JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
SIKAP ANEH


__ADS_3

"Marsa berani bilang begitu? Wah cari mati rupanya," sahut Heni ketika Sha menceritakan apa yang terjadi di pantry dan soal foto yang beredar.


"Aku sih kemarin sempat ditanya anak produksi, cuma aku bilang aja tanya sendiri dong sama Sha. Aslinya bikin mereka penasaran aja sih, buat lucu-lucuan," sambung Mbak Diva dengan cekikikan.


Sha pun ikut tertawa, "Sebenarnya bukan sengaja membuat lucu-lucuan hanya saja aku pengen lihat sejauh mana mereka memperlihatkan gak sukanya sama aku!"


Heni dan Diva mengangguk setuju. "Sebelum jadi sekertaris mereka gak kenal kamu juga," ucap Diva sembari mencoret draft proposal keuangan yang diajukan beberapa pihak. Seperti itulah mereka, sibuk dengan draft diselingi ngrumpi.


Kebetulan Sha diminta Arsyad mengecek bagian keuangan tiap proposal yang masuk, dan boleh bekerja sama dengan anak keuangan. Heran juga biasanya soal keuangan kerja sama langsung ditangani Arsyad, dan Sha diminta duduk di depannya saling meneliti. Tapi kali ini tidak, Sha tak tahu saja kalau sang suami sedang bertindak tegas pada pelaku kejulidan.


"Kalau sampai Arsyad tahu, gimana kira-kira responnya?" tanya Heni. Sha spontan berhenti dan tampak berpikir.


"Hem..mungkin biasa aja sih, tapi bisa jadi marah kalau mereka ghibahinnya kelewatan," prediksi Sha.


Heni menopang dagu dan menatap Sha dengan tatapan kagum. "Iri banget aku sama kamu, Sha. Begitu dicintai pasangan kamu!"


Sha tersenyum, "Alhamdulillah. Tapi pengorbanan hati luar biasa kali."


"Maksudnya?"


"Aku dapat perhatian, cinta dan sayang dari Arsyad dan keluarganya karena aku udah kehilangan ibuku. Allah memang maha baik, Allah ambil ibuku lalu menggantinya dengan keluarga baru yang luar biasa," tak sadar Sha pun berkaca bila teringat sang ibu. Dirinya masih belum bisa membahagiakan sang ibu tapi sudah diambil oleh Yang Maha Kuasa. Sha juga belum menunjukkan kepada sang ibu bahwa dia bahagia memiliki suami sesabar dan seganteng Arsyad.


"Iya sih, memang keadaan pastinya kita tidak tahu. Orang kan hanya melihat kamu sebagai istri bos sudah ganteng kaya lagi, mana kelihatan bucin banget, jadi Sha enak banget. Tapi mereka lupa kalau kamu udah mewek kejer ditinggal nikah mantan, ditinggal ayah sedari kecil lalu ditinggal ibu. Tak semua perempuan sekuat kamu Sha. Bahkan kalau aku jadi kamu, aku pu gak bisa. Apalah sabarku hanya setipis tisu," ucap Diva lalu ketiga perempuan itu terkekeh.


Sha kembali ke ruangan Arsyad menjelang makan siang berakhir. Entahlah hari ini Arsyad sangat aneh, membebaskan Sha untuk tidak di dekatnya.


"Kamu udah makan?" tanya Sha saat masuk ke ruangan Arsyad, dan suaminya itu rebahan di sofa kantor. Meletakkan lengan tangan di dahinya. Terlihat sangat lelah bekerja.


"Udah."


"Tumben kamu makan siang gak usah ajak aku?" tanya Sha sedikit curiga.


"Tadi Dabu ajak aku makan setelah meeting," sahut Arsyad masih memejamkan mata. Sha hanya mencibir.


"Biasanya kalau kamu habis meeting sama siapa pun kamu pasti ingat aku, tanya aku langsung telpon udah makan. Ayo makan sama aku, aku tunggu di loby. Lah hari ini? Tidak ada Arsyad yang seposesif biasanya. Kamu kenapa? Heran deh. Kita belum genap satu bulan menikah loh, tapi kamu sudah berubah!"


Arsyad tersenyum tipis, membuka mata lalu bangun. Mengelus pipi sang istri yang kelewat cerewet. "Istriku kok sudah pintar ngomel. Kita belum punya anak loh," goda Arsyad yang tangannya beberapa kali ditepis Sha.


"Kamu yang bikin aku kesal!"

__ADS_1


Arsyad masih tertawa, "Bukannya kamu sendiri yang minta izin makan siang sama Heni dan Diva. Katanya udah lama gak makan bareng sama mereka, giliran diizini kenaoa jadi aku yang dituduh berubah?"


"Ouh jadi kamu nyalahin aku. Ya kan kamu selalu tanya kenapa makan siang sama mereka? Kok gak sama aku? Tapi hari ini kamu pasrah banget. Kamu iya aja sama kemauanku," tambah jutek lagi Sha rupanya.


"Ribet amat sih, Sayang. Kamu mau aku posesifin?"


"Ya jangan posesif banget!" rengek Sha sembari memeluk Arsyad. Bos ganteng itu terkekeh. Istrinya ini maunya apa sih, kenapa begitu ribet.


"Iya deh, gak posesif banget cuma posesif aja. Begitu?" sekali lagi Arsyad mengalah, ia tahu sang istri adalah anak tunggal yang dididik sejak kecil mandiri. Sisi manjanya saat kecil mungkin diabaikan hingga Arsyad rela menerima sifat manja sang istri.


"Kamu mau tahu aku ngapain sama Danu dan papa?"


"Apa?"


"Papa dikirimi sebuah foto kita masuk hotel oleh rekan bisnisnya. Mengira kalau aku memang hobi begituan sama cewek di luar sana. Sedangkan Danu juga menunjukkan foto kita saat masuk hotel. Angel foto keduanya berbeda tapi baju yang kita pakai sama. Aku sih langsung sadar foto itu diambil kapan, makanya aku panggil seluruh pihak yang terlibat, informasi dari Danu dan manajer pamasaran. Kalau papa mah santai, beliau menjawab biasa anak muda."


"Terus?"


"Ya aku minta mereka jujur dan aku bilang keadaan kita sebenarnya."


Sha mengangguk, "Mereka gak kamu pecat kan?"


"Kamu mau aku pecat mereka?" tanya Arsyad membalikkan pertanyaan pada Sha. Ingin tahu saja, bagaimana respon sang istri karena ia yakin Sha tidak akan tega meski sudah difitnah.


"Meski kamu difitnah?"


"Gak merasa difitnah, mereka hanya salah paham kasih shock terapi saja pasti mereka takut."


"Contohnya?"


"Dengan kamu memanggil mereka itu sudah senam jantung buat mereka. Kalau bosnya terlalu bucin pasti mereka bakal mikir dipecat."


"Tapi mereka gak sampai menyakiti kamu kan?" tanya Arsyad, siapa tahu Sha diteror atau disindir tapi tak bilang ke Arsyad.


"Enggak. Cuma memang ada yang to the point bilang aku munafik dan sebagainya cuma udah aku kasih shock terapi aja."


"Kapan?" tanya Arsyad, karena Sha selalu di dekatnya dan gak pernah membahas hal itu.


"Tadi sebelum ke ruangan Bu Retno. Aku mampir ke pantry, bertemu lah dengan seseorang yang memganggap aku wanita simpanan kamu."

__ADS_1


"Siapa?"


"Marsa."


"Lalu?"


"Ya aku telpon kamu tadi itu, dia langsung melotot dan kaget pasti."


"Gak sampai jambak-jambakan?"


Sha tertawa, "Enggak lah. Cuma aku agak pedes aja ngatain dia. Dia kan perempuan yang juga sering main murahan kalau sama klien. Ya aku bilang kita beda. Aku takut dosa, tapi kalau dia suka dosa."


"Eh...bentar. Bentar. Maksudnya main murahan?"


Sha menatap Arsyad. Kok gak nyambung dengan istilah main murahan? Apa dia tidak pernah terlibat main murah saat menarik perhatian klien?


"Kamu gak pernah?"


"Gak pernah apa?" tanya Arsyad semakin bingung. Apalagi Sha terdengar familiar dengan masalah itu.


"Main murah, kayak Marsa."


"Apaan itu. Kayak gimana main murahnya?"


Sha menghela nafas, "Jadi anak marketing kalau dapat klien baru biasanya sih toko atau distributor baru. Nah mereka agar deal tim marketing perusahaan ini biasanya juga sekalian open BO gitu. Aku gak tau pasti, aku hanya mendengar selintingan dan dikasih tahu Mbak Diva."


"Sampai saat ini?" tanya Arsyad kaget. Tak menyangka anak buahnya bisa bermain jijik seperti itu hanya untuk keuntungan perusahaan.


"Kalau sekarang aku gak pernah dengar, aku kan pindah dekat ruangan kamu. Mana bisa aku dengar kabar ataupun gosip."


"Aku gak mau karyawanku seperti itu, bikin perusahaan gak barokah. Oke kasih pengumuman untuk meeting khusus devisi pemasaran besok jam 10."


Giliran Sha yang kaget, ia mengerjapkan mata bingung dengan peringah sang suami. "Kamu kan sekertaris aku sayang, buat undangan khusus devisi marketing bisa?"


"Hah? Ouh...oke!"


Cup


Arsyad menyempatkan mengecup bibir manis sang istri, "Kembali bekerja ya. Biar kita cepat pulang."

__ADS_1


Sha mengangguk, masih terhipnotis dengan sikap Arsyad yang menurutnya sangat romantis sebagai bos yang menyuruh sekertarisnya.


Sha lebayyyy.


__ADS_2