
Selepas Maghrib, Sha dan Arsyad ke rumah sakit menjenguk Mika. Sebenarnya Arsyad tak ingin mengajak Sha kembali ke rumah sakit di mana sang ibu meninggal di sana. Khawatir trauma, tapi Sha bilang tidak apa-apa, ia sudah mengikhlaskan sang ibu dan insya Allah sang ibu sudah tenang.
Permasalahan pertama beres, muncul lagi akibat pemikiran Arsyad. Khwatir bertemu Irsyad. "Jangan lepas dari aku!" ujar Arsyad menggandeng Sha ketika memasuki loby rumah sakit.
"Iya," jawab Sha yang tahu alasan Arsyad posesif.
Keduanya masuk lift menuju kamar VVIP tempat Mika dirawat. Arsyad yang semula menggandeng tangan kini beralih merangkul bahu Sha. Sontak sang istri mendongak, menatap Arsyad heran.
"Tumben mau mesra depan umum?"
"Enggak tumben ya, aku sering meluk kamu kayak gini, tapi enggak di kantor!"
"Heleh, masih khawatir dengan omongan Irsyad dulu kan?" goda Sha dengan seringai jahil.
"Yang mana?" tanya Arsyad sok jaim. Namun Sha menjijit sebentar lalu mencium pipi Arsyad.
"Irsyad mah enaknya buang ke laut!" ujar Sha tepat pintu lift terbuka dan muncullah dua sosok dokter yang berdiri di depan mereka. Dokter Angga dan dokter Irsyad. Sha mendelik begitupun dengan Arsyad. Spontan aja tanpa berniat apapun. Dua dokter tersebut masuk dan menekan lantai yang sama dengan Arsyad-Sha.
Dokter Angga yang mungkin dokter senior mengajak bicara Irsyad, namun sayang dokter Irsyad malah sibuk melirik perempuan yang sedang dirangkul mesra oleh suaminya.
Ting
__ADS_1
Pintu lift terbuka, dokter Angga masih sibuk bicara dan keluar lebih dulu, tak lama Irsyad pun menyusul. Sha memberanikan diri menatap wajah sang suami yang tampak merah padam, lalu menggandengnya dan keluar menuju kamar inap Mika.
"Kamu tadi sadar kalau dia melihat kamu?" tanya Arsyad yang membalas genggaman tangan Sha.
"Gak lihat tapi kerasa kalau lagi dilihat!"
"Lancang dia itu, main lirik istri orang!"
"Tapi sialnya gak dibalas tuh lirikannya, soalnya si perempuan lebih asyik menatap wajah sang suami yang lagi cemburu," ujar Sha yang langsung dicium puncak kepalanya oleh Arsyad.
Sempat ragu akan perasaan Sha yang mungkin saja hanya menjalankan kewajiban sebagai sang istri bukan sepenuh mencintainya, tapi nyatanya tidak. Arsyad merasakan bahwa cintanya juga dibalas. Perhatian Sha dan cara dia melayani Arsyad yang buat yakin bahwa Sha juga sudah mencintai Arsyad.
Sha hanya mencolek perut Arsyad yang tak kunjung menjawab. "Kamu dimakan lagi Sha sama anak mama?" tanya ibu mertua yang tanpa tedeng aling-aling, membuat Sha menunduk malu.
"Kayak mama gak pernah aja," balas Arsyad sewot sembari mendekati sang ponakan yang sedang bermain kuda poni. Wajahnya sudah tak pucat lagi, karena mungkin sudah diinfus, diare dan muntahnya pun sudah teratasi.
"Kok bisa sampai gini?" tanya Arsyad pada Mutia yang sedang duduk selonjoran.
"Kemarin dia sempat makan yougrt 6 botol kemasan kecil itu," ujar Mutia menjelaskan yang memang mengizinkan Mika minum yougrt, taoi hanya separuh botol. Ternyata Mika inisiatif sendiri ambil di lemari es. Dan terjadilah masalah dalam perutnya.
"Sehat-sehat ya Mika, nanti kan mau main sama tante Sha, katanya mau bikin kue!" ajak Sha yang tampak sendu melihat wajah balita itu.
__ADS_1
"Gak usah sedih gitu napa, Sayang. Mamanya aja biasa aja," sindir Arsyad pada kakak iparnya, bukan julid tapi memang Arsyad yang suka protes saja.
"Apaan lo, Tot. Emang jadi ibu tuh kudu tenang, meski dalam hati panik ya kita berusaha nutupin lah. Masa' aku kudu bilang, eh Arsyad.aku khawatir nih sama Mika, kan gak perlu!" ceplos Mutia yang tak disangka bisa secerewet itu. Mama dan nenek tertawa, Arsyad diceramahi kakak iparnya.
"Sebelum diomelin Sha nanti, pemanasan dulu lah diomelin kakak ipar kamu," cetus mama dengan tawa mengejek.
"Sha gak mungkin cerewet, lah!" ujar Arsyad yang dalam hati pun sempat ragu sikap Sha setelah punya anak nanti. Pasalnya Mutia dulu juga kalem banget, dan perlahan cerewet seiring bertambahnya anak. "Iya kan Sayang?"
Sha tersenyum malu," Gak janji," ujar Sha diiringi tawa para perempuan dalam kamar itu.
"Perempuan itu soal olah kata lebih unggul dibanding laki-laki, apalagi kalau sudah jadi emak-emak, kemampuan olah kata meningkat drastis. Jadi wajar suami sering kena omel," lanjut nenek yang membela kaum perempuan dan Arsyad hanya bisa berdecak sebal saja, karena tak ada teman yang membelanya. Papa dan Akbar lagi keluar cari kopi bersama Rafly.
Tepat jam 9 malam, Arsyad dan Sha pulang, begitupun dengan papa dan mama serta nenek. Biarlah Mutia dan Akbar yang tidur rumah sakit. Punya anak balita memang mereka berdua sering tidur di rumah sakit, Rafly kecil juga pernah.
Mobil papa sudah keluar dari parkiran RS, sedangkan Arsyad masih menerima telpon dari anak buahnya. Sha menunggu di mobil dengan bermain ponsel. Saat Arsyad masih sibuk telpon, kaca mobil Sha tiba-tiba diketuk oleh seseorang. Sha menoleh kaget, ia langsung bergeser ke jok sopir. Keluar dari mobil segera.
"Ada apa?" tanya Arsyad kaget mendapati sang istri keluar dari mobil dan mendekatinya.
"Irsyad," tunjuknya pada seseorang yang berlari menjauhi mobil mereka.
"Bagsa*!" ujar Arsyad marah. Ia memeluk Sha yang ketakutan.
__ADS_1