela nafas berat.
"Baca IG segitunya, Sha. Emang IG kamu apa sih?" kepo juga Arsyad, sampai sejauh ini ia tidak aktif bermain media sosial, hingga tak tahu juga akun Sha.
"Bapak kepo ya," ledek Sha di sela-sela baca komentar. Mendapat jawaban yang tak mengenakkan, Arsyad langsung mendekati Sha.
"Bapak apaan sih," gerutu Sha sambil mendorong tubuh Arsyad yang terlalu dekat dengannya.
"Makanya jawab yang benar!" balas Arsyad tak kalah ketus, dan pada akhirnya ia mendapat akun Ig Sha juga. Keduanya pun asyik menyalami akun masing-masing, Sha tak berniat membalas komentar dari foto yang diupload oleh Farah.
"Sejak kapan kamu jadi konten kreator?" tanya Arsyad penasaran setelah scroll pada video yang diupload Sha beberapa kali.
"Sejak putus dari mantan!" jawab Sha asal masih memantau komentar netizen dari pihak Farah. Sedangkan Arsyad melihat video tersebut, apalagi yang berduet dengan Arman.
"Next project sama aku ya?" tawar Arsyad tiba-tiba, ada rasa cemburu karena dalam video tersebut Sha begitu luwes berbincang bersama Arman, natural dan masuk ke dalam cerita.
"Kenapa?" tanya Sha dengan nada tak suka.
"Ya elah, Arman boleh masa' aku gak. Gantengan aku juga," Sha mendadak mual. Teman SMA nya ini semakin absurd dan terlalu percaya diri.
"Gak usah sok mual gitu, emang kenyataan aku ganteng!" lanjut Arsyad masih dengan kepercayaan diri tinggi.
"Ya deh, sampai-sampai satu kantor naksir semua."
__ADS_1
"Tapi kan aku sukanya sama kamu. Mereka naksir suka-suka mereka tapi kan gak aku pilih."
Sha menatap Arsyad intens, entah sudah berapa kali ia menolak temannya ini. Tapi dia belum juga menyerah, bahkan Sha sendiri yang menolak saja sampai bosan.
"Syad, kamu pernah sakit hati gak kalau aku tolak?" tanya Sha tiba-tiba.
"Gak. Kecewa pastinya!" balas Arsyad sembari membalas tatapan serius Sha. Keduanya berbicara natural seolah bukan di kantor. Apalagi di lantai itu hanya mereka berdua, karena Danu sudah anteng dalam ruangannya meski beberapa kali menatap dua insan yang masih sama posisinya. Duduk berhadapan dan saling tatap ditambah beberapa waktu lalu sama-sama pegang ponsel.
"Mengharap sampai kapan?"
Arsyad mengangkat bahu, pertanda tak tahu sampai kapan ia mengharap balasan perasaan Sha. "Gak pengen mencoba berhubungan dengan perempuan lain. Aku yakin banyak yang mau."
"Banyak memang, bahkan saat kuliah di LN pun aku juga sempat dekat dengan beberapa perempuan. Tapi aku anggap perempuan biasa aja. Gak seperti kamu."
Sha terdiam. "Lama banget loh kamu punya rasa itu, tapi kok gak pernah berusaha nikung aku?"
Arsyad tertawa, "Emang kamu mau aku tikung?"
Sha menggeleng. "Tipe setia mah aku," sewotnya yang diangguki Arsyad. Tahu betul betapa Sha menjaga interaksinya dengan lawan jenis kala menjadi kekasih Irsyad. Beda jurusan, beda kegiatan, tetap saja Sha setia pada sosok Irsyad. Terlebih kedua orang tua Irsyad juga menyukai Sha, semakin kuat saja jalinan cinta keduanya.
"Seandainya Irsyad setia sama kamu, kapan kalian menikah?" tanya Arsyad.
Sha menyenderkan tubuhnya di kursi, menerawang beberapa saat pembahasan pernikahan dengan Irsyad saat itu. "Ada rencana?" lanjut Arsyad memastikan.
"Ada. Tapi selalu aku yang entar dulu deh, kayak belum yakin gitu sama dia. Ya aku mau nikah sama dia, tapi untuk dapat klik oke ayo kita nikah aku belum final seratus persen."
"Kenapa?"
"Kepo banget kamu, Syad!" Sha menanggapi dengan santai, bahkan menertawakan Arsyad yang kelewat serius.
"Jawab aja!"
"Kenapa? Kamu mau jadi seperti apa yang aku mau?"
Arsyad menggeleng. "Soal karakter mungkin gak bisa diubah ya, hanya saja soal kebiasaan. Misal, kamu mungkin ada yang gak sreg dengan sifat Irsyad, itu yang membuat kamu belum yakin untuk menikah dengannya."
"Irsyad menurutku lelaki yang suamiable banget, ganteng, pekerja keras, dan sangat tanggung jawab!"
"Bangga banget tuh mantan," sindir Arsyad tak suka, kelihatan banget Sha masih merasakan betapa bangganya menjadi kekasih Irsyad, hanya saja mungkin tertutup kecewa.
"Denger dulu napa sih, Syad. Mumpung aku mau curhat sama kamu," sewot Sha yang juga tak suka kalau dianggap masih menyimpan rasa terhadap Irsyad.
"Iya...iya, lanjut!" Arsyad mengalah, oke lanjut menjadi pendengar.
"Namun ada sifat yang aku kurang sreg sama dia, yaitu terlalu hedon. Dia loyal terhadap siapapun, ya mungkin itu yang membuat dia bisa terjebak dalam peristiwa itu, karena pesta temannya!"
__ADS_1
"Wajar sih, anak orang kaya!"
"Tapi kamu enggak," Sha menatap Arsyad dengan intensi, sehingga sepersekian detik Arsyad salah tingkah dibuatnya.
"Aku kenapa?"
"Ya kamu gak hedon kayak Irsyad. Kalian tuh punya sifat sebelas dua belas loh," ucap Sha yang baru menyadari akan kemiripan sifat keduanya.
"Gak usah disama-samain, gue bukan kembarannya!" makin sewot saja bos ganteng ini.
Sha tertawa, sangat lucu wajah Arsyad bila kesal. "Dibilangin juga, malah marah."
"Ya lebih aku semuanya lah, ketimbang mantan kamu!"
Sha semakin tertawa, "Iya deh gak ada kecap nomor dua," balas Sha dengan guyonan.
"Aku sih kadang kala aja hedon, cuma mikir aja aku kerja keras tiap hari memutar otak, masa' sih harus dihamburkan. Ya ada kalanya me time dengan foya-foya, hang out sama teman, cuma bisa dihitung dengan jari. Apalagi circle pengusaha, kalau gak kuat iman keok dah tuh."
Sha mengangguk, "Pasti istri kamu nanti bangga punya suami orang rumahan," doa tulus Sha untuk perempuan yang menjadi istri Arsyad kelak.
"Ya istri aku tuh kamu, cepat bilang Alhamdulillah!"
Sha hanya tertawa, "Dih ge-er."
Keduanya pun saling senyum, ternyata obrolan tanpa mendahulukan perasaan, menganggap ketemu teman lama dengan berbagi cerita sangat mengasyikkan. Penatnya otak pada pekerjaan pun hilang, malah fokus curhat.
"Kadang dulu aku mikir, seandainya aku menikah dengan Irsyad bisa gak ya aku mengimbangi keroyalannya. Semakin lama hubungan kita, aku tuh sadar gap di antara kita itu sebenarnya besar banget. Hanya saja kita masa bodoh, jalani aja tanpa mau memikirkan nanti kita gimana."
"Mungkin kalian sebenarnya udah tidak punya rasa cinta, tapi hanya sebuah kebiasaan."
"Mungkin. Makanya ketika dia mau menikah, shock pasti. Sedih pasti, sempat mikir eh aku bisa gak ya gak dihubungi dia. Gak VC an sama dia, tapi setelah nangis bombay aku mikir ya udah dia bukan jodohku. Gampang banget, dan gak mau kepo dengan kehidupannya."
"Dan kamu tau, Sha. Kondisi saat inilah seperti yang aku inginkan."
"Maksudnya?"
"Punya hubungan, tapi gak ada yang ditutupi. Kamu bisa ngomong tanpa mikir aku sakit hati atau sungkan, loss aja bicara."
"Eh bener-bener, aku pernah juga merasa nanti kalau aku udah nikah. Aku ingin suamiku adalah temanku, sahabatku yang gak perlu jaim, gak perlu sungkan, dan peka terhadap apa yang kita rasakan. Jadi kita nyaman untuk berbagi apapun."
"Trus kamu masih ngelak gitu?"
"Ngelak apa?"
"Kalau kita sebenarnya jodoh!"
__ADS_1
Sha tertawa sekeras-kerasnya, ujung-ujungnya Arsyad menyatakan cinta untuk kesekian kalinya.
"Aamiin," jawab Sha di sela-sela tawanya. Arsyad pun tersenyum girang, secara tidak langsung Sha memberikan kesempatan kalau memang berjodoh. Intinya buat Sha nyaman aja, berlagak seperti teman untuk seumur hidup.