JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
IBU DAN ANAK


__ADS_3

Nyatanya Arsyad tertawa lebar setelah sholat berjamaah dengan Sha. Sesuai keinginannya, ternyata hanya Sha yang menjadi makmumnya. Wajar sih, waktu istirahat hampir selesai, tentu orang yang sholat hampir tidak ada.


Tung


Tung


Tung


Suara notif IG ponsel Sha berbunyi terus, terlihat di pop up layar. Sha hanya menghela nafas berat, tapi membiarkannya saja. Ponselnya di mute, dan ia mulai bekerja dengan Arsyad. Sangat profesional. Bahkan saat pulang kerja, Sha pun dipersilahkan pulang terlebih dulu. Seperti biasa, Arsyad akan pulang menjelang isya atau setelah isya, karena ia akan menerima email dari anak buah untuk perusahaannya.


Sha berjalan di lobby santai saja, tak peduli dengan bisik-bisik orang yang menatapnya. Benar apa kata Arsyad, kalau memikirkan omongan orang lain tentu akan membuat potensi kita tidak berkembang. Dan Sha gak mau. Dia dikuliahkan oleh jerih payah ibu agar menjadi orang sukses, bukan untuk mendengar julidnya orang lain.


Di dunia ini, mau kalian bersikap buruk, bersikap baik sekalipun pasti ada yang mencerca, so...bersikap apa adanya, tidak mengganggu kepentingan orang lain, sudah begitu saja dalam menjalani hidup. Terserah mereka mau menilai diri kita seperti apa. Memang susah, dan harus belajar diterapkan.


"Tumben sudah pulang?" tanya Ibu menyambut kehadiran sang putri menjelang maghrib. Sha hanya salim lalu menuju dapur, menegak segelas air dingin agar suasana hatinya ikut dingin.


"Ada masalah?" inilah firasat sang ibu yang sangat peka akan kondisi hati sang putri. Melihat raut datar Sha.


Hufh...


Sha menghela nafas berat, duduk sembari memegang gelas dan menatapnya kosong.


"Mandi dulu, sholat, makan baru cerita!" ujar sang ibu sembari menepuk pundak Sha lembut. Sha pun beranjak melaksanakan perintah sang ibu.


Bahkan untuk makan malam, sang ibu pun menyiapkan dengan telaten, beliau menunggu Sha makan dengan diam, Sha memang tampak murung dan ibu tidak mau bertanya lebih dalam, membiarkan Sha makan dulu.


"Jadi?" tanya ibu mulai mengorek apa yang terjadi. Sha sudah kenyang dan baru saja meletakkan gelasnya.

__ADS_1


"Aku kayaknya gak jadi meneruskan projek itu, Bu!" ucapnya frustasi. Mengingat betapa ramainya netizen mengomentari foto Sha dan Irsyad di akun Farah. Memang kebanyakan yang komen adalah teman Farah, sehingga kalimat yang diucapkan terlalu rusuh dan tak enak dibaca.


"Kenapa?" tanya ibu ingin tahu lebih dalam. Beliau sangat hafal karakter Sha, dia tidak akan menyerah bila tujuannya belum tercapai. Tapi kini, ia masih mengupload beberapa video saja tapi mogok, ingin berhenti. Pasti ada hal yang tidak beres.


"Aku gak kuat dihujat orang lain, Bu."


"Maksudnya?"


Sha menghela nafas, kemudian ia menceritakan kronologi bagaimana ia bertemu dengan Irsyad sampai ada seseorang yang memotret dan menguploadnya di akun istri Irsyad.


"Lalu?" ibu sebenarnya sudah tahu arah pembicaraan Sha, hanya saja beliau ingin Sha lebih detail dalam cerita. Hingga dewasa seperti ini, Sha masih sangat terbuka akan masalahnya pada ibu.


"Teman-teman istri Irsyad memojokkan Sha, Bu. Bahkan menganggap Sha pelakor, cewek gatal. ******, bahkan yang lebih parah menuduh Sha main belakang dengan Irsyad." Sha sudah tak kuasa menahan tangisnya. Kesalnya hati yang ia simpan sejak di kantor, berusaha dilupakan dengan pekerjaan akhirnya ambrol di depan sang ibu.


Hati perempuan mana yang tidak sakit, bila dihujat banyak orang dan parahnya nge-tag akun Sha. Mereka hanya menghujat tanpa mencari tahu kebenarannya. Mau berusaha masa bodoh, tapi gak bisa.


"Sha sudah putus, Bu. Semua akses sudah Sha blokir, tapi enggak tahu kenapa hari itu dia ada di cafe itu."


"Dia menguntit kamu?" tebak ibu, namun Sha menggeleng. Ia tidak merasa dibuntuti atau diteror, tapi mungkin hari itu Irsyad sengaja menguntitnya.


"Sha sudah beberapa kali menolak ajakan Irsyad buat ketemu, Bu. Sha udah gak mau berhubungan dengan Irsyad sama sekali."


Giliran ibu yang menghela nafas, beliau tahu betul bagaimana Irsyad mencintai Sha, begitu sebaliknya. Namun, kondisi mereka sudah beda. "Lalu kamu maunya gimana?"


Sha mengedikkan bahu. Buntu dan tidak ingin melakukan apapun, biarlah mereka menghujat nanti akan capek sendiri.


"Sha ingin diam saja, Bu!"

__ADS_1


"Yakin?"


Sha mengangguk, rasanya capek berurusan dengan Irsyad. Semakin dijauhi, baik Irsyad maupun istriny bertindak di luar nalar, dan tidak dewasa. Sha tidak suka.


"Baiknya kalian bertemu, duduk bertiga. Kamu bilang dengan tegas kalau memang sudah tidak ada hubungan dengan Irsyad dan tidak mengharap dia lagi. Biar tidak salam, biar istrinya tahu siapa di antara kalian yang masih berharap."


"Gitu ya?"


Ibu pun mengangguk. "Kamu tahu lah, Sha. Bagaimana karakter ibu kalau punya masalah sama orang. Ibu akan menyelesaikan dengan duduk bersama, tanpa emosi agar semua clear, kalau perlu ada saksi yang hanya diam mengamati jalannya genjatan senjata."


Sha tertawa, kalimat sang ibu cukup memprovokasi. Tapi ada benarnya. Masalah tidak perlu dihindari tapi harus diselesaikan tanpa emosi agar ada jalan keluar.


"Minta tolong pada teman kamu, yang bisa dijadikan saksi. Yang bisa menyimpan rahasia, dan bisa melerai bila terjadi perdebatan panas."


Sha mengangguk, bercerita dengan ibu membuatnya berpikir untuk segera menuntaskan masalah dengan Irsyad dan Farah, dan teman yang akan menjadi saksi mereka adalah Mita.


"Niat baik, tabayyun harus segera dilaksanakan. Jangan seperti ayahmu yang meninggalkan ibu sampai saat ini tanpa menjelaskan apapun."


Sha mengerutkan dahi, kenapa jadi membahas sang ayah. "Ibu lagi kangen sama tuan suami?" tebak Sha sedikit menggoda.


Namun ekspresi ibu membuat Sha tertawa ngakak, karena beliau pura-pura muntah mendengar kata kangen. "Sorry dori mori, Ibu...kangen sama Ayahmu, hah...tidak mungkin. Katakan tidak untuk seorang laki-laki yang tidak bertanggung jawab," ucap beliau sedikit menggebu. Dulu saat Sha kecil, beliau menceritakan tentang ayah Sha dengan pujian, agar Sha mengenal sosok baik sang ayah. Namun saat Sha sudah beranjak remaja, ia sudah mengerti keadaan yang sebenarnya, sang ibu pun menceritakan tanpa ada yang ditutupi, biar Sha yang menilai sosok sang ayah.


"Kalaupun bertemu lebih baik diam, dan menganggap dia tiada."


Sha mengangguk, dia tidak akan melarang sang ibu berbicara buruk tentang sang ayah. Sha memahami betapa beliau sakit hati ditinggalkan dan sangat berjuang sendiri membesarkan dirinya.


"Aku sayang ibu, biarkan si tuan hidup dengan caranya sendiri. Dan kita bahagia juga dengan cara kita sendiri, asalkan Sha tetap sama Ibu."

__ADS_1


Keduanya pun saling berpelukan, saling menguatkan satu sama lain.


__ADS_2