
"Kok bengong?" tegur Arsyad saat Sha tak menyahut sapaannya.
"Gue kehipnotis!" jawab Sha dengan jujur. Seperti inilah Sha ceplas ceplos dengan Arsyad.
"Kehipnotis kegantengan gue?" goda Arsyad sok percaya diri. Palingan Sha juga bakal ngomong yang narsis lah, yang sok kecakepan lah, dan sok sok yang lain.
"Iya!" busyet Arsyad langsung mendelik, sebuah jawaban yang tak pernah disangka. Dipuji Sha bro, moment langka.
"Eh biasa aja dong ekspresinya, kayak gak pernah dipuji ganteng aja. Perasaan ciwi-ciwi kantor pada memuja lo deh," sambung Sha dengan cerewet yang berhasil membuat Arsyad sebal. Sudah kadung membumbung tinggi eh ditarik ke bawah, nyungsep deh.
"Syad," panggil Sha.
"Apaan. Kamu tumben loh, ajak video call. Sumpah geer."
"Lagak lo, Syad. Kayak gak pernah video call sama cewek."
"Ck...ya gak juga. Emang gue gak laku banget," protes Arsyad tak terima. Meski dari dulu memendam rasa pada Sha tapi dia juga punya teman cewek, ya beberapa kali lah video call, chatting, tapi sebatas pertemanan saja. Karena ia sudah membentengi diri bahwa ada perempuan yang ia tunggu.
"Cie...yang pernah laku," goda Sha sembari keluar kamar. Ia mau menunjukkan barang-barang nyasar di rumahnya.
"Sha, emang lo kalau di rumah kebiasana pakai baju begitu?" tanya Arsyad agak risih ketika melihat baju Sha yang hanya lengan pendek dan celana pendek di atas lutut.
"Eh lo perhatiin gue, Syad!" ucapnya kesal. Ya Sha pikir Arsyad fokus ke obrolan eh malah konsen juga pada penampilannya.
"Eh Atun....gue punya mata kali, apalagi ini video call pertama kita. Wajar dong gue perhatiin sampai detail. Eh gue gak suka ya lo pakai baju begini, meski gue calon suami lo tapi ingat masih calon, belum boleh lihat paha lo!" omel Arsyad dengan ketus.
__ADS_1
"Iya, iya duh bawel."
"Gue bawel karena gue peduli," lanjutnya masih sewot. "Jangan bilang selama ini kalau lo sama Irsyad juga pakaian kayak gini."
Sha terdiam, ya dia memang sering berpakaian seperti ini kala video call bersama Irsyad, tapi sang mantan tak pernah menegurnya. So...Sha anggap pakai begini ya biasa aja. Ternyata berbeda dengan pemikiran Arsyad. "Diamnya lo udah beri jawaban atas pertanyaan gue. Sekarang lo mau apa video call."
Sha yang berniat mengomel karena belanjaan nyasar kini terdiam canggung. "Gue mau bilang belanjaan nyokap lo nyasar ke rumah gue," ujar Sha kalem, ia pun menunjukkan ponselnya pada paper bag di sudut ruang tamu.
"Tanya aja ke mama," jawabnya masih ketus.
"Ah lo Syad, masa' gue tiba-tiba bilang Nyonya belanjaan Anda kok di rumah saya, kan gak lucu Syad."
"Bentar deh," jawabnya malas. Sha tahu Arsyad masih sewot pembahasan baju, apalagi menyangkut nama Irsyad. So ...dia menunggu saja apa yang akan Arsyad lakukan.
"Gimana Sayang?" tanya beliau lagi. Tatapannya penuh harap agar Sha suka dengan kejutannya.
"Maaf, Nyonya..."
"Kok panggil nyonya lagi, Sha. Tadi di mall udah pintar panggil mama."
"Eh...Maaf," ucap Sha yang lidahnya tentu belum terbiasa akan panggilan mama.
"Gak usah dipaksa kalau Sha gak mau panggil mama, ingat Ma, Arsyad ditolak sama Sha," sindir Arsyad yang hanya terdengar suaranya saja. Mungkin dia sedang duduk di samping sang mama sambil menunggu ponsel.
Pukkk
__ADS_1
Mama memukul pahanya, "Jutek amat. Kalau mau Sha luluh tuh bicara baik-baik, gak boleh jutek gitu. Nyelekit tau!"
Sha masih diam, hanya menjadi pendengar ocehan mama Arsyad pada sang putra. "Ya emang kenyataannya gitu. Dia video call juga mau membahas pemberian mama, dia gak suka mau kembalikan belanjaannya tapi bingung ngomong sama mama."
Semakin sewot saja Arsyad, dan mama mendelik mendengar jawaban Arsyad, sepertinya ia sedang ada masalah dengan Sha. "Kok kamu ngomongnya gitu sih, Syad!" lirih mama yang khawatir Sha salah paham.
"Kalau sudah selesai ngobrolnya ponselnya taruh di kamar aja," ucap Arsyad seraya beranjak meninggalkan sang mama. Sha melihat bayangan Arsyad yang pergi, dan ia hanya bisa menghela nafas. Hanya masalah sepele kenapa dia semarah itu sih, batin Sha tak suka.
"Sha, maaf ya? Mama gak tahu ada masalah apa di antara kalian, tapi mama harap kamu gak diambil hati soal ucapan Arsyad barusan."
Sha mengangguk, "Iya, Nyonya!"
"Dan soal belanjaan itu terima saja, Nak. Anggap saja ucapan terimakasih mama dan nenek sudah kamu temani. Sekaligus ucapan terimakasih sudah menjadikan Arsyad tidak mengenal perempuan lain selain kamu, sehingga dia terjaga dari pergaulan bebas. Dan soal kamu menolak Arsyad, mama gak marah sayang. Karena urusan hati juga tidak bisa dipaksa. Jangan merasa gak enak sama kita ya, bersikap apa adanya saja ya."
"Baik nyonya," ucap Sha tak berkutik.
"Oke...selamat istirahat, mama tutup dulu ya. Assalamualaikum," sapa beliau ramah bahkan masih menyebut mama.
"Waalaikumsalam," jawab Sha lirih. Ia masih menatap layar ponselnya, bingung harus bagaimana.
"Galau nih ye," ujar ibu sembari menyenggol lengan Sha yang tampak melamun. "Ibu mantap kalau Arsyad menjadi suami kamu, Sha."
Sontak Sha menoleh ke arah ibu, paham juga kalau obrolan tadi ibu mendengar jelas. Tapi ada alasan apa hingga beliau langsung merestui Arsyad. "Kalau ada laki-laki baik, ingin menyegerakan niat baik untuk menikah, terima lah. Karena ia berniat tulus menjadikan kamu wanita yang mulia, dan terhormat, tidak diajak pacaran gandengan tapi ujungnya tidak dinikahi. Buka hatimu, belajarlah menerima ketulusan Arsyad, karena restu dari ibu sudah menyertai," ucap beliau sembari menepuk pundak Sha. Sedangkan Sha sendiri hanya mematung belum bisa mencerna makna di balik moment singkat ini.
Entahlah.
__ADS_1