JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
TANDA


__ADS_3

Sejak pertemuan dengan Irsyad, Arsyad mendadak diam. Sha tahu perubahaan mood sang suami karena apa. Ia pun meyakinkan bahwa dirinya tak akan pernah mau kembali dengan Irsyad apalagi dirinya sudah punya Arsyad, tapi tetap saja laki-laki itu sedang menahan kekesalannya.


"Bi, udah dong," bujuk Sha sebelum masuk kamar rawat sang ibu.


Arsyad menghela nafas berat, "Aku percaya sama kamu, tapi tidak dengan Irsyad. Kamu masih ingatkan ancaman dia ketika kamu didekati cowok lain saat SMA."


Sha mematung, lupa. Pikiran buruk tiba-tiba terlintas bagaimana kalau Irsyad nekat. "Aku khawatir sayang, apa pindah rumah sakit aja?" tawar Arsyad. Sha bisa melihat betapa cemasnya sang suami.


Sha menggeleng, "Palingan ibu besok sudah pulang, Bi. Tadi Mbak Marni bilang kondisi ibu sangat bagus, makan beliau juga habis."


"Kalau belum, aku kasih pengawal ya di depan?"


Sha tertawa sambil menepuk lengan Arsyad, "Berasa tuan putri tau, gak usah beneran."


Arsyad menggeleng, "Aku khawatir. Aku juga gak bisa awasin kamu di sini, besok aku pasti sibuk karena udah bolos hari ini."


Sha pun mengangguk, tak mau berdebat lagi. Mungkin dengan menuruti perkataan suami, ia selalu dalam lindungan Allah, aamiin.


"Udah sekarang jangan kesal begitu, nanti ibu curiga kalau kita gagal malam pertama loh," bisik Sha yang berhasil membuat senyum tipis Arsyad muncul. Tak disangka pipi laki-laki ganteng itu bersemu merah. Dengan langkah pasti ia merangkul pundak sang istri dan langsung mengetuk pintu kamar sang ibu.


Mbak Marni membuka dengan semangat, "Ecie....pengantin baru. Udah gol kayaknya ya, lama banget dirumah," sindir Mbak Marni, Sha langsung mencubit lengan ART nya itu sambil ternyum malu. Sedangkan Arsyad hanya memasang wajah datar.


"Ibuuuuu!" panggil Sha dengan manja langsung memeluk sang ibu. Wajah beliau memang terlihat lebih cerah, lebih sehat. Mungkin benar apa kata Arsyad dulu, kebahagian ibu adalah melihat Sha menikah.


"Mbak Sha habis diapain Mas Arysad, kok bahagia begitu!" ledek Mbak Marni, yang langsung ditatap Sha sinis, sedangkan Arsyad hanya tersenyum canggung sembari mengusap tengkuknya.


"Kamu Mar, kayak gak pernah pengantin baru aja!" sahut ibu dengan senyum merekah. Sha hanya cemberut, sedangkan Arsyad tak berani menatap perempuan di kamar ini, pura-pura sibuk main ponsel.


Setelah situasi saling ledek, Mbak Marni pamit pulang. Ibu tampak bercerita dengan Arsyad, Sha yang merasa badannya remuk merebahkan diri di sofa.


"Nak Arsyad, maaf kalau ibu terlalu cepat meminta kalian menikah. Ibu tahu kalau kamu menyukai Sha, karena tiap hari Sha cerita tentang kamu, dan beberapa kali ibu memdengar kamu dan Sha telpon atau video call."

__ADS_1


Arsyad mengangguk, "Gak pa-pa, Bu. Arsyad malah bersyukur disuruh nikah cepat. Karena Sha sulit ditaklukkan."


Ibu tertawa, lalu menepuk pundak sang menantu. "Dia begitu karena trauma sama pria. Ayahnya maupun Irsyad."


Arsyad mengangguk, ia sangat paham akan keadaan hati Sha. "Tapi ibu lihat setelah dia menikah sama kamu lebih bahagia, lebih kelihatan manja!" Arsyad mengangguk, meski baru sehari tapi ia bisa merasakan perbedaan sikap Sha.


"Ibu minta tolong, Syad. Jaga hati Sha, jangan sakiti dia. Mungkin terdengar khayal, namanya rumah tangga pasti ada masalah, tapi ibu minta tolong jangan pernah tinggalkan Sha, ya. Ibu sudah sangat sakit Syad, gak tau sampai kapan ibu bisa menemani Sha."


Deg


Arsyad kaget dengan kalimat terakhir ibu, ia melirik Sha tapi sang istri begitu pulas tidurnya. "Bu..ibu pasti sembuh. Ibu masih kuat, Arsyad janji bakal kasih ibu cucu yang lucu dan menggemaskan," Arsyad mencoba memberikan pikiran positif agar beliau tak ada beban pikiran.


"Aamiin!"


"Tadi ayah Sha kemari!"


Arsyad kembali mendengarkan dengan seksama. "Dia memberikan asetnya untuk Sha, coba buka laci itu, Syad!" pinta ibu sambil menunjuk laci di samping bankar. Arsyad pun membukanya, terdapat map hitam. Ia mengambil dan memberikannya pada sang mertua.


"Lalu?"


"Simpanlah. Seandainya ibu berpulang. Jaga ini untuk Sha, ibu tidak bisa meninggalkan apa-apa untuk Sha."


"InsyaAllah, Bu." Arsyad sudah tidak bisa menjawab apa-apa, meski tanpa pemberian ayah Sha, dirinya sebagai suami pun bisa menjamin kehidupan Sha. Nasehat-nasehat ibu tentang Sha terus saja dilontarkan, firasat Arsyad sudah tidak enak.


*


*


*


Tepat jam 9 malam, Sha menemani sang ibu melihat TV, bahkan ia naik ke bankar sang ibu. Arsyad pun sedang bicara dengan Danu di sofa. Ia memeluk erat sang ibu.

__ADS_1


"Udah punya suami kamu itu manja banget Sha?"


"Meski punya suami, Sha tetap anak ibu loh!" balas Sha sembari mengeratkan pelukannya pada sang ibu.


"Sha, kalau mama berpulang..."


"Ibu ikut aku aja, insyaAllah Arsyad gak marah kok. Toh rumah itu punya tuan mantan suami kan, sekalian aja dikembalikan. Biar beliau tidak punya alasan untuk mengunjungi kita." Sha tak paham dengan maksud berpulang.


"Kamu masih membenci beliau, Sha. Beliau sudah menjadi wali kamu loh, belum memaafkan?"


Sha bangun dan menatap ibunya, "Bahkan Sha sudah melupakan siapa beliau dalam hidup Sha. Dalam hidup Sha sekarang cuma ada ibu dan Arsyad, serta mertua Sha. Sha tidak mau punya hidup yang terlalu rumit."


"Gak pa-pa kalau kamu punya pikiran seperti itu, tapi suatu saat nanti ibu harap kamu memberikan maaf kepada beliau."


Sha hanya diam, tak mau menimpali ucapan ibu. Yang jelas sekarang Sha tak mau berhubungan dengan lelaki dari masa lalu sang ibu.


"Bu.." sapa Danu, sepertinya ia ingin pamit. Sha turun dari bankar. Berdiri di samping Arsyad. Membiarkan Pak Danu berpamitan pada ibu. Sepasang pengantin itu pun mengantarkan Danu hingga di luar kamar.


"Besok masuk ya Pak Arsyad, meski gak ada sekertaris cantik!" ledek Pak Danu sembari tersenyum sinis.


"Cantik-cantik, istri orang gak usah dipuji!" balas Arsyad ketus.


"Posesif banget dah suami kamu, Sha!"


"Tau, nih!" ujar Sha sembari menyenggol perut Arsyad.


Tak berselang lama, keduanya sudah siap untuk tidur. Arsyad beberapa kali melihat bankar ibu, beliau agak gusar. Kakinya beberapa kali bergerak kasar. "Sayang, ibu!" ucap Arsyad saat Sha baru keluar kamar mandi. Keduanya mendekat. Kaki ibu dingin, Sha pun menurunkan suhu AC. Agak cemas, begitupun dengan Arsyad.


"Sha," panggil ibu lemah, tangan beliau gemetar. Arsyad menaikkan bankar agar sang mertua bisa setengah duduk, siapa tahu lebih nyaman. "Ibu pengen muntah," ucap beliau.


Arsyad langsung gelagapan, ia melihat kresek minimarket langsung saja diambil, benar saja baru dibuka ibu langsung muntah.

__ADS_1


Sha yang memijat tengkuk sang ibu agak kaget dengan muntahan sang ibu, tidak nasi atau makanan yang tadi siang dimakan, tapi hitam seperti daun seledri. Sepasang pengantin baru itu saling pandang, Arsyad segera memencet tombol darurat dengan perasaan gusar.


__ADS_2