JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
HOTEL


__ADS_3

Sha diantar Mita ke rumah, bukan ke kantor karena waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Arsyad menyambut kedatangan sang istri dengan menggelengkan kepala, ditelpon berkali-kali gak diangkat ternyata belanja super heboh.


"Aku pakai atmku sendiri loh, Bi!" ucap Sha dengan senyum sok manis. Arsyad sebenarnya bukan kesal karena belanjaan Sha, melainkan karena telpon tak diangkat, pulang malam lagi.


"Masa' iya pak bos perhitungan istrinya belanja," ceplos Mita yang membuat Arsyad ingin menggetok kepalanya.


"Udah puas kan sama istri gue, oke makasih udah diantar!" ucap Arsyad yang langsung merangkul pundak Sha, sengaja berdiri di depan pintu agar Mita tak masuk.


"Ya Allah pelitnya, ada tamu malah gak disuruh masuk. Untung istri sahabat gue, kalau enggak....ya udah gue balik. Assalamualaikum," ucap Mita langsung berbalik arah, sedangkan Raffy sempat bersalaman dengan Arsyad.


Sepeninggal Mita, Arsyad membawa paper bag sang istri, masuk dengan merangkul Sha. "Sengaja banget gak angkat telpon, mau jalan bareng sama Mita aja nih?" masih saja Arsyad protes. Sha hanya tertawa.


"Pengen jalan-jalan aja Bi, tapi kamu tahukan kalau kita sudah jalan dunia serasa ngontrak. Bahkan Raffy saja duduk di cafe sambil ngurusin kerjaannya."


"Ouh ya, nenek mana? Lanjut Sha melihat kondisi ruang keluarga yang sepi, padahal biasanya jam segini nenek masih di ruang TV.


"Lagi keluar sama mama, habis maghrib tadi!"


*


*

__ADS_1


*


"Jadi kamu mau jahit kebaya?" tanya mama antusias saat mereka sedang sarapan. Sha sempat tanya pada Arsyad di mana penjahit yang bagus untuk kebaya nikahan, dan disarankan tanya ke mama saja. Mana tahu Arsyad begituan.


"Iya, Ma. Buat seragam pengiring nikahan teman Sha."


"Ouh bridesmaid?" sahut nenek dan diangguki Sha.


"Oke nanti mama jemput kamu di kantor, mama ajak ke butik. Dijamin bagus dan kamu bakalan cantik," ucap mama dengan heboh. Apalagi nikahan Arsyad belum dirayakan, boleh lah sekalian nanti konsultasi.


Papa dan Arsyad diam, biarlah urusan wanita tak usah ikut campur, malah nanti salah dalam menanggapi urusannya panjang.


"Enggak," jawab Sha yang memang kain brokatnya tidak dipakai kebaya, tapi dimodel long dress ala seragam bridesmad zaman now.


"Nanti kalau mama kasih saran yang aneh-aneh jangan diterima, bilang aja gak boleh Arsyad."


Sha menghela nafas pendek, "Kamu mah gak tahu posisiku sebagai anak mantu. Mana berani aku bilang gitu, Bi!"


"Ck ..mama tuh kalau gak ditolak, main maksa aja. Aku gak mau ya baju bridesmaid kamu sexy, ini di bali loh pasti undangannya banyak."


"Beres," jawab Sha pendek. Toh Sha sendiri juga gak suka baju terlalu press body. Tubuhnya kurus langsing sangat tidak enak dipandang kalau terlalu press.

__ADS_1


"Kamu boleh pakai baju **** cuma sama aku," lanjut Arsyad dengan senyum gak jelas. Sha yang sedang membuka ponsel menoleh pada sang suami sekilas. "Kok?"


"Yang mampir ke hotel bentar, tiba-tibak sesek nih!" Sha melongo, dan benar saja sang suami membelokkan mobilnya ke hotel, padahal jarak ke kantor tinggal 500 meter. Sha pun diminta segera turun. Mobil diserahkan pada petugas hotel, sedangkan Arsyad memesan pada resepsionis. Sha masih belum bisa mikir dengan jalan pikiran sang suami, bisa-bisanya travel otak di saat hendak bekerja.


"Kamu mikir apa sih, Bi. Kok bisa ke sini loh?" protes Sha saat sudah di dalam hotel. Sang suami juga sudah melepas jasnya. Bahkan kemejanya pun terlepas begitu saja.


"Tau gini gak usah berangkat kerja dulu, di rumah aja lebih nyaman. Kalau kayak gini baju kita kuaut, rambut juga basah...Aahh," Sha tak jadi melanjutkan omelannya, Arsyad tiba-tiba menyesap bibirnya begitu cepat, jangan lupa rangkulan di pinggang membuat Sha tak bisa berkutik.


Sha pun menatap mata sang suami yang berkabut gairah, meski agak konyol tapi Sha sangat bahagia, karena Arsyad terlihat begitu menginkannya. Keduanya pun melakukan ibadah halal dengan sangat berkualitas. Sha sampai memejamkan mata saat cairan hangat memasuki tubuhnya.


"I love you Sayang, sangat," ucap Arsyad lalu mencium kening Sha.


"Love you too, Bi!" Sha pun membalas ungkapan cinta itu dengan senyum bahagia, ia kemudian mencium bibir Arsyad. Menangkup pipi sang suami.


"Terus sama aku kayak gini," ucap Sha lalu mencium kembali bibir Arsyad, sedikit menuntut dan Arsyad pun membalas. Mengangkat tubuh polos Sha ke atas tubuh Arsyad, mereka masih berciuman. Bagian bawah Arsyad sudah tidak bisa dikondisikan, Sha melepas pagutan bibirnya.


"Bangun," lirihnya sembari cemberut. Arsyad tertawa.


"Lanjut yah," bisik Arsyad sensual.


Sha mau menggeleng, namun ternyata gerakan tubuh bawah Arsyad lebih cepat. Alhasil Sha yang harus memimpin ronde kali ini. Arsyad sangat menikmatinya, begitu juga Sha yang bergerak liar. Mereka tak sadar saja, sang mama menelpon keduanya hampir tiga kali.

__ADS_1


__ADS_2