JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
KEDATANGAN


__ADS_3

"Iswa!" sebuah panggilan yang menghentikan kerja Bu Rahmi. Pengunjung warungnya lagi ramai karena sekarang masih pukul 9. Banyak yang berniat sarapan di jam itu.


Beliau terpaku seketika, piring yang ada di tangan kiri beliau sontak dipegang erat. Bu Rahmi tak berani menoleh, takut kalau yang memanggil namanya adalah orang yang dibahas tadi malam bersama Sha.


*Ibu sudah tidak mengharap kehadiran laki-laki itu dalam hidup ibu. Kamu jangan khawatir.


Ibu juga tidak berniat meminta penjelasan kenapa dia meninggalkan ibu.


Ibu juga tidak menuntut jawabnya terhadap kamu, karena ibu sanggup merawat kamu hingga dewasa ini.


Tapi bila dia datang, permintaan ibu hanya satu ibu akan minta dia menjadi wali nikah kamu*.


"Bu!" tegur Mbak Marni yang kaget, setelah melayani minum para pengunjung dan hendak mengambil pesanan melihat majikannya itu diam saja. Terlebih Mbak Marni melihat sosok laki-laki paruh baya berdiri di depan etalase. Memang seperti itu, ada beberapa pengunjung yang langsung mendekati etalase untuk melihat menu apa saja yang tersedia.


"Mau pesan apa, Pak?" tanya Mbak Marni yang bingung karena laki-laki itu hanya diam, menatap Rahmi.


"Saya mau bertemu dengan Ibu Iswa," jawabnya. Mbak Marni menoleh pada majikannya, siapa Iswa. Di warung atau perumahan ini tidak ada yang bernama Iswa.


Mendengar namanya kembali disebut, Ibu Sha sangat yakin kalau laki-laki itu telah datang. Ia menghela nafas berat, dan mengucap istighfar beberapa kali, lalu menyuruh Marni mengantarkan laki-laki itu ke ruang tamu.


Bu Rahmi akan menyelesaikan dagangannya dulu, baru menemui laki-laki itu. Butuh suasana tenang menghadapi laki-laki itu, apalagi beberapa tetangga yang sempat mendengar perintahnya pada Marni mendadak kepo dengan menjulurkan kepala melihat langkah laki-laki asing masuk ke rumah seorang janda.


Tepat pukul 10.30, warung mulai sepi. Mbak Marni mulai merapikan warung, mengusung beberapa lauk yang masih sisa, sesekali juga melirik laki-laki yang duduk anteng di ruang tamu. Mbak Marni belum berani juga bertanya pada majikannya karena sepertinya ada masalah serius. Sekelibat dalam benak Mbak Marni apa mungkin Bu Rahmi punya hutang di debt collector, ah tahu lah.


"Kita bicara di luar saja," ucap Rahmi yang sudah berganti baju. Fokus Arya pada ponsel seketika teralihkan, ia melihat perempuan yang masih merajai hatinya sudah berdiri di depannya. Sungguh, Arya ingin memeluk perempuan ini. Namun tak berani. Apalagi statusnya juga sudah bukan suami perempuan itu lagi.


Arya hanya bisa menunduk, dan dia persilahkan untuk keluar dulu. Mungkin Rahmi akan pamit pada asistennya dulu, dan menitipkan rumah.

__ADS_1


"Kita bicara di kafe ujung jalan saja, Cafe Rasalova, keluar portal perumahan belok kiri. Saya akan naik motor, saya tunggu di sana!" pamit Rahmi tegas dan tenang. Arya tak bisa untuk menolak. Posisinya salah, lebih baik menurut saja.


Rahmi tiba terlebih dulu, ia memilih duduk di ujung cafe. Masih sepi, pengunjung hanya beberapa. Ia terus melafal istighfar, menghadapi Arya harus tenang jangan emosi. Meski keinginan hatinya mau menempeleng kepala laki-laki yang masih terlihat gagah dan tampan itu.


Tak berselang lama, Arya datang. Rahmi tak mau melihatnya intens, nanti dikira masih menyimpan rasa cinta. Setelah Arya duduk berhadapan dengannya, Rahmi memanggil pelayan untuk memesan minuman.


"Apa yang ingin Anda sampaikan?" tanya Rahmi tegas. Pandangannya angkuh, tak mau terlihat lemah di depan Arya.


"Aku...." sedangkan Arya tak bisa bicara tenang. Ia mengalami degup jantung luar biasa Seorang dokter dan pengusaha sukses di Australia ini tak bisa berkutik di depan Rahmi.


"Aku.."


Rahmi tahu ada rasa tidak nyaman pada diri Arya, tapi ia tidak mau menenangkannya. Bagi Rahmi kalau Arya berani menampakkan diri tentu harus menghadapi Rahmi juga.


"Kalau Anda tak punya keberanian untuk menemui saya, lebih baik saya pulang," Rahmi tak mau terlibat lebih dalam lagi dengan laki-laki ini. Ia mau mengajak bicara keluar agar pertemuan ini tertutup dari tetangga yang julid. Masih sadar kalau dirinya janda. Tak mau nama baiknya rusak bahkan menjalar ke nama baik Sha nantinya.


"Baiklah, apa yang ingin Anda sampaikan!"


Arya menghela nafas berat, lalu menatap lekar wajah cantik Rahmi. "Maaf. Aku minta maaf."


Keduanya terdiam kemudian, dua hati yang dulu merasakan cinta kini merasak sesak saat permintaan maaf itu terlontar. Rahmi sekuat tenaga menahan tangis, kilasan masa lalu, beratnya menjalani hidup. Putus asanya hingga melahirkan dan membesarkan anal seorang diri hanya dibalas dengan kata maaf.


"Lalu?" sungguh Rahmi berbicara sangat tegas dan angkuh. Benar-benar membentengi diri gar tidak kelepasan. Sebagai perempuan ingin juga mengomel depan umum, bayangkan saya hampir 25 tahun pergi, tak ada kabar dan sekali bertemu hanya minta maaf. Enak dong ya.


"Maaf sudah meninggalkan mu begitu saja. Bahkan tak pernah memberi kabar padamu, sungguh selama ini aku hidup dalam penyesalan."


Rahmi diam saja, masih menunggu kelanjutan cerita yang dikarang oleh mantan suaminya itu. Entah memang sesuai kenyataan atau hanya karangan, mengingat banyak kejadian laki-laki meninggalkan seorang istri demi perempuan lain.

__ADS_1


"Aku sudah berumah tangga, memiliki seorang anak perempuan berusia 20 tahun, tapi sungguu Wa, kamu adalah perempuan yang masih aku cinta hingga sekarang. Aku bahkan mengabaikan anak dan istriku."


Rahmi masih diam, ia sudah memprediksi bahwa Arya pasti menikah dengan perempuan lain. Dan apa katanya masih mencintainya hingga sekarang. Kalau masih mencintai kenapa bisa punya anak dengan perempuan lain, meski itu istrinya juga. Rahmi ingin senyum mengecek akan cerita Arya, tapi dibiarkan saja.


"Kamu tahu alasanku meninggalkanmu."


Rahmi diam.


"Aku diancam oleh papa dan mama. Beliau tahu kalau aku sudah menikah dengan kamu, beliau mengancam akan melenyapkan kamu bila aku masih memilih kamu. Sungguh Wa, ini kenyataannya. Saat itu aku ingin egois, aku tetap memilihmu. Tak peduli tak punya harta, tapi aku tahu kalau keinginan papa tak terpenuhi, beliau bisa melakukan apa saja termasuk.." Arya tak mampu meneruskan, terlalu sadis.


"Entah ada alasan apa, hingga aku memutuskan menemui kamu sekarang. Aku ingin meminta maaf, agar hidup tak lagi menyesal. Bisakah aku mendapatkan maaf dari mu, Iswa?" pinta beliau dengan mata merah, Rahmi tahu Arya sedang menahan tangis. Penjelasan yang dilontarkan bagi Rahmi percuma, tidak akan mengembalikan masa lalunya. Memang lebih baik memaafkan agar jalan hidup lebih tenang.


"Saya sudah melupakan apa yang terjadi di masa lalu. Soal memaafkan pun tanpa Anda meminta pun saya sudah memaafkan. Saya bisa hidup dengan baik pun karena saya sudah melepas segala yang terjadi di masa lalu. Saya mengharap kali ini pertemuan terakhir. Saya tidak minta apa-apa, kalaupun rumah yang saat ini saya tempati harus dikembalikan maka akan saya kembalikan begitu juga uang yang sudah Anda tinggalkan juga." Rahmi berbicara sangat formal, dan kaku. Menunjukkan betapa asingnya hubungan mereka.


"Tidak aku tidak akan mengambilnya," jawab Arya cepat dan tegas.


Rahmi pun berterimakasih. Keduanya terdiam lagi. "Adakah yang ingin kamu sampaikan?"


Rahmi ingat, Arya tentu tidak tahu keberadaan Sha. Bahkan saat di rumah tadi Sha sudah berangkat kerja. "Aku hanya mau bilang, saat Anda pergi. Saya sedang mengandung. Dia perempuan, sekarang berusia 24 tahun. Anda kalau mau bertemu dengannya saya tidak melarang, dan mohon berkenan juga menjadi wali nikah suatu hari nanti."


Arya langsung mengangguk, dengan wajah memerah dan air mata menetes begitu saja. Rahmi melihatnya. "Kapan saya boleh bertemu?"


"Jangan dalam waktu dekat. Biarkan saya berbicara dulu dengannya, karena tidak mudah memberitahukan soal ayah untuknya."


Arya mengangguk paham. "Aku mengerti. Ini kartu namaku kalau dia sudah bersiap bertemu. Kalau boleh tahu dia namanya?"


"Lethisa Izzatunnisa," jawab Rahmi tegas.

__ADS_1


__ADS_2