JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
BABAK BARU


__ADS_3

Sha merasa asing dengan suasana loby saat pulang kantor. Ia memang keluar dari lift khusus Arsyad, tapi pandangan karyawan lain seolah takut melihatnya. Arsyad seperti biasa cuek dan hanya menganggukkan kepala tanpa senyum.


"Pasti mereka sudah tahu kita suami istri kan?" tanya Sha sembari mengiringi langkah Arsyad.


"Mungkin!" jawab Arsyad singkat, kalau di tempat umum dia berubah menjadi orang pelit ngomong tapi kalau udah di mobil, kucing peliharaan aja kalah manjanya.


"Gak usah resepsi berarti ya, orang kantor udah tau semua gitu."


Tanpa disangka Arsyad berhenti melangkah, sudah di depan loby. Tanpa aba-aba langsung mencium pipi Sha. "Resepsi harus," ucapnya laly membuka pintu mobil untuk Sha. Sedangkan sang istri masih terpaku sambil memegang pipinya.


"Ayo Sayang!" tegur Arsyad. Sha melihat sekeliling, benar saja beberapa karyawan melihatnya yang bisa dipastikan melihat adegan cium pipi barusan. Emang sialan tuh Arsyad, bikin malu, berontak hati Sha.


Kebahagian pasangan muda tak sebanding dengan hasil sidang pertama Irsyad. Keduanya memang sudah tidak mau bersama lagi. Apalagi Farah menjabarkan alasannya mau diceraikan. KDRT dan tak sejalan lagi menjadi faktor terkuat keduanya bercerai. Irsyad juga tidak menyangkal adanya tindak KDRT hanya saja Farah tak memperpanjang. Ia hanya ingin bercerai bahkan tahapan mediasi ditolak kedua belah pihak.


"Harusnya kamu jangan menyerah, apalagi menyerah dengan anak haram itu," seenaknya Nyonya Maheswari menyebut Sha sebagai anak haram. Arya langsung mendongak, menatap tak suka pada sang ibu. "Kenapa kamu? Gak suka kalau mama menyebut anak Iswa sebagai anak haram. Mereka memang pembawa sial, bahkan pernikahan cucuku hancur karena ulah anak itu."

__ADS_1


Farah diam, kalau dirunut dari awal dirinya yang salah karena tega merebut Irsyad. Ditambah saat pernikahan, Sha juga lepas tangan tak meladeni Irsyad. Sungguh dalam hati kecil Farah tak menyalahkan Sha. Hanya saja sisi buruk hatinya mendukung ucapan sang nenek, bahwa pernikahan hancur karena andil Sha.


"Perlu mama tahu, begitu pun kamu Farah. Masalah rumah tangga kamu yang salah adalah kamu dan Irsyad bukan Sha. Kamu dan Irsyad dari awal alasan menikahnya saja salah. Kamu tumbuh dalam keluarga lengkap dan berada tapi tak punya harga diri hingga mau saja ditiduri oleh pria yang sudah punya kekasih."


"Papa!"


"Arya!"


Teriak Nyonya Maheswari dan Farah kompak. "Kenapa? Mau marah? Kenyataannya memang seperti itu. Sebagai laki-laki sejati dalam hati hanya satu wanita yang dicintai. Irsyad sangat mencintai Sha tapi dipaksa keadaan menikahi kamu. Dan sekarang kamu menyalahkan Sha, pikir pakai otak kamu Farah. Pikir!"


"Papa akan sangat mendukungmu asal kamu lebih dewasa. Kamu tidak menyalahkan masalah kamu kepada orang lain."


Farah tersenyum sinis, "Papa bisa ngomong kayak gitu karena perempuan yang aku kambing hitamkan adalah Sha. Putri kesayangan papa dari wanita cinta pertama papa."


"Bukan, bukan karena itu!"

__ADS_1


"Lalu karena apa? Apa papa pernah menganggap aku putrimu. Apa pernah papa mendengarkan keluh kesahku. Sangat berbeda sikap papa bila menyangkut Sha, harta papa pun langsung diberikan pada perempuan itu apalagi soal kasih sayang meluber hingga tak tersisa untukku."


"Diam! Jangan melebarkan masalah," sentak Papa tak terima.


"Memang benar!"


"Sudah diam, saling menyalahkan tentu tidak ada titik temu. Kamu, Farah. Tak perlu menjadi pengemis kasih sayang pada papa kamu sendiri. Keturunan mama jangan pernah merendahkan harga diri demi perhatian laki-laki. Kalau papa daj Irsyad tak bisa memberi kamu kasih sayang, percayalah di luar sana masih banyak yang memberi kasih dan cinta padamu," ucap mama Farah tanpa mau melihat wajah sang suami. Rasanya sudah muak hidup dengan sang suami.


"Maksud kamu apa?" tantang Arya tak terima dengan ucapan sang istri.


"Tak ada maksud apa-apa. Aku hanya mengingatkan Farah, kalau tidak bisa menjadi wanita satu-satunya, ya sudah tak usah memaksa keadaan. Kalau mau cerai dengan Irsyad ya sudah, cerai saja. Tak usah mengemis."


"Sekaligus tak usah menyalahkan orang lain," lanjut Arya berpendapat sekali lagi.


"Terserah!" sahut mama Farah pasrah.

__ADS_1


__ADS_2