JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
TAMU TAK DIKENAL


__ADS_3

Sha menyatakan perang dingin dengan ibu. Ia berangkat pagi sekali, dan hanya salim saja. Ibu ingin bicara tapi Sha masih ngambek. Mbak Marni yang melihatnya pun tahu alasan Sha bersikap jutek.


"Mbak Sha marah ya, Bu?" tanya Marni sembari membawa senampan tempe goreng.


"Iya."


"Wajar sekali, Bu. Kecilnya ditinggal ayah, sekarang main datang seenaknya." Marni ikutan emosi, kalau dia jadi Sha pun akan bersikap sama, menolak keras.


"Kok kamu jadi ikutan emosi?" tanya Bu Rahmi sembari melirik Marni. Sang asisten hanya nyengir.


"Ya bagaimana ya, Bu. Saya kan juga korban ditinggal suami, masih punya amarah dan malas untuk berhubungan lagi. Nah...ibu begitu baik hingga mau memaafkan dan menemuinya."


Bu Rahmi menghela nafas, "Sebenarnya saya juga gak mau bertemu, tapi dia ke sini sendiri. Kamu bayangkan deh bagaimana kalau para tetangga julid tahu bisa-bisa mereka bicara yang enggak-enggak. Makanya saya gak mau bicara di rumah lebih baik di luar saja."


"Lalu nanti pergi lagi?" tebak Marni karena sepertinya urusan keduanya belum clear.


"Iya, aku sudah janji kemarin mau menyerahkan akte kelahiran Sha." Memang Bu Rahmi tidak menutupi apa yang terjadi pada Marni, asisten yang sudah dianggap adik sendiri. Dan Bu Rahmi percaya, lagian ia harus menjelaskan detail tentang maksud mantan suaminya, siapa tahu kalau ada apa-apa, Marni bisa menjadi sumber informasi sekunder.


"Bu...ibu sudah bilang ke Mbak Sha?"


Bu Rahmi menggeleng. "Tadi malam kita diskusi, dia menolak. Malah bertengkar juga. Saya menyetujui karena Sha punya hak untuk mendapatkan harta dari ayahnya. Saya gak tahu kan kapan saya meninggal, sedangkan saya gak bisa kasih apa-apa buat Sha, jadi saya terima pemberian ayah Sha itu."


"Bu...Ibu kan sudah membekali Mbak Sha ilmu dengan menyekolahkan Sha. Mungkin sudah cukup, daripada menerima harta pemberian ayahnya, khawatir ibu dan Mbak Sha dianggap morotin atau gimana sama keluarga ayah Mbak Sha." Beginilah Marni, dia berani bilang untuk kebaikan Sha. Karena bagaimanapun Sha sudah dianggap saudara sendiri.


Bu Rahmi terdiam. Beliau menerima pemberian sang mantan bukan karena gila harta, tapi beliau tidak ingin Sha hidup kesusahan seperti dirinya. Cukup saat masa kecil Sha tidak punya apa-apa tapi tidak untuk masa tuanya. Namun...pemikiran beliau tidak sama dengan Sha. Sang putri kekeh menolak harta sang ayah. Baginya kalau benci orangnya sangat tidak etis menerima hartanya. Benci...benci saja.


Hah memikirkan kondisi anak dan mantan suaminya membuat Bu Rahmi sering pusing. Yah sejak kedatangan suami, beliau mendadak banyak pikiran. Beliau menjadi overthinking terutama menyangkut Sha. Di Dunia ini tidak ada yang lebih penting selain Sha. Oleh sebab itu, sebisa mungkin bertemu dengan sang mantan memang membahas kepentingan Sha.


"Udah jangan bahas Sha lagi, udah banyak yang datang!" ucap Bu Rahmi segera melayani pelanggan warung nasinya.

__ADS_1


*


*


*


Jam 11 siang. Bu Rahmi sudah bersiap untuk keluar dengan membawa map berisi akte kelahiran Sha dan kartu keluarga, sudah difoto kopi sekalian. Berkas itu akan diserahkan pada tuan Arya untuk mengurusi harta untuk Sha. Bu Rahmi sendiri juga tidak tahu harta apa yang akan diberikan pada Sha.


"Udah mau pergi, Bu?" tanya Marni yang masuk dengan tiba-tiba, karena setahu Rahmi, Marni masih menyusun piring di etalase. "Itu..."


"Ada apa?" tanya Bu Rahmi.


"Ada tamu,"


"Tamu siapa?"


Deg


Bu Rahmi yang sedang mengambil kunci motor langsung terpaku. Mungkin ini yang ditakutkan Sha, keluarga sang mantan mulai terlibat. Ia harus menyiapkan mental lagi, entah bagaimana kalau Sha sampai tahu.


"Siang," sapa Bu Rahmi melihat perempuan cantik nan elegan duduk di kursi yang biasa dipakai pelanggan warung. Melihat penampilannya sungguh sangat memukau. Jauh sekali cara berpakaiannya dengan dirinya. Saat ini juga ia mengakui pemikiran sang anak benar. Kalau saja pertemuan dengan Arya tidak berlanjut, tentu perempuan di depannya ini tidak akan muncul.


Tatapan istri Arya sungguh tak enak, seakan menelanjangi Bu Rahmi dan memintanya untuk sadar diri bahwa dirinya berasal dari keluarga tak punya, tidak cocok mendampingi Arya.


"Siang!" jawab istri tuan Arya dengan senyum tipis. "Dengan Iswa?"


Bu Rahmi seketika terdiam, Iswa, panggilan kesayangan dari Arya. "Saya Istri Arya, boleh saya bicara?"


Bu Rahmi mengangguk, lalu mempersilahkan tamunya masuk. Beruntung Mbak Marni datang membawa secangkir teh hangat. "Silahkan diminum, Bu!" ucap Marni ramah. Ia merasakan suasana ketegangan di ruang tamu ini. Lebih baik masuk dan berkutat di dapur saja. Eh bagaimana kalau direkam, sebagai bukti untuk Sha. Haduh....Mbak Marni bingung sendiri.

__ADS_1


Sepeninggal Mbak Marni, istri Arya pun mulai membuka obrolan. "Maaf saya harus ke sini, mungkin sangat mengejutkan bagi Anda. Saya sebenarnya hanya ingin konfirmasi saja, apakah kemarin Anda bersama suami saya?"


Bu Rahmi menelan ludahnya kasar. Di posisi ini ia tersudut, berasa seperti pelakor yang sedang disidang istri sah. "I-Iya benar!" jawab beliau sedikit gugup.


"Boleh saya tahu apa yang diucapkan suami saya?"


"Tuan Arya hanya meminta maaf atas kejadian masa lalu, dan ingin memberikan hak untuk anak saya."


"Dan Anda menerimanya?"


Bu Rahmi mengangguk, ia tak mau menyembunyikan pertemuan dengan Arya karena keluarga dari pihak sang mantan juga harusnya diberitahu, apalagi ini menyangkut pembagian harta lebih baik clear saat ini juga, agar di akhir cerita tak ada yang dirugikan.


"Saya menerima karena saya pikir itu memang hak anak saya!"


Istri Arya tersenyum sinis, "Kalau seandainya Anda diminta memilih harta atau suami saya, apa yang akan Anda pilih?"


Bu Rahmi menatap tajam pada perempuan itu, pertanyaan sensitif seolah menyiratkan posisi Bu Rahmi sebagai pelakor yang hanya mau harta saja. "Saya tidak akan memilih apapun, karena sejak awal saya bertemu Arya hanya menginginkan dia sebagai wali nikah anak saya. Tanyakan saja pada suami Anda, apakah saya meminta harta atau tidak. Tolong jangan berpikir saya sebagai pelakor atau apapun, karena sejatinya saya tidak berniat untuk kembali pada suami Anda. Suami Anda yang sudah dua kali berkunjung ke rumah ini dengan menawarkan pembagian harta untuk anak saya."


"Suami saya memang terlalu cinta dengan Anda, maka apapun caranya dia akan menemui Anda dan kalau bisa mengajak Anda menikah."


Bu Rahmi tersenyum tipis, "Tujuan Anda ke mari sebenarnya untuk apa?"


"Hanya ingin melihat siapa perempuan yang dicintai suami saya hingga 20 tahun lebih."


"Anda sudah melihatnya, silahkan Anda keluar."


"Baik saya akan keluar, tapi saya hanya minta satu hal. Sebagai perempuan tentu Anda punya hati, bagaimana perasaan Anda bila menikah tapi diabaikan oleh suami sendiri. Saya berharap Anda berhenti bertemu dengan suami saya."


"Baik. Anda jangan khawatir, pintu di sana!" ucap Bu Rahmi sembari menunjuk ke arah pintu. Sudah cukup ia berhubungan dengan Arya lagi. Beliau pun memutuskan tak jadi pergi. Meletakkan akte dan kartu keluarga di tempat semula. Memilih hidup hanya dengan Sha itu lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2