JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
VIRAL


__ADS_3

Sha lo gak pa-pa? Tanya Mita dengan mengirim pesan pada Sha pagi tadi. Sha hanya menghela nafas pelan. Zaman sekarang, semua kejadian sangat mudah didokumentasikan dan disebar. Selepas shubuh, Sha hanya termenung di atas ranjang. Video pertengkarannya sudah beredar. Teman kantor, teman SMA bahkan Arsyad pun menghubungi untuk konfirmasi kebenaran. Sungguh pagi yang menyebalkan.


Kondisi hati di pagi hari perlu dijaga agar menjalani aktivitas penuh semangat dan vibesnya selalu positif. Tapi pagi ini, Sha sudah badmood. Ia bisa membayangkan kondisi kantor. Orang kantor yang tidak suka akan semakin nyinyir. Sha belum siap mental untuk itu.


Syad, gue izin gak masuk kantor ya. Maaf harus cuti dadakan.


Sha akhirnya izin ke Arsyad, dia juga konfirmasi cuti ke Pak Danu. Berniat seharian ini dia di rumah dan tak pegang ponsel. Sungguh ia malas meladeni orang yang tanya akan pertengkaran itu.


"Gak kerja?" tanya ibu sembari menyembulkan kepala beliau.


Sha menggeleng. "Malas akh, lagi jadi artis."


Ibu tersenyum, "Iya, jadi artis dadakan nih."


Sha menoleh pada sang ibu, "Ibu tahu?" tanya Sha memastikan dari mana ibu tahu, sepagi ini. Apa mungkin para pelanggan warung. "Dari mana?"


"Marni lah," ujar beliau sembari membuka korden kamar Sha..


"Ibu jualan?"


"Jualan lah, emang kenapa harus gak jualan."

__ADS_1


"Pasti ibu nanti ditanya-tanya soal pertengkaran itu, apalagi kalau ada tetangga julid."


Bu Rahmi hanya tersenyum, "Bukannya kita sejuk dulu sudah dijulidin orang ya?"


Sha menghela nafas, "Iya sih. Cuma Sha sekarang jadi insecure. Apa kata orang kita dianggap pelakor tapi masih berani melawan, bahkan melempar istri sah dengan kotak tisu.


"Lah emang kamu pelakor?"


"Enggak lah!"


"Lah makanya. Kita bukan pelakor. Gak perlu takut, hadapi. Ditanya ya diwajab. Kadang kita perlu punya muka tembok."


"Emak gue sadisssss," Sha tertawa mendengar prinsip sang ibu. Mungkin beliau sudah kebal dijulidin tetangga sejak dulu. Malah dulu juga dianggap istri simpanan yang ditinggal suaminya, dikira suaminya sudah tobat dan kembali ke istri pertama. Begitulah para penggosip, mereka berbicara sesuai dengan pemikirannya tanpa mengetahui kebenarannya. Parahnya ditambahi dengan kabar yang belum tentu benar.


"Ya, siap."


Oke, Sha akan membantu sang ibu di warung. Setidaknya ia belajar menanggapi orang yang bertanya peristiwa itu sebelum menghadapi orang kantor.


Benar saja, saat ikut membungkus pesanan nasi. Ada salah satu tetangga yang mengusik kehadiran Sha. Sialnya beliau membungkus banyak nasi untuk dibawa ke tempat kerjanya. "Eh...Mbak Sha. Saya harap bukan pelakor beneran ya, gak cocok loh," ujarnya dengan nada sinis.


"Menurut ibu, yang cocok jadi pelakor bagaimana?" balas Sha dengan tersenyum sinis. Si tetangga pun langsung kincep, dan fokus pada kepiawaian Sha membungkus nasi.

__ADS_1


"Jadi pegawai kantor juga bisa bungkus nasi ya, Mbak!" tambah si tetangga itu lagi. Entah apa maksudnya, tapi kalau sejak awal sudah nyinyir pasti berlanjut nyinyir.


"Iya, Bu. Alhamdulillah, multitalent kan saya," sindir Sha penuh penekanan. Ia terus saja membalas ucapan tetangga itu, meski sang ibu beberapa kali menyenggol lengan Sha, kode untuk diam.


"Pantas saja, bikin mantan susah move on."


"Yanh penting tidak membalas perhatian mantan ya, Bu!" kembali Sha menjawab sindiran sang tetangga. Lagi-lagi tetangga kincep.


"Lagian Mbak Sha cantik lo, Bu Anggit. Wajar banget mantan susah move on, baik lagi. Makanya gak membalas mantannya. Berapa Bu Rahmi?" ujar Bu Karmi yang pesanannya sudah siap.


"25 ribu, Bu!" sahut Bu Rahmi sembari tersenyum.


"Emang ya, sekarang zamannya orang salah banyak yang bela, heran deh. Nih Bu Rahmi," ujar Bu Anggit sembari meletakkan dua lembar uang merah, dan langsung mengambil sekresek bungkusan nasi.


"Bu.....kembaliannya!"


"Buat Bu Rahmi aja beli kaca!" teriaknya kesal.


Sedangkan Bu Rahmi dan Sha tertawa melihat tingkah tetangganya yang kebakaran jenggot.


"Anak ibu pintar, kalau disakiti lawan," ujar ibu sembari memeluk sang putri.

__ADS_1


"Beres," balas Sha pada sang ibu. Ternyata rehat sehari membuat Sha punya energi positif untuk menghadapi kejulidan orang kantor besok.


__ADS_2