
"Aku mau ngomong sesuatu, tapi kamu gak boleh marah. Gak boleh overthinking sama aku. Dengarkan dulu tanpa menyela," pinta Arsyad sedikit takut.
Sha langsung menatap mata sang suami, diam sebentar lalu terbersit poligami. "Kamu mau poligami?" tebak Sha to the point. Arsyad melongo.
"Kok kamu mikirnya begitu?" tanya Arsyad.
"Ya karena kamu terlalu maniak begituan, siapa tahu kamu kurang puas sama aku!" ketus Sha dengan jutek. Arsyad tertawa ngakak. Hingga jakunnya naik turun. Kening Sha ditonyor pelan.
"Punya pikiran kok gitu, menunggu cinta dibalas aja lama banget sampai takut jamuran. Eh kok dibalas poligami, gak bakal sayang!" tegas Arsyad sekali lagi menyakinkan.
"Beneran?" tanya Sha memastikan untuk kesekian kalinya.
Arsyad tak menjawab, hanya sebuah ciuman mesra sebagai jawabannya. "Udah, segera keluar sebelum aku makan!"
Sha cemberut, main usir. Tapi benar juga sih, bahaya kalau mereka sampai melakukan hal itu di kantor. Bisa terjadi gosip yang semakin tak enak didengar. Sha pun meneliti wajah sang suami, siapa tahu ada lipstik yang menempel bisa gawat kalau dilihat karyawan selain anak keuangan.
Sha kembali bekerja, sangat profesional begitupun dengan Arsyad yang tak mengganggu Sha sama sekali. Hingga jam dinding menunjuk angka 4, saatnya pulang. Sha pun sekarang tak bisa begitu saja pulang sendiri, harus menunggu sang suami yang sering pulang lewat maghrib.
"Ayo Sayang!" ucap Arsyad keceplosan. Sha langsung mendelik, untung tidak ada OB yang lewat.
"Panggilannya dikondisikan dong," protes Sha yang segera memasukkan ponsel ke dalam tas.
"Gak pa-pa, anggap aja terapi buat mereka. Diawali dengan panggilan sayang."
Sha hanya memutar bola matanya malas, Arsyad bisa santai tapi tidak bagi Sha. Tak tahu saja mereka bahwa Arsyad dulu yang suka dengannya, tapi gosip yang beredar Sha lah yang menggoda Arsyad. Menyebalkan.
Ting
Lift sudah sampai di loby, mobil Arsyad juga sudah samapi di depan loby. Sha berjalan beriringan dengan pandangan lurus tanpa ada rangkulan mesra. Arsyad tahu batasan privasi yang dilakukan di tempat umum.
*Sha kok kelihatan nyaman banget dengan Pak Ganteng.
Sepertinya mereka punya hubungan lebih dari bos dan sekertaris deh.
Halah palingan Sha cuma pelampiasan doang, atau parahnya sebagai simpanan berkedok sekertaris*.
__ADS_1
Berbagai komentar mengiri Sha masuk mobil Arsyad, dan Sha tak peduli. Meski tak mendengar jelas tapi ia tahu dari tatapan sinis mereka.
"Benar apa kata, Rafly. Mereka jahat!"
Arsyad menoleh pada sang istri. "Mereka siapa?"
"Karyawan kamu, penggemar kamu, yang benci banget sama aku!"
"Biasalah orang iri, pasti berpikir buruk terus sama kamu!"
"Iya sih, aku juga cuek. Tapi kalau udah nuduh yang enggak-enggak, nyesek tau!"
"Ya udah apa diumumkan saja pernikahan kita?" tawar Arsyad yang tidak masalah bila mengadakan resepsi dalam waktu dekat. Tinggal tunjuk WO beres.
"Terserah kamu, yang sederhana saja. Aku gak mau mewah."
"Oke nanti kita bicarakan sama mama!" Sha mengangguk. Selama perjalanan Sha bermain ponsel sebentar sembari sesekali menimpali ucapan Arsyad. Begitu sampai rumah, ternyata sepi. Keduanya kaget dong, karena setahu Arsyad, Akbar pulang setelah makan malam. Nenek juga berada di rumah, harusnya terdengar ocehan beliau.
"Kemana orang rumah, Mbak?" tanya Sha pada salah satu ART.
"Loh kok gak ada yang kabarin kita?" protes Sha tak bisa menahan kecewanya.
"Lagi riweh mungkin. Habis maghrib kita ke sana!" tegas Arsyad yang mengajak Sha naik.
Sha diam, ingin protes sebenarnya. "Kenapa harus menunggu maghrib sih?"
Arsyad tersenyum, "Menjaga atau menjenguk orang sakit itu butuh tenaga dan badan yang fit. Kita baru saja sampai rumah, capek sepulang kerja. Istirahatkan dulu badan kita, setidaknya tidak dzolim lah sama tubuh. Lagian Mika sudah banyak yang merawat, santai saja.
"Kasihan Mbak Mutia bagaimana dengan Rafly dan adiknya."
"Ada baby sitter mereka sayang, udah ah. Ayo mandi."
"Kamu duluan!" titah Sha dan diangguki Arsyad.
Setelah keduanya beres membersihkan diri, Sha menagih janji Arsyad di kantor. Sang suami agak sedikit tegang, namun ia akan menjelaskan detail.
__ADS_1
"Ini!" ucap Arsyad mengeluarkan map dari almarhumah sang ibu mertua. Sha bingung, map apa ini. Apalagi sang ibu diketahui tidak pernah berkutat dengan map-map penting.
"Apa ini?"
"Buka dan baca aja," ujar Arsyad membiarkan Sha punya pikiran sendiri. Memang dia sebagai suami tapi tidak melulu mengekang pikiran sang istri. Ia membebaskan Sha untuk berpendapat, agar dalam menjalani rumah tangga lancar komunikasinya.
"Ini...?" tanya Sha menatap Arsyad.
"Harta untuk kamu, dari ayah kamu."
"Kok ada di kamu? Kapan kamu menemui dia?"
"Bukan aku yang menemui beliau, tapi ini pesan dari ibu!"
"Maksudnya ibu?"
Arsyad menghela nafas sebentar lalu menjelaskan kronologi map itu berada di tangannya. "Aku gak bisa menyembunyikannya sama kamu, meski ibu dan ayah menginginkan aku yang pegang. Karena beliau yakin kamu menolaknya."
Sha diam.
"Jangan marah, jangan overthinking sama aku. Sumpah aku cuma menerima amanah beliau. Karena aku sendiri gak mungkin bilang dengan detail bahwa aku pun sanggup kasih harta ke kamu. Hanya saja aku tak mau dianggap sombong oleh mereka."
Sha masih diam. "Aku juga gak mau menerima, aku juga yakin kalau kamu sanggup memberikan apapun yang aku minta, jadi lebih baik..."
"Lebih baik apa?"
"Dikembalikan ke beliau!"
Oke Arsyad mendengar penolakan Sha langsung, ia hanya bisa mengangguk, dan menawarkan akan mengantar atau menyerahkan map ini pada beliau.
"Memegang map ini, rasanya campur aduk banget. Di satu sisi tetap patuh pada permintaan mertua, tapi satu sisi lain aku gak mau meyembunyikan apapun ke kamu. Khawatir ada pemikiran, aku memanfaatkan kamu. Bisa disebut Handoko aku nanti."
Sha mengerutkan dahi, "Handoko apaan?"
Arsyad tersenyum jahil, ia pun membisikkan kata jorok yang membuat Sha merona pipinya.
__ADS_1